Melihat Sibuknya Arus Lalu Lintas di Perlintasan Tanpa Palang Pintu Bulak Kapal Bekasi

  • Oleh : Fahmi

Rabu, 25/Nov/2020 16:04 WIB
Warga berjaga di perlintasan sebidang kereta api saat KRL melintas di Jalan Pahlawan, Bulak Kapal, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (25/11/2020). Warga berjaga di perlintasan sebidang kereta api saat KRL melintas di Jalan Pahlawan, Bulak Kapal, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (25/11/2020).

BEKASI (BeritaTrans.com) - Melihat perlintasan kereta sebidang  tanpa palang pintu, yang ramai dilalui kendaraan di Jalan Pahlawan, Bulak Kapal, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Berlokasi tepat di jalan samping Taman Makam Pahlawan Kota Bekasi, perlintasan ini terbuka dilalui banyak berbagai macam kendaraan yang hendak menuju atau keluar ke jalan tersebut dan selalu berpas-pasan dengan kereta api (KA). Hal itu sangat berbahaya jika tidak ada penjaganya.

Baca Juga:
Asyik, Tanpa Antrean Penumpang KRL di Stasiun Bekasi

BeritaTrans.com dan Aksi.id melihat perlintasan itu memiliki rambu 'hati-hati bahwa perlintasan kereta api yang berbahaya', namun tidak ada palang pintu. Terdapat ada warga yang mengatur atau menyetop kendaraan jika kereta api akan melintas.

Baca Juga:
Motor Jatuh di Rel Tergilas Kereta Lewat, Perempuan Ini Loncat

Adalah Ambon pria yang tengah berjaga siang itu tak hentinya-hentinya memperhatikan ujung rel terjauh. Matanya selalu mengawasi jika rangkaian kereta api akan tiba.

Baca Juga:
Resmi Berlaku, Syarat Naik Kereta Api dengan Tes GeNose Maksimal 3 Hari

Cuma mengenakan topi tikar khas petani dan handuk di lehernya, dia rela berpanas-panasan untuk mengamankan lajunya kereta api dari kendaraan lain.

Tentang cara aksinya, jika keadaan kereta api akan mendekat, Ambon mengatakan dia cuma mengandalkan kejeliannya, "Lihat saja mas, dari jauh, kalau kereta dekat kita setopin dah pada," katanya di lokasi, Rabu (25/11/2020).

Cuma bendera kain berwarna merah dengan tongkot sebagai pegangan. Benda itu yang digunakan Ambon untuk mengisyaratkan dan menyetop laju kendaraan yang melintas.

Warga yang berjaga secara sukarela di perlintasan kereta tak berpalang itu, terkadang berteriak sambil membentangkan bendera merah dan melambaikan tangan untuk menyetop pengendara yang melintas.

Meski berbahaya namun ada saja pengendara motor, mobil atau bahkan pejalan kaki yang membandel yang menghiraukan aksinya.

"Kita paling emosi sama orang yang suka menerobos. Kita kasih tau ke dia, tapi malah galakan dia. Padahal buat dia juga keselamatan," katanya.

Pengguna jalan lain, dimintanya agar mematuhi segala intruksi penjaga palang pintu demi keselamatan bersama.

Tidak hanya sendiri Ambon bekerja bersama beberapa warga lain yang secara bergantian menjaga perlintasan kereta.

Kegiatan mereka tersebut tanpa upah tertentu. Mereka hanya berharap pemberian seiklasnya dari toleransi pengguna jalan lain dan jangan sampai ada kejadian kecelakaan.

Pekerjaan sukarela ini, menurut penjaga pintu lain yang ditemui BeritaTrans.com dan Aksi.id menerangkan bahwa kegiatan ini juga merupakan sebagai sumber pendapatan sehari-harinya dan mampu menafkahi keluarga.

Pemerintah diharapnya lebih memperhatikan aksi mereka yang sangat berjasa untuk mengamankan perjalanan agar tidak terjadi kecelakaan KA. (fahmi)