Pengemudi Bus Double Decker Garuda Mas Cerita Pengalaman jadi Sopir di Papua

  • Oleh : Bondan

Selasa, 12/Janu/2021 06:49 WIB
Darmin (40) pernah bekerja di Nabire, Papua sebagai pengemudi angkot dan truk, nyawa pun hampir melayang. Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id. Darmin (40) pernah bekerja di Nabire, Papua sebagai pengemudi angkot dan truk, nyawa pun hampir melayang. Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Darmin (40), pria asal Purwodadi, Jawa Tengah, sudah belasan tahun merasakan suka duka menjadi pengemudi. Mulai membawa angkutan kota (angkot) dan truk di Nabire, Papua hingga bus antarkota antarpropinsi (AKAP).

"Selama 12 tahun saya jadi pengemudi angkot sama truk di Nabire, Papua. Dulu jadi pengemudi di sana ngga aman, mau itu bawa kendaraan transportasi kecil sampai besar pasti ada saja rintangannya. Harus kuat-kuat lah di sana kalo jadi pengemudi,” tuturnya.

Baca Juga:
Indra Sopiri Bus ANS Jakarta-Padang Banjir Peminat

Dia pun menceritakan, selama bekerja belasan tahun sebagai pengemudi di Nabire, Papua, nyawanya pernah hampir melayang.

“Awal kerja disana jadi pengemudi. Waktu itu bawa truk muatan logistik dicegat sama beberapa orang setempat. Langsung truk kita dihadang, satu orang langsung menghampiri saya dengan membawa senjata tajam (sajam). Posisi ujung sajam waktu itu sudah di pipi saya. Saya gas truk sedikit itu sajam gores pipi. Ini makanya pipi saya goresan karena itu. Akhirnya mau ngga mau saya kasih uang seadanya saja, dari pada nyawa saya melayang,” cerita Darmin kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id di pool bus Garuda Mas, Pulo Gadung, Jakarta Senin (11/1/2021).

Baca Juga:
Pengemudi KYM Trans Jakarta-Surabaya: Penumpang Sepi Tapi Pendapatan Masih Cukup buat Keluarga

Singkat cerita, selama bekerja di Nabire, ia selalu menyisihkan sejumlah uang untuk berjaga-jaga jika kendaraan yang dikemudikannya melintasi jalur yang rawan.

“Kalau mau jalan pasti saya kantongin uang buat jaga. Masing-masing kantong celana saya beda-beda isinya, dari Rp100 ribu sampai Rp400 ribu. Kalau lagi dicegat kasih aja uang yang dikantong sesuai yang dia minta. Kalo ngga gitu nanti uang hasil dari narik angkot atau bawa truk muatan barang, belasan juta bisa melayang. Pernah juga waktu itu saya bawa truk ngga ngasih uang, pakaian semuanya diambilin. Ya jadinya saya bawa truk cuma pakai pakaian dalam saja. Mereka-mereka kalau minta pasti maksa, ngga ada uang apa saja diambil,” tambahnya.

Baca Juga:
Pengemudi Bus 27 Trans Java: Penumpang Dapat Kopi Hangat dan Nikmat

Dengan seiring berjalannya waktu. Orang tua Darmin pun meminta agar bekerja di di Jakarta atau di kampung halamannya.

“Orang tua waktu itu yang saya nyuruh pulang kesini. Karena biar lebih dekat sama keluarga. Kalau di Nabire bisa lama ngga pulang-pulang. Padahal selama kerja disana gaji saya sebulan Rp25 juta. Tapi karena permintaan orang tua saya turuti. Akhirnya saya pulang kesini dan ngelamar dan kerja di PO Garuda Mas sampai sekarang,” ujar Darmin.

Bus Garuda Mas Double Decker. Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id.

Pria dengan penampilan sederhana ini juga menjelaskan, selama sembilan tahun bekerja di bus Garuda Mas dengan trayek Jakarta-Cepu-Blora. Sekarang inilah ia merasakan pahitnya penghasilan.

“Sekarang penghasilan lagi ngga jelas. Sekali trip kadang bisa bawa Rp400 ribu kadang malah bisa dibawahnya. Alhamdulillah, kalau untuk biaya sekolah anak masih ada karena ada tabungan selama saya kerja di Papua. Anak paling besar masih SMA, yang paling kecil masih TK. Dua-duanya sekolah di Purwodadi. Yang penting berapun hasilnya sekarang disyukuri saja,” jelasnya.

Tarif bus Garuda Mas Double Decker

Selama pandemi Covid-19 tarif bus Garuda Mas rute Jakarta-Cepu-Blora tidak ada kenaikan. Tarif berkisar Rp240 ribu untuk semua kelasnya.