Berusia 58 Tahun, Ahmad Driver Ojol Go-Send yang Nggak Capek Ngacak-Ngacak Jabodetabek

  • Oleh : Fahmi

Selasa, 26/Janu/2021 16:09 WIB
Ahmad 58 tahun baru saja melakukan disinfektan dan verifikasi akun driver di Gojek Summarecon, Bakasi. Ahmad 58 tahun baru saja melakukan disinfektan dan verifikasi akun driver di Gojek Summarecon, Bakasi.

BEKASI (BeritaTrans.com) - Di tengah pandemi covid-19 disaat orang-orang dibatasi untuk beraktivitas, jasa pengantar barang online atau paket justru banyak mendapatkan pelanggan.

Selain mengantar penumpang dan makanan, Gojek juga menyediakan jasa mengantar paket atau barang bernama Go-Send atau nama aplikasi drivernya ialah Go-Kilat.

Baca Juga:
Yeay, Kenaikan Tarif Ojol Ditunda, Gaess

Adalah Ahmad 58 tahun yang merupakan pengendara ojek online (ojol) Gojek, khusus mengantar barang/paket atau dikenal dengan Go-Send, awal corona menjadi berkah tersendiri baginya.

"Pertama (pandemi) nambah gacor, orang pada enggak keluarkan," katanya kepada BeritaTrans.com, di Gojek Summarecon Bekasi, Selasa (26/1/2021).

Baca Juga:
Soal Tarif Ojol Jadi Naik 14 Agustus, Kemenhub: Masih Butuh Sosialisasi

Terlebih lagi, memasuki musim penghujan banyak orderan yang masuk. Namun, karena faktor usia dia tidak akan mengambilnya.

"Apalagi ni hujan. Tapi kalau hujan, kita malas ngambil,  HP basah. Pakai plastik kan ngembun enggak nampak, badan juga bisa menciut," kata pria berbadan mungil tersebut.

Baca Juga:
Menhub Dorong Perguruan Tinggi dan Swasta Gali Peluang Hadirkan Kendaraan Tanpa Awak

Ahmad menjelaskan jika dia mangkal di daerah pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta seperti Glodok, dia akan banyak mendapatkan pelanggan untuk paketnya akan diantar.

"Kalau main di tengah di Glodok Rp200 ribu mah ngantongin pasti," kata Ahmad.

Sebelum mengawali aktivitas ngojek online, Ahmad menceritakan dia akan memulai sarapan dari rumah dan mengkonsumsi vitamin untuk menjaga kebugaran tubuhnya.

Dengan mengenakan tas besar untuk membawa antaran tersebut, dia siap menyusuri pelosok-pelosok Jabodetabek dengan aplikasi map atau peta di hp androidnya.

Warga Harapan Baru, Bakasi ini menceritakan sudah dari tahun 2017 dia menjadi pengantar paket dan selalu menempuh ratusan kilometer dalam sehari untuk membawa satu bid sampai dua bid tarikan.

"Kita mainnya ngacak-ngacak Jabodetabek. Ujungnya sampai Tanggerang, Depok. Kadang-kadang sampe ujung Cikarang noh. Kita kilometernya lebih gede, lebih demen kita," ujarnya.

Walau jarak yang terkadang sangat jauh, Ahmad mengungkapkan bahwa mengirim paket sangatlah mudah karena barang tersebut akan langsung. Jadi dia tidak harus menunggu barang dikemas terlebih dahulu.

"Kita enggak ngambil di restoran, kalau ada makanannya juga kita ambilnya dari rumah, di mall istilahnya. Enggak payah nunggu," katanya.

Karena batas waktu pengantaran go-kilat hanya berkisar dari pukul 8.00 sampai 16.00. Untuk pulang ke rumah dia akan beristirahat di rumah dibawah jam sembilan malam setelah semua antaran semua selesai diantarkan.

"Untuk satu bid, kita kerja bisa sampe empat jam, itu tujuh orderan paling banyak," ungkapnya.

Namun, dia juga menjalani untuk dua bid dalam sehari namun yang kedua orderannya tidak banyak seperti bid pertama.

Dia juga mengungkapkan, akhir-akhir ini orderannya terasa berkurang, dia mengira bahwa sudah banyak pemain pengantar barang selain jasa aplikasi yang dimilikinya.(fahmi)