Menyingkap Meteor yang Sangat Terang di Balik Dentuman Misterius Bali

  • Oleh : Redaksi

Selasa, 26/Janu/2021 22:11 WIB
Foto: Istimewa Foto: Istimewa

BALI (BeritaTrans.com) - Dentuman suara, kilatan cahaya dan penjalaran gelombang seismik unik di Bali tempo hari kemungkinan disebabkan oleh masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi. Meteoroidnya memiliki diameter antara 70 hingga 280 cm. 

Setelah memasuki atmosfer Bumi dan berpijar terang sebagai boloid, ia melepaskan hampir seluruh energi kinetiknya pada ketinggian antara 30 hingga 36 kilometer di atas paras Bumi. 

Baca Juga:
Indonesia Catat 185 Bencana di Awal 2021, Pemerhati Lingkungan Peringatkan Dampak dari Kerusakan Hutan

Kejadian alamiah ini tidak berdampak apapun dan sesungguhnya bersifat rutin. Meteor sangat terang Bali hanyalah bagian dari 44 ton meteoroid yang memasuki atmosfer Bumi setiap harinya. 

Kejadian

Baca Juga:
Berkurangnya Area Hutan Primer dan Sekunder Disebut Menjadi Pemicu Banjir Terbesar di Kalimantan Selatan


Seismogram BMKG (atas) dan PVMBG (bawah) pada saat dentuman terjadi di Bali. Pola gelombangnya sangat berbeda dengan kejadian gempabumi tektonik maupun vulkanik pada umumnya. 

Satu dentuman keras menggelegar di ruang udara Bali bagian utara pada Ahad, 24 Januari 2021, 10:27 WITA lalu. Gelegar suaranya bahkan menyeberangi selat Bali hingga terdengar di Banyuwangi. Bersamaan dengan dentuman tersebut, menjalar pula gelombang seismik yang khas. 

Gelombang seismik ini tak terasakan siapapun, namun cukup kuat untuk direkam dua sensor seismometer berbeda, yaitu sensor Singaraja yang dikelola BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dan sensor Gunung Batur yang dikelola Pos Pengamatan Gunung Api Batur di bawah PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). 

Sensor BMKG merekamnya mulai pukul 10:27:15 WITA selama 20 detik kemudian. Sementara sensor PVMBG mulai merekamnya pukul 10:28:20 WITA. 

Kedua sensor memproduksi seismogram yang mirip. Akan tetapi, polanya sama sekali berbeda dibandingkan dengan seismogram gempa bumi tektonik dan vulkanik pada umumnya. Oleh karena itu, BMKG menyatakan gelombang seismik tersebut tidak terkait kejadian gempabumi. Meskipun jika dianalisis mengikuti prosedur standar analisa gempabumi, maka gelombang seismik tersebut memiliki magnitudo lokal 1,1. 

Sejumlah saksi mata bertutur melihat kilatan cahaya sesaat sebelum terdengarnya gelegar dentuman. Maka logis saja jika mencoba menghubungkan kilatan cahaya–suara dentuman–gelombang seismik dengan kejadian langit. Yakni peristiwa tumbukan benda langit, khususnya masuknya meteoroid besar ke dalam atmosfer Bumi dengan segala efeknya. 

Klasifikasi 

Astronomi mengenal meteoroid, meteor dan meteorit. Meteoroid adalah segala jenis benda padat alamiah yang beredar mengelilingi Matahari dengan orbit demikian rupa sehingga memiliki potensi berpotongan dengan orbit Bumi. Benda padat tersebut dapat berupa pecahan asteroid, remah–remah komet hingga kepingan–kepingan kerak planet/satelit alamiah.

Meteor adalah meteoroid yang sudah memasuki atmosfer Bumi hingga berpijar terang akibat bekerjanya gaya hambatan udara. Meteor–meteor tersebut sangat cepat, memiliki rentang kecepatan antara 12 hingga 72 km/detik relatif terhadap Bumi. 

Dan meteorit adalah meteor yang masih tersisa setelah perjalanan brutalnya dalam menembus atmosfer Bumi untuk selanjutnya jatuh menumbuk suatu lokasi di paras Bumi. 

Bergantung kepada tingkat terang (magnitudo)–nya, meteor diklasifikasikan lagi menjadi tiga: meteor biasa, meteor–terang (fireball) dan meteor–sangat terang atau boloid. Tingkat terang meteor berbanding lurus dengan massanya yang masih berbanding lurus lagi dengan pangkat tiga dimensinya. 

Meteor biasa bersifat redup (magnitudo kurang dari –4, berasal dari meteoroid seukuran debu hingga butir–butir pasir. Sementara meteor–terang menyamai cemerlangnya Venus hingga Bulan perbani (magnitudo –4 hingga –8), membuatnya bisa dilihat di siang bolong. Ia berasal dari meteoroid seukuran kerikil hingga bola basket. 

Dan meteoroid–meteoroid yang lebih besar akan menghasilkan boloid (magnitudo lebih dari –8). Boloid sangat terang hingga mudah dilihat di siang bolong dan ketampakannya kerap diikuti suara dentuman. Pada boloid yang lebih terang dari Bulan purnama (magnitudo –12), sekitar seperseribu hingga seperseratus dari massa meteoroidnya akan tetap tersisa dan mendarat di paras Bumi sebagai meteorit. 

Selain menghasilkan kilatan cahaya sangat terang (meski hanya sesaat), boloid juga dikenali dengan kemampuannya membentuk ketampakan awan lurus noktilusen yang bisa bertahan hingga lebih dari sejam. Awan noktilusen merupakan awan sangat tinggi (non troposferik) yang muncul pada ketinggian lebih dari 30 km. 

Seperti pernah saya utarakan sebelumnya, secara rata–rata 44 ton meteoroid memasuki atmosfer Bumi setiap harinya. Massa sebanyak itu membentuk ribuan meteor dan hampir semuanya merupakan meteor biasa. Dari meteor sebanyak itu, rata–rata 17 diantaranya adalah boloid yang bisa memproduksi meteorit. 

Namun dua pertiga paras Bumi adalah lautan, sebaliknya seperempat daratan adalah nihil aktivitas manusia. Maka peluang ketampakan sebuah boloid yang bisa memproduksi meteorit dan terlihat dari pemukiman manusia tinggal 1 boloid per tahun. Secara statistik setiap kilometer persegi paras Bumi akan mendapatkan sebutir meteorit dalam 50.000 tahun. 

Rekonstruksi Bali 

Dentuman di Bali didahului kilatan cahaya terang dan disusul getaran seismik unik. Mengindikasikan aktor utamanya adalah sebuah boloid. Suatu boloid bisa memproduksi dentuman sonik akibat proses perlambatan yang bersamaan dengan proses fragmentasi bertingkat. 

Bergantung kepada tipe meteoroid, dimensi dan kecepatan awalnya, pada ketinggian tertentu proses perlambatan dan fragmentasi akan mencapai puncaknya sehingga boloid melepaskan mayoritas energi kinetiknya. Inilah peristiwa mirip ledakan di udara (airburst) yang khas. Airburst melepaskan gelombang kejut yang bisa menjangkau paras Bumi. Dampak papasan gelombang kejut tersebut bergantung kepada besar energi airburst. 

Kita bisa memperkirakan seberapa besar dimensi meteoroid yang mengalami airburst di Bali berdasarkan beberapa faktor. 

Pertama, mengacu pada rasio konversi energi akustik–ke–seismik yang berada pada rentang sepersepuluhribu hingga sepersepuluh juta. Gelombang kejut pada dasarnya merupakan gelombang akustik dan saat menyentuh paras Bumi ada fraksi yang bakal berubah menjadi gelombang seismik. 

Faktor kedua adalah sifat dasar boloid, yakni memiliki magnitudo minimal –8. Dan faktor ketiga bersifat semi–empirik, mengacu pada dentuman yang terdengar tunggal sehingga mungkin kurang atau sama dengan karakter boloid Bangkok (Thailand) 7 September 2015.
BMKG mengukur usikan seismik unik dari Bali memiliki magnitudo 1,1 atau setara dengan energi seismik 2,8 MegaJoule. 

Dengan mempertimbangkan ketiga faktor di atas, maka meteoroidnya akan cukup padat, mirip dengan kepadatan meteorit akondrit. Jika dianggap berbentuk bulat sempurna seperti bola, maka meteoroidnya berdiameter antara 70 hingga 280 cm dan massanya antara 1 hingga 57 ton apabila memasuki atmosfer dengan kecepatan awal 20 km/detik. 

Pada dimensi dan massa demikian, boloid akan mengalami airburst di ketinggian antara 30 hingga 36 kilometer dari paras Bumi. Rentang energi yang dilepaskan pada saat airburst terjadi berada di antara 0,04 hingga 3 kiloton TNT. 

Rentang energi tersebut cukup kuat guna memproduksi suara dentuman yang bisa kita dengar namun masih terlalu kecil guna menghasilkan kerusakan paling minimal sekalipun bagi paras bumi dibawahnya. Maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. 

Di mana posisi airburst terjadi? Selisih waktu di antara seismogram BMKG dan PVMBG menjadi indikasi bahwa titik nol dentuman (yakni titik yang tepat berkedudukan di bawah lokasi airburst) adalah lebih dekat ke Singaraja dibandingkan Gunung Batur. 

Perhitungan dan pemodelan ini bersifat sementara. Untuk memastikan apa yang terjadi di atas Bali pada saat itu, dibutuhkan data infrasonik yang biasanya direkam stasiun-stasiun infrasonik dalam jejaring sistem pemantauan larangan ujicoba nuklir global segala matra CTBTO. 

Lebih baik lagi bila dikombinasikan dengan pencitraan instrumen lightning mapper pada satelit cuaca. Sejauh ini baru satelit–satelit GOES yang dilengkapi instrumen seperti itu dan hanya memantau hemosfer perairan Samudera Pasifik, benua Amerika dan perairan Samudera Atlantik.(fhm/sumber:kompascom)