Cuaca Buruk, Pesawat AirAsia Tujuan Belitung Putar Balik ke Bandara Soekarno-Hatta

  • Oleh : Dirham

Kamis, 28/Janu/2021 17:11 WIB
Pesawat Air Asia. Pesawat Air Asia.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pesawat Air Asia QZ 712 rute Jakarta-Tanjung Pandan terpaksa dialihkan kembali ke bandara semula, karena tak bisa mendarat di bandara HAS Hanandjoeddin di Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (28/1).

Berdasarkan pantauan dari situs flightradar24.com, pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 12:00 WIB. Pesawat itu dijadwalkan mendarat di Bandara Tanjung Pandan, Belitung pada pukul 12:50 WIB.

Baca Juga:
AirAsia Sambut Baik Program Vaksinasi Covid-19 di Seluruh Dunia

Namun, pesawat tersebut gagal mendarat di bandara tujuan sehingga berputar kembali ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

"Tadi dilaporkan (dari Tanjung Pandan) pilotnya memutuskan untuk kembali ke bandara Soetta," ujar Sekretaris Perusahaan AirNav Indonesia, Rosedi, Kamis petang.

Baca Juga:
Traveller, Ayo Borong Tiket AirAsia, Diskonnya hingga 60%

Berdasarkan amatan di flightradar24.com diketahui setidaknya pesawat tersebut enam kali berputar di langit pulau Belitung sebelum memutuskan kembali ke bandara Soetta.

Rosedi mengonfirmasinya, bahwa pesawat tersebut sempat berputar sekitar 20 sampai 30 menit di langit Belitung. Masing-masing putaran, kata dia, memakan waktu 4 sampai lima menit.

Baca Juga:
Geger Benda Mirip Bangkai Pesawat AirAsia Ditemukan di Teluk Ranggau Kobar

"Jadi di sana sedang hujan lebat sekali. Jarak pandang tidak memenuhi syarat untuk mendarat. Jadi kembali [ke Soekarno Hatta], itu keputusan pilot mau bagaimana," kata Rosedi.

Saat dihubungi tersebut, Rosedi menjelaskan bahwa pesawat tersebut belum terbang kembali ke Tanjung Pandan.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Indonesia (94 persen dari 342 Zona Musim) saat ini telah memasuki musim hujan.

Dalam keterangannya kemarin, analisis BMKG menunjukkan kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

"Kondisi tersebut diperkuat oleh aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin di wilayah Indonesia. Selain itu, munculnya pusat tekanan rendah di Australia bagian utara mendorong terbentuknya belokan maupun pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang mengakibatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia," demikian keterangan BMKG.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan INTENSITAS LEBAT yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi. (ds/sumber CNNIndonesia)