Pertamina Targetkan Laba Rp 28 T di 2021, Ini Pendongkraknya

  • Oleh : Bondan

Jum'at, 05/Feb/2021 04:51 WIB
Ilustrasi SPBU Pertamina. Foto: Ist Ilustrasi SPBU Pertamina. Foto: Ist

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pihak PT Pertamina (Persero) berhasil mencatatkan laba bersih US$ 1 miliar atau sekitar 14 triliun pada 2020. Pertamina pun optimistis bisa mencetak laba dua kali lipat menjadi US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun pada 2021.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

Baca Juga:
Harga Pertalite hingga Pertamax Naik Hari Ini, Cek Daftarnya

Nicke menyebut sejumlah faktor pendorong target laba perseroan pada 2021 ini, salah satunya yaitu peningkatan penjualan sebesar 12% dibandingkan 2020. Selain itu, optimisme Pertamina ini juga didukung dengan proyeksi tren harga minyak yang akan naik dibandingkan 2020.

"Penjualan ditargetkan naik 12% dari tahun 2020. Harga minyak pun trennya naik dibanding tahun 2020. Dengan demikian, laba bersih ditargetkan US$ 2 miliar," kata Nicke kepada wartawan melalui pesan singkat, Kamis (04/02/2021).

Baca Juga:
Ini Perbedaan SPBU Pertamina Warna Merah dan Biru

Berbicara di Energy Corner Special Edition: Energy Outlook 2021 di CNBC Indonesia, Nicke pun mengaku optimis bakal ada peningkatan kinerja pada tahun ini. Dia menjabarkan bahwa Pertamina telah menggenjot hulu migas pada 2020 dan berlanjut ke 2021.

"Dari sisi hulu, baik 2020 dan 2021 Pertamina tetap menggenjot hulu migas karena masih impor dan produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan. Kita akan tingkatkan produksi migas. Pada 2020 di saat pandemi, produksi migas Pertamina hampir mencapai target dan tahun ini akan kami tingkatkan, dengan kontribusi mencapai 60% dari produksi nasional," jelas Nicke kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/2/2021).

Baca Juga:
Pertamina Drilling Services Tambah 4 Rig Baru Tahun Ini

Strategi yang kedua adalah Pertamina juga menggenjot produksi bahan bakar minyak (BBM) dari sisi kilang, sehingga produksi di dalam negeri bisa meningkat.

"Tahun ini sama dengan adanya kilang di Cilacap, maka solar produksi tetap optimal. Dari 2019 kita tak lagi impor solar, kita harus menurunkan impor," jelas Nicke.

Sementara itu dari sisi hilir, Nicke memprediksi terjadi peningkatan permintaan 10%-20% dibandingkan dengan 2020. Untuk merespons hal ini, Pertamina pun akan tetap mendorong di sisi hilir ini karena akan menurunkan biaya operasi (Operating Expense/ Opex), sehingga harga akan lebih rendah.

Seperti diketahui pada awal pandemi Covid-19 pada Maret 2020, Pertamina mengalami triple shocks yakni penurunan harga minyak, penurunan permintaan minyak, dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Pada 2021 kami lebih optimistis daripada 2020 karena akan ada peningkatan demand dan secara pondasi lebih kuat," tegasnya.

Adapun capaian laba pada 2020 sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun, dia menyebut ini diperoleh melalui beberapa upaya, seperti meningkatkan produktivitas hulu migas dan kilang minyak.

Kemudian, perseroan juga melakukan efisiensi pada semua bidang, seperti memotong biaya operasi sebesar 30% dan memprioritaskan untuk anggaran investasi.

"Laba bersih US$ 1 miliar (pada 2020), upaya yang dilakukan adalah meningkatkan produktivitas hulu migas dan kilang, serta efisiensi di semua bidang (pemotongan opex 30% dan prioritaskan anggaran investasi)," imbuhnya. (CNBCIndonesia.com)