Target KA Logistik 2021: Angkut 56 Juta Ton

  • Oleh : Fahmi

Selasa, 23/Feb/2021 20:57 WIB
Kereta api barang mengankut batu bara.(Istimewa) Kereta api barang mengankut batu bara.(Istimewa)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Direktur Niaga PT KAI Dadan Rudiansyah membeberkan sejumlah tantangan target bagi kereta api logistik dalam pengoperasiannya. 

"Kami juga menggunakan infrastruktur dari pemerintah, tentunya kami punya kewajiban membayar Track Acces Charge (TAC) di mana dalam hal ini sangat besar sekali," kata Dadan dalam diskusi daring dengan tema tantangan alih moda angkutan logistik dari transportasi darat ke kereta api, yang diselenggarakan Kemenhub, Selasa (23/2/2021). 

Dadan menjelaskan, saat ini biaya yang harus dibayarkan atas penggunaan prasarana perkeretaapian milik negara (TAC PNBP) masih terlalu tinggi, (Fp - Faktor Perioritas sebesar 0,75) sehingga angkutan kereta api kurang dapat bersaing dengan moda darat lainnya, tidak terjadi equal treatment. 

"TAC ini akan menjadi beban kami dan berpengaruh terhadap tarif. Sehingga tarif kami cukup relatif tinggi karena harus dikenakan TAC," jelas Dadan. 

Sebagaimana diketahui, 0,75 persen ini di subsidi dari pemerintah melalui IMO. 

Adanya juga tantangan bagi konektifitas ke pelabuhan, antara lain, Dadan menyebutkan belum adanya dukungan akses jalur kereta langsung ke dermaga dan dengan belum adanya konektivitas langsung ke dermaga menyebabkan biaya logistik menjadi tinggi dikarenakan adanya doble handling pada bongkar muat angkutan. 

Dadan menyebutkan target kereta api barang di tahun ini yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. 

"2020 kamarin pencapaian angkutan barang itu 47 juta ton. 2021 kami diberi target yang disepakati oleh pemegang saham, 56 juta ton. Jadi kami cukup optimis juga 2021 ini, Insyaallah kami akan mengembangkan secara tonase," kata Dadan. 

Dadan juga juga berencana akan  mengembangkan beberapa komuditi baru dan membangun kerjasama di perusahaan BUMN dan Swasta. 

Dadan juga menjelaskan saat ini kereta api di Jawa dan Sumatera memiliki jumlah barang angkut yang sangat jauh berbeda. 

"Untuk di Sumatera hampir sekitar 80 persen itu di angkutan barang. Angkutan barang di Sumatera berupa Batubara. Kemudian juga ada komuditas lain di Sumatera meskipun relatif kecil. Dan sebagian lagi 17 persen di Jawa," beber Dadan. 

Dia menyatakan ini tantangan dan potensi untuk meningkatkan lagi peran serta PT KAI kereta api dalam mensukseskan program-program pemerintah, terutama  memperlancar logistik nasional dan lebih mengefisiensikan angkutan logistik. 

Selain itu Dadan juga menyebutkan keunggulan KA Logistik, salah satunya memeiliki jalur rel untuk mempercepat pengiriman dari stasiun ke stasiun, lebih hemat bahan bakar dan lebih murah tentunya. 

PT KAI adalah perusahaan BUMN sebagai satu-satunya saat ini sebagai operator perkeretaapian di Indonesia, khususnya angkutan barang, baik di Jawa dan di Sumatera. (Fahmi)