Qantas Klaim Miliki 4,2 Miliar Dolar Australia untuk Bertahan

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 25/Feb/2021 19:49 WIB
Penutupan perbatasan internasional yang berkelanjutan dan penutupan perbatasan negara telah menghancurkan pendapatan maskapai.(ABC News: Brendan Esposito) Penutupan perbatasan internasional yang berkelanjutan dan penutupan perbatasan negara telah menghancurkan pendapatan maskapai.(ABC News: Brendan Esposito)

MELBOURNE (BeritaTrans.com) - Qantas telah mencatat kerugian setengah tahun sebesar AU$1,08 miliar, menyusul penurunan drastis pendapatan karena masih adanya pembatasan perjalanan.

  • Qantas memperkirakan perjalanan internasional akan dilanjutkan pada akhir Oktober setelah peluncuran vaksin Australia selesai
  • Maskapai ini berharap dapat mencapai 80 persen dari kapasitas domestik pra-pandemi pada akhir Juni
  • Qantas memiliki A$4,2 miliar dalam bentuk tunai untuk mengatasi sisa pandemi

Kerugian ini menyusul catatan penurunan drastis pendapatan maskpai penerbangan Australia yang mencapai AU$6,9 miliar sebelumnya.

Baca Juga:
Pilot Lalai Masukkan Roda Pesawat QantasLink, Untungnya Diingatkan Kru Kabin

"Angka-angka ini mencolok, tetapi tidak mengejutkan," kata Alan Joyce, Direktur Eksekutif Qantas.

"Di pertengahan tahun, kita melihat gelombang kedua penularan COVID-19 di Victoria dan pembatasan perjalanan domestik paling ketat sejak pandemi dimulai," ujar Alan.

Baca Juga:
Qantas Pekerjakan Lagi Ribuan Pegawai yang Dirumahkan

"Hampir semua layanan internasional kami dan 70 persen penerbangan domestik berhenti, karena itu tiga perempat pendapatan kami hilang."

Alan mengaku masih memiliki AU$4,2 miliar dalam bentuk tunai untuk terus bertahan sampai perbatasan internasional Australia dibuka kembali dan perjalanan domestik menjadi lebih normal.

Baca Juga:
Qantas Pesan 100 Jet Anyar

Qantas saat ini memperkirakan perjalanan internasional akan dibuka lebih luas pada akhir Oktober, saat program vaksinasi nasional di Australia dijadwalkan selesai.

Sebelumnya Qantas telah mulai menjual tiket ke Inggris atau Amerika Serikat untuk bulan Juli.

Namun, maskapai ini akan kehilangan beberapa destinasi utama seperti sebelum pandemi COVID-19, sehingga hanya melayani 22 kota tujuan, dari sebelumnya sebanyak 25.

Qantas mengatakan tidak akan melanjutkan rute penerbangan langsung ke New York, Santiago dan Osaka, tetapi tetap berkomitmen untuk terbang ke tiga tujuan tersebut.

'Qantas sedang bermimpi'

Tetapi analis Neil Hansford dari solusi Penerbangan Strategis mengatakan Qantas sedang bermimpi.

"Mereka sudah beruntung jika bisa beroperasi secara internasional sebelum Natal," katanya kepada ABC News.

"Satu-satunya cara penerbangan internasional dapat hidup kembali adalah jika negara tempat tujuan atau asal terbang juga bebas COVID."

"Pemerintah tidak akan mengizinkan kita bepergian, kecuali negara-negara tersebut memiliki kedisiplinan yang sama dengan Australia dalam penanganan COVID, yang saat ini hanya dilakukan Vietnam, Kamboja, Kepulauan Pasifik, dan semoga nantinya Selandia Baru."

Qantas sekarang memperkirakan bisa kembali memenuhi 60 persen dari kapasitas domestik seperti sebelum pandemi hingga akhir bulan Maret, kemudian menjadi 80 persen pada akhir Juni.

Namun, perkiraan tersebut masih belum tentu, karena risiko penutupan perbatasan negara bagian yang bisa terjadi kapan saja.

CEO Qantas Alan Joyce mengatakan masih ada area lain yang membantu meringankan dampak dari penurunan besar lalu lintas penumpang(AAP: Bianca De Marchi)

Qantas memangkas biaya karyawan

Qantas juga sedang berupaya keras menyelamatkan bisnisnya dengan memangkas biaya yang sebagian besar dari anggaran gaji karyawan.

Maskapai Australia ini menargetkan bisa menyisihkan setidaknya AU$1 miliar dalam simpanannya selama setahun, yang dicapai melalui pengurangan 8.000 jenis pekerjaan.

Lebih dari 5.000 karyawan telah meninggalkan Qantas dan masih ada gelombang karyawan yang akan menyusul pada akhir Juni.

Qantas juga telah memulai suatu langkah untuk melakukan 'outsourcing' sekitar 2.000 pekerjaan staf darat, yang menurut serikat pekerja ilegal.

Maskapai ini mengatakan 14.500 staf penuh waktu saat ini masih dipertahankan, tetapi sekitar 11.000 tetap mundur, karena maskapai masih sangat bergantung pada skema bantuan dari Pemerintah Australia, yakni JobKeeper.

Total dukungan pemerintah mencapai AU$700 juta, termasuk AU$459 juta dari JobKeeper, skema yang segera berakhir pada akhir Maret.

(jasmine/sumber: abc.net.au).

 

Tags :