Ditjen Hubla Hadiri Pertemuan MEPSEAS

  • Oleh : Naomy

Kamis, 18/Mar/2021 12:27 WIB
Pertemuan MEPSEAS Pertemuan MEPSEAS


JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pemerintah Indonesia melalui Direktorat  Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menghadiri Extraordinary High Level Regional Meeting (EHLRM) of Marine Enviromental Protection of the South - East Asian Seas (MEPSEAS) Project yang diselenggarakan secara virtual. 

Direktur Jenderal Perhubungan Laut yang diwakili Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Hermanta yang bertindak sebagai Ketua Delegasi Indonesia sekaligus National Focal Point MEPSEAS Project dalam pertemuan ini.

Baca Juga:
Rangkul Warga Sekitar, Padat Karya Kembali Digelar KSOP Marunda selama 3 Hari

"Dengan ketulusan hati saya ucapkan terimakasih kepada IMO dan NORAD atas dukungannya dan juga mengizinkan perpanjangan waktu pelaksanaan project ini selama satu tahun serta mendorong penggunaan teknologi (virtual) dalam menjalankan kegiatan," ujar Capt. Hermanta di Jakarta, Kamis (18/3/2021).

Dia mengatakan, di masa pandemi Covid-19 ini, tantangan MEPSEAS Project menjadi lebih besar, terutama terkait dengan implementasi konvensi yang memerlukan kehadiran fisik di tempat.

Baca Juga:
Kemenhub Gelar Workshop Penanganan Muatan Barang Berbahaya dan Curah Padat

"Meskipun demikian saya percaya, dengan kemauan dan usaha yang kuat kita bisa menemukan cara untuk melaksanakan konvensi perlindungan laut secara penuh dan efektif," ujarnya.

Dia ucapkan terima kasih dan berharap pertemuan itu dapat bermanfaat dengan melakukan diskusi yang membangun.

Baca Juga:
Gandeng Polairud, Kemenhub Tingkatkan Keterampilan Menembak Awak Kapal Negara

Pada kesempatan yang sama, Capt. Hermanta selaku National Focal Point MEPSEAS Project dalam pertemuan ini juga menyampaikan progres kegiatan MEPSEAS Project selama tiga tahun ini dan beberapa rencana kegiatan ke depan.

"Kegiatan project pada tahun pertama (2018) dan kedua (2019) yang telah dilaksanakan seperti pembentukan tim satgas, penetapan lembaga diklat nasional, berpartisipasi dalam regional workshop LPIR, menyelenggarakan diklat nasional LPIR dan melakukan port biological baseline surveys pada enam pelabuhan besar di Indonesia," ungkapnya.

Lebih lanjut Capt. Hermanta menyampaikan bahwa pada tahun ketiga (2020), DGST mulai menyusun aturan terkait BWM dan AFS, dengan melakukan formulasi ulang terhadap regulasi yang berlaku saat ini untuk penerapan BWM dan AFS (Permenhub No. PM 29 Tahun 2014).

Beberapa kegiatan lain juga telah direncanakan seperti pelaksanaan pelatihan PSC dan Flag State Inspection.

"Harapan saya di akhir MEPSEAS Project ini rencana-rencana yang sudah dibuat semuanya dapat terealisasikan," tutupnya.

Pertemuan ini dihadiri oleh administrasi maritim dari tujuh negara ASEAN yang terlibat yaitu Indonesia, Filipina, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand dan Vietnam. 

Mr. Robert A Emperad (Philippine) selaku Director General of MARINA Philippines menjadi Chair dalam pertemuan ini.

Selain itu, pertemuan dihadiri juga perwakilan dari IMO dan NORAD serta Strategic Partners seperti Tokyo MOU Secretariat, PEMSEA, Women in Maritime Asia, ASEAN Maritime Transport Working Group, Singapore Maritime Port Authority, dan Federation of ASEAN Shipowners Associations (FASA).

Tujuan pertemuan  ini diadakan adalah untuk melihat kembali posisi MEPSEAS Project dengan adanya kendala yang dihadapi selama pandemi Covid - 19 dan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya di tahun ke-4 kegiatan dengan fokus pada rencana pelaksanaan Compliance Monitoring and Enforcement (CME) dari konvensi-konvensi IMO menjadi prioritas masing-masing negara yang terlibat.

MEPSEAS Project adalah kegiatan yang didukung oleh International Maritime Organization (IMO) dengan pendanaan dari Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD) yang peluncuran resminya dilakukan pada saat penyelenggaraan the First High-Level Regional Meeting pada 25 Juni 2018 di Bali. 

Project ini direncanakan berjalan selama empat tahun yang dimulai dari tahun 2018 hingga tahun 2021, tetapi project ini menjadi diperpanjang hingga tahun 2022 dikarenakan adanya pandemi Covid - 19 ini.

Project ini difokuskan pada implementasi  empat konvensi perlindungan maritim IMO yaitu Anti-Fouling System (AFS) Convention, Ballast Water Management (BWM) Convention, MARPOL dan London Convention/London Protocol, dan Indonesia fokus pada implementasi AFS dan BWM.

Indonesia fokus pada implementasi AFS dan BWM untuk melindungi perairan Indonesia dari dampak negatif penggunaan kandungan cat anti teritip  pada kapal serta invasi spesies asing di dalam  pertukaran air balas kapal.

Sebagai informasi, pertemuan HLRM of MEPSEAS Project telah dilaksanakan 2 (dua) kali, yaitu pada tahun 2018 di Bali, Indonesia dan tahun 2019 di Manila, Filipina. Sedangkan pertemuan ke-3 direncanakan akan dilaksanakan Juni atau Juli tahun ini melalui virtual dengan Vietnam sebagai tuan rumah. (omy)