Mudik Dilarang, Sopir Harapan Jaya: Susah Bayar Uang Kuliah Anak

  • Oleh : Fahmi

Rabu, 07/Apr/2021 21:02 WIB
Pengemudi bus Harapan Jaya, Nahrowi tengah mengendari busnya bergaya bak pejabat menggunakan jas lengkap dengan dasi dan peci. Pengemudi bus Harapan Jaya, Nahrowi tengah mengendari busnya bergaya bak pejabat menggunakan jas lengkap dengan dasi dan peci.

BEKASI (BeritaTrans.com) - Sebagai pengemudi bus antarkota antarpropinsi, musim mudik adalah hal yang paling dinanti untuk mendapatkan penghasilan lebih untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan pada musim itu. 

Seperti yang dikisahkan oleh sopir bus PO Harapan Jaya, Nahrowi. Pria 46 tahun ini berharap ada pemasukan lebih ketika mudik untuk memenuhi uang semester kuliah anaknya. 

Baca Juga:
Menhub Terus Upayakan Kendaraan Listrik Jadi Kebutuhan Massal

"Mau bayar uang semester lagi ini," kata Bapak tiga anak ini kepada BeritaTrans.com yang tengah menaikkan penumpang di agen Harapan Jaya, Bekasi, Rabu (7/4/2021). 

Dia menceritakan bahwa anaknya yang ke dua tengah menempuh pendidikan juruusan Sumber daya lahan pangan, di sekolah Institut Pertanian Bogor (IPB). Awalnya dia sudah memikirkan, ketika musim mudik akan banyak penumpang dan akan memanfaatkan penghasilan untuk uang biaya pendidikan. 

Baca Juga:
Menhub Jajal Motor Listrik Buatan Anak Bangsa di Sosialiasi Kendaraan Listrik di Stasiun Bekasi Timur

"Kesempatan cari uang ya pas Lebaran. Mikirin semester anak kuliah," katanya. 

Nahrowi juga mengaku pasrah dan hanya akan mendapatkan penghasilan yang biasa saja di hari-hari biasanya. Padahal jika lebaran dia kerap menerima bonus karena jumlah penumpang yang banyak. 

Baca Juga:
Truk Tabrak Tronton di Tol Ngawi-Solo, Seorang Tewas

"Kalau enggak boleh jalan ya istirahat lagi di rumah," ujarnya. 

Warga desa Candirejo, Tuntang, Semarang ini juga menjelaskan, anak laki-lakinya itu memiliki cita-cita yang tinggi dan juga memiliki kemampuan di bidangnya. 

"Alhamdulillah anak saya pinter, jadi lolos masuk seleksi tanpa bayar. Masuk IPB tanpa bayar," bebernya. 

Saat ini anaknya tersebut masih belajar dari jarak jauh melalui daring. Dia berencana mengambil cuti atau libur sebentar untuk mencarikan anaknya rumah kos baru di Bogor, karena pembelajaran tatap muka akan dimulai. 

"Ini pengen libur, mencarikan kos-kosan dulu di Bogor," ujarnya. 

Mengenai anak yang pertama diceritakannya sudah berumah tangga dan memiliki usaha sendiri di rumah. Sedangkan anak yang ke tiga tengah menempuh pendidikan juga di SMP. 

Mengendari bus Harapan Jaya kelas eksekutif, Nahrowi tampak gagah bak pejabat negeri dengan menggunakan kemeja biru berdasi senada lengkap dengan jas dan peci serta sepatu pantoferlnya. 

Dengan seragam dia juga tampak terlihat sigap membantu untuk menaikkan dan menyusun barang bawaan penumpang di bagasi busnya. 

Diakuinya seragam itu hanya dikenakan oleh pengemudi saja, termasuk sopir yang ke dua, sedangkan kenek berbeda.

"Tadi ini pakai waktu berangkat jam dua (siang), paling nanti istirahat makan di Cipali ganti sama sopirnya yang lagi istirahat," katanya. 

Bus yang awalnya memulai keberangkatan dari Tangerang sekitar pukul 14.00 dan akan istirahat makan di daearah Cipali sekitar pukul 19.00, bus akan tiba di Madiun pada pukul 5.00 dini hari. 

Pria yang hanya mengandalkan penghasilan untuk keluarga sebagai pengemudi bus ini mengisahkan, dia mulai bekerja sebagai sopir bus malam sejak tahun 2003 dan telah berganti-ganti PO dan juga telah menjelajahi berbagai daerah hingga sampai Denpasar, Bali. Hingga akhirnya dia bergabung di PO tersebut di tahun 2016 hingga saat ini. 

Mengendarai bus saat ini diakui Nahrowi saat pandemi ini penumpang mulai terasa ada pelonjakan kembali. 

"Ya mulai ramai lagi penumpang, lumayan," gumamnya. 

Menjalani bus saat ini diceritakannya, bus akan terus mutar kepala, artinya bus yang dia kendarai baru tiba di Jakarta pagi hari dan akan diberangkatkan kembali ke Madiun pada siang hari. 

Mengenai penghasilan saat ini Nahrowi menjelaskan, dia aka mendapatkan premi dari satu kali trip atau pulang pergi (PP), dan dapat tambahan bonus dari paket barang antaran dan sisa dari uang borongan, jika masih ada. 

"Saya per PP premi Rp280 ribu, belum barang paket, kayak motor dapat 50:50," bebernya. 

Untuk barang bawaan yang akan dibagikan ke kru yang berjumlah tiga orang 50 persen dan perusahaan mendapatkan 50 persen. Dan jika jumlah penumpang bus penuh kru juga mendapatkan hasil penjualan dua tiket penumpang.(fahmi)