Planet Kesembilan Pluto, Apakah Nyata dan Mengapa Tidak ada yang Pernah Melihatnya

  • Oleh : Fahmi

Selasa, 13/Apr/2021 22:20 WIB
Planet Pluto ( NASA and G. Bacon/Getty Images) Planet Pluto ( NASA and G. Bacon/Getty Images)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Hal-hal aneh terjadi di pinggiran luar sistem tata surya kita. Sebuah objek dengan massa sepuluh kali lipat Bumi menarik beda-benda lain ke arahnya. Apakah itu planet, atau sesuatu yang lain?

Percival Lowell adalah seseorang yang membuat banyak kesalahan.

Baca Juga:
Terkait Dugaan Ceceran Minyak di Tambak Masyarakat Desa Lamarantarung, Pemkab Indramayu Desak GM Pertamina Field Jatibarang Turun Tangan

Dikutip BeritaTrans.com dari BBC.com, penulis perjalanan dan pebisnis di abad ke-19 ini — amat sangat kaya, berkumis, dan kerap mengenakan setelan tiga potong yang rapi — suatu hari membaca sebuah buku tentang Planet Mars, dan hanya berdasarkan itu, ia memutuskan menjadi seorang astronom.

Selama beberapa dekade setelahnya, ia membuat sejumlah klaim liar.

Baca Juga:
Perubahan Iklim: Ketika Air Terjun Terbesar di Afrika Berhenti Mengalir

Pertama, ia yakin akan keberadaan Martians — makhluk penghuni Mars — dan mengira dia telah menemukan mereka (ini tidak benar).

Saat sejumlah orang mengatakan mereka menemukan garis-garis aneh yang malang-melintang di permukaan planet itu, Lowell berkata itu adalah kanal-kanal yang dibangun sebagai upaya terakhir peradaban yang nyaris mati untuk mengambil air dari lapisan es di kutub.

Baca Juga:
Walhi Sumut: Proyek Pembangunan PLTA Berkontribusi Terhadap Longsor di Batang Toru

Dengan kekayaannya, dia membangun observatorium untuk melihat garis-garis itu dengan lebih jelas. Ternyata mereka hanyalah ilusi optik, dari pegunungan dan kawah-kawah Mars yang dilihat dengan teleskop berkualitas rendah.

Lowell juga yakin bahwa Planet Venus memiliki jari-jari — ia menggambar garis-garis yang tampak seperti kaki laba-laba yang muncul dari tengah planet (ini juga tidak benar).

Saat asistennya mencoba menemukan jari-jari yang dimaksud Lowell, sepertinya hanya dirinya sendiri lah yang bisa melihat detail tersebut.

Kesimpulan Lowell tersebut kemudian diasumsikan sebagai bayangan dari iris matanya sendiri, saat ia mengintip melalui teleskopnya.

Namun lebih dari segalanya, Lowell sangat bertekad menemukan planet kesembilan di tata surya kita — sebuah "Planet X" hipotesis, yang pada saat itu dianggap bertanggungjawab atas melencengnya orbit planet-planet yang terletak jauh dari Matahari, raksasa biru Uranus dan Neptunus.

Walaupun ia tidak pernah berhasil melihat benda yang seperti hantu itu, pencarian atasnya telah memakan sepuluh tahun terakhir hidupnya — dan setelah beberapa kali mengalami gangguan mental, Lowell meninggal dunia pada usia 61 tahun.

Yang tidak Lowell ketahui, pencarian planet itu masih berlanjut, dengan sedikit perubahan, pada 2021.

Jejak yang salah

Seakan tak mau misi pencarian planet itu terganggu oleh kematiannya sendiri, Lowell dalam surat wasiatnya meninggalkan satu juta dolar untuk proyek menemukan Planet X.

Maka, setelah jeda singkat yang melibatkan pertikaian hukum dengan jandanya, Constance Lowell, observatorium Lowell meneruskan pencarian Planet X.

Empat belas tahun kemudian, pada 18 Februari 1930, seorang astronom muda tengah memandang dua foto langit bertabur bintang, ketika dia melihat sebuah titik di antaranya. Ini adalah sebuah dunia kecil.

Dia telah menemukan Planet Pluto — yang pada saat itu lalu dianggap sebagai Planet X yang misterius

Pluto dinyatakan sebagai planet kerdil pada 2006, membuka celah baru untuk planet kesembilan.

Sayangnya, Pluto bukan planet yang dicari Lowell. Pluto tidak cukup besar untuk bisa menarik Neptunus dan Uranus dari orbit mereka. Pluto hanyalah penyusup yang tidak disengaja, yang kebetulan berada di area itu.

Pukulan terbesar pada pencarian Planet X terjadi pada 1989, ketika pesawat luar angkasa Voyager 2 menyapu Neptunus dan mengungkap bahwa planet tersebut ternyata lebih ringan dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dengan informasi baru ini, seorang ilmuwan NASA mengkalkulasi bahwa orbit dari planet-planet luar ternyata masuk akal.

Lowell telah memulai pencarian yang tidak pernah dibutuhkan.

Namun tepat ketika konsep planet tersembunyi ini dimatikan, sebuah landasan baru diletakkan untuk kebangkitannya.

Pada 1992, dua astronom yang "dengan gigih memindai langit untuk mencari objek redup di luar Neptunus" selama bertahun-tahun, menurut NASA, menemukan Sabuk Kuiper.

Benda kosmik berbentuk seperti donat yang terdiri dari objek-objek beku yang memanjang di luar orbit Neptunus ini adalah salah satu fitur terbesar di tata surya.

Sabuk Kuiper sangat besar; diperkirakan terdiri dari ratusan ribu objek yang membentang lebih panjang dari 100km, serta hingga satu triliun komet.

Dengan cepat para ilmuwan menyadari bahwa Pluto tidak mungkin satu-satunya objek besar di bagian luar tata surya — dan mulai mempertanyakan apakah Pluto benar-benar sebuah planet.

Kemudian mereka menemukan "Sedna" (yang berukuran 40% dari Pluto), "Quaoar" (sekitar separuh besarnya dari Pluto), dan "Eris" (nyaris seukuran Pluto). Jelas sudah, para astronom butuh definisi baru.

Pada 2006, Persatuan Astronomi Internasional memutuskan untuk menurunkan status Pluto menjadi "planet kerdil", bersama dengan temuan-temuan baru lainnya.

Mike Brown, profesor astronomi planet di Institut Teknologi California (Caltech) yang memimpin tim penemu Eris, menyebut dirinya sebagai "orang yang membunuh Pluto" hingga hari ini. Sejak itu, tidak ada lagi planet kesembilan.

Jejak 'berhantu' Planet Kesembilan

Di waktu yang nyaris bersamaan, penemuan objek-objek ini membuka petunjuk baru yang besar dalam pencarian planet tersembunyi.

Ternyata, Sedna tidak bergerak seperti yang disangka semua orang — menelusuri cincin elips mengelilingi Matahari, dari sisi dalam Sabuk Kuiper.

Alih-alih, planet kerdil ini mengambil jalur orbit yang aneh dan tak terduga, berayun dari jarak hanya 76 jarak Bumi-Matahari (sekitar 11 miliar km) dari pusat tata surya kita hingga lebih dari 900 (sekitar 135 miliar km). Orbitnya juga sangat berkelok-kelok, sehingga butuh 11.000 tahun untuk menyelesaikannya — terakhir kali Sedna berada di posisinya saat ini, manusia baru menemukan cara bercocok tanam.

Percival Lowell mendirikan observatoriumnya di Flagstaff, Arizona, untuk mencari kehidupan cerdas di Mars. Pada akhirnya tempat ini digunakan untuk menemukan Pluto

Seakan-akan ada sesuatu yang menarik Sedna dan menyeretnya.

Kemudian, masuklah sebuah benda hipotesis ke sistem tata surya kita — namun tidak dengan cara yang dipikirkan sebelumnya. Di 2016, Mike Brown — orang yang sama yang membunuh Pluto — bersama rekannya Konstatin Batygin yang juga profesor di Caltech, menulis makalah yang mengusulkan adanya sebuah planet masif, dengan ukuran lima sampai 10 kali lebih besar daripada Bumi.

Gagasan mereka datang dari pengamatan bahwa Sedna bukan satu-satunya objek yang keluar dari jalurnya. Sedna adalah satu dari enam objek lain, yang semuanya ditarik menuju arah yang sama.

Ada pula petunjuk-petunjuk lain, seperti fakta bahwa masing-masing objek memiliki kemiringan poros dengan arah yang persis sama. Pasangan tersebut menghitung bahwa probabilitas keenam objek ditarik ke arah yang sama persis, dengan kemiringan yang juga sama persis, hanya 0,007%.

"Kami pikir, 'ini menarik — bagaimana bisa?'" kata Batygin. "Ini sangat luar biasa, karena pengelompokan seperti itu, jika dibiarkan saja dalam jangka waktu yang lama, akan menyebar, karena adanya interaksi dengan gravitasi dari planet-planet."

Oleh karena itu, mereka mengusulkan bahwa Planet Sembilan telah meninggalkan jejak berhantu di bagian luar tata surya kita, mengacaukan orbit benda-benda di sekitarnya dengan tarikan gravitasinya.

Beberapa tahun berjalan, dan jumlah objek yang menunjukkan pola orbit aneh dan kemiringan serupa terus bertambah.

"Sekarang ada 19 objek, secara keseluruhan," ujar Batygin.

Meskipun belum pernah ada yang melihat planet hipotesis ini, banyak perkiraan yang bisa dibuat tentangnya. Sama seperti objek-objek lain di Sabuk Kuiper, orbit Planet Sembilan akan sangat terdistorsi, sehingga titik terjauhnya diperkirakan dua kali lipat titik terdekatnya — sekitar 600 kali jarak dari Matahari ke Bumi (90 miliar km), dan 300 (45 miliar km).

Para ilmuwan juga menebak permukaannya diselimuti es, dengan inti yang kokoh, sama seperti Uranus atau Neptunus.

Tapi kemudian ada pertanyaan rumit tentang dari mana Planet Sembilan mungkin berasal. Sejauh ini, ada tiga kemungkinan utama.

Salah satunya adalah ia terbentuk di tempatnya saat ini tersembunyi. Teori ini ditolak Batygin, yang mengatakan, ini tidak mungkin karena itu berarti sistem tata surya awal harus membentang terlalu jauh.

Ada pula usul menarik bahwa Planet Kesembilan adalah penipu asing; sebuah objek yang dicuri dari bintang lain, dahulu kala ketika Matahari masih berada di gugus bintang tempatnya dilahirkan.

Saat Matahari berpindah dari gugus bintang itu, planet ini tersangkut dengan orbit Matahari.

"Permasalahan dengan teori ini adalah Anda kemungkinan akan kehilangan planet ini pada pembentukan berikutnya," ujar Batygin. "Secara statistik, model ini bermasalah."

Saat ini, Neptunus adalah planet terjauh yang diketahui dalam tata surya kita, tetapi mungkin ada planet lain yang bersembunyi di luar Sabuk Kuiper.

Lalu ada teori favorit Batygin, yang diakuinya "bukan teori yang sangat jitu". Dalam skenario ini, planet tersebut terbentuk jauh lebih dekat dengan Matahari, di masa ketika tata surya masih di awal pembentukannya dan planet-planet baru mulai menyatu dengan gas dan debu di sekitarnya.

"Planet itu kemungkinan ada di sekitar wilayah pembentukan planet-planet besar, sebelum dikacaukan oleh Jupiter dan Saturnus, dan kemudian orbitnya dimodifikasi oleh bintang-bintang yang lewat," ujarnya.

Tempat persembunyian yang samar

Tentu saja, seluruh teori ini menimbulkan pertanyaan — jika Planet Sembilan benar-benar nyata, mengapa belum pernah ada yang melihatnya?

"Saya tidak menyangka menemukan Planet Sembilan bisa sesulit ini, sampai saya mulai mencarinya bersama Mike menggunakan teleskop," kata Batygin.

"Alasan pencarian ini sulit adalah, kebanyakan pengamatan astronomi tidak mencari satu hal yang spesifik."

Misalnya, astronom biasanya mencari objek luar angkasa dengan klasifikasi, seperti jenis planet tertentu. Meskipun objeknya jarang ditemui, bila astronom mengamati ruang yang cukup luas, Anda akan menemukan sesuatu.

Namun memburu objek tertentu seperti Planet Sembilan, adalah praktik yang benar-benar berbeda.

"Hanya ada satu bagian kecil dari angkasa yang memilikinya," kata Batygin, yang menjelaskan bahwa faktor kesulitan lain adalah memesan slot waktu untuk menggunakan jenis teleskop yang tepat.

"Saat ini, satu-satunya teleskop yang bisa dipakai untuk menemukan Planet Sembilan adalah Teleskop Subaru," ujar Batygin.

Teleskop raksasa sebesar 8,2 meter ini — terletak di puncak gunung berapi yang tidak aktif di Maunakea, Hawaii — mampu menangkap cahaya lemah dari benda-benda luar angkasa yang amat jauh.

Ini sangat ideal, karena planet misteri ini kemungkinan sangat jauh, sehingga tidak mungkin memantulkan banyak cahaya dari Matahari.

"Kami hanya punya satu mesin yang bisa kami pakai, dan kami hanya bisa menggunakannya mungkin tiga malam dalam setahun," ujat Batygin, yang baru saja selesai menggunakan jatah tiga malamnya sepekan sebelum wawancara ini.

"Kabar baiknya, teleskop Vera Rubin akan online beberapa tahun mendatang, dan mereka mungkin bisa menemukan Planet Sembilan."

Teleskop generasi mendatang ini, yang sekarang sedang dibangun di Chili, akan memindai langit secara sistematis — memotret seluruh penampakan yang tersedia — setiap beberapa malam, untuk mensurvey isinya.

Alternatif yang menarik

Namun begitu, ada satu skenario yang nyaris muskil, di mana planet tersebut tidak akan ditemukan — yakni bila Planet Sembilan sama sekali bukanlah planet, melainkan sebuah lubang hitam.

Teleskop Subaru di Hawaii telah menemukan objek terjauh di tata surya, yang dinamai "Farfarout" selama pencarian Planet Sembilan.

"Semua bukti menunjukkan objek ini memiliki gravitasi," kata James Unwin, profesor fisika di Universitas Illinois, Chicago, yang pertama kali mengemukakan gagasan lubang hitam, bersama Jakub Scholtz, peneliti pascadoktoral dari Universitas Turin.

Kita telah akrab dengan gagasan bahwa planet-planet mengeluarkan gaya gravitasi, tapi "ada benda-benda lain yang juga bisa menghasilkan gaya itu, bahkan dengan lebih kuat," tukas Unwin.

Beberapa pengganti Planet Sembilan yang paling masuk akal termasuk sebuah bola dengan materi gelap yang sangat terkonsentrasi, atau lubang hitam primordial.

Karena lubang hitam adalah salah satu benda paling padat di alam semesta, Unwin menjelaskan bahwa sangat mungkin lubang hitam dapat membelokkan orbit objek yang terletak jauh di tata surya bagian luar.

Lubang hitam yang paling kita kenal cenderung menyertakan lubang hitam "bintang", yang memiliki massa setidaknya tiga kali massa Matahari kita, dan lubang hitam "supermasif" yang memiliki jutaan bahkan miliaran kali massa Matahari.

Jenis yang pertama tercipta karena bintang-bintang yang telah mati melebur menjadi satu, namun jenis yang kedua lebih misterius asal-usulnya — kemungkinan dimulai dari bintang-bintang besar yang meledak, kemudian secara bertahap mengakumulasi lebih banyak massa dengan cara menelan segala sesuatu di sekitarnya, termasuk lubang hitam lainnya.

Lubang hitam primordial berbeda. Mereka belum pernah diamati sebelumnya, namun diperkirakan berasal dari kabut energi dan materi panas yang terbentuk pada awal Dentuman Besar.

Di lingkungan yang belum stabil ini, beberapa bagian dari alam semesta mungkin menjadi begitu padat, mereka terkompresi menjadi kantong-kantong kecil dengan massa planet-planet.

Unwin mengatakan, tidak ada kemungkinan lubang hitam tersebut terbentuk dari bintang, karena mereka memiliki gaya gravitasi kuat — namun terkonsentrasi.

Bahkan lubang hitam bintang yang terkecil memiliki massa tiga kali massa Matahari, jadi ini seperti memiliki tiga Matahari menarik planet-planet di sistem tata surya kita. Intinya, kita pasti akan menyadarinya.

Unwin dan Scholtz berkata, kemungkinan ini adalah lubang hitam primordial, karena lubang hitam seperti itu diperkirakan lebih kecil ukurannya.

"Karena benda-benda ini lahir di masa awal terbentuknya alam semesta, daerah padat tempat mereka terbentuk bisa jadi sangat kecil," kata Scholtz.

"Hasilnya, massa yang terkandung dalam lubang hitam ini bisa saja jauh lebih kecil dari massa sebuah bintang — mungkin hanya beberapa kilogram, seperti sebongkah batu."

Ini lebih sesuai dengan perkiraan massa Planet Sembilan, yang diperkirakan setara dengan massa sepuluh Bumi.

Planet kerdil Sedna memiliki orbit tak biasa yang bisa dijelaskan dengan tarikan gravitasi dari sebuah planet yang belum ditemukan.

Seperti apa penampakan lubang hitam ini? Apakah kita harus khawatir? Dan apakah ini lebih mendebarkan ketimbang menemukan sebuah planet?

Pertama-tama, bahkan lubang hitam primordial sekalipun memiliki kepadatan cukup sehingga tidak ada cahaya yang bisa lolos darinya. Mereka adalah bentuk hitam yang paling hitam.

Artinya, lubang hitam ini tidak akan muncul saat dipindai dengan teleskop yang saat ini telah ada.

Jika Anda melihatnya secara langsung, satu-satunya yang Anda temukan adalah sebuah kehampaan — sebuah celah kecil dalam selimut bintang di langit malam.

Yang kemudian membawa kita ke permasalahan yang sebenarnya. Meskipun massa dari lubang hitam ini sama dengan massa yang mungkin dimiliki Planet Sembilan — yakni hingga 10 kali massa Bumi — ia akan terkondensasi menjadi volume yang kira-kira seukuran buah jeruk. Untuk bisa menemukannya, akan butuh kecerdikan tingkat tinggi.

Sejauh ini, cara yang diusulkan termasuk mencari sinar gamma yang dipancarkan oleh sebuah objek saat mereka jatuh ke lubang hitam, atau melepaskan konstelasi ratusan pesawat ruang angkasa kecil yang mungkin — bila kita cukup beruntung — lewat cukup dekat dengan lubang hitam tersebut sehingga mereka ditarik ke arahnya.

Karena tarikan gravitasi misterius ini memancar dari jangkauan terjauh tata surya kita, roket-roket ini harus dikirim melalui laser yang mengarah ke Bumi, yang dapat mendorongnya hingga 20% dari kecepatan cahaya. Jika mereka meluncur dengan lambat, mungkin butuh ratusan tahun untuk sampai ke sana. Sebuah eksperimen yang, secara alami, melampaui masa hidup manusia.

Kebetulan, pesawat ruang angkasa futuristik ini tengah dikembangkan untuk misi ambisius lain, Proyek Breakthrough Starshot, yang bertujuan mengirimnya ke sistem bintang Alpha Centauri, yang berjarak 4,37 tahun cahaya.

Jika kita menemukan sebuah lubang hitam yang tersembunyi, alih-alih sebuah planet beku, Unwin berkata tak ada alasan untuk panik.

"Ada sebuah lubang hitam supermasif di tengah-tengah galaksi kita," ujarnya. "Tapi kita tidak khawatir sistem tata surya kita jatuh ke dalamnya, karena kita berada di orbit yang stabil di sekelilingnya."

Jadi, meski lubang hitam primitif akan menyedot apa saja yang ada di jalurnya, ia tidak akan menghisap Bumi yang — seperti planet-planet dalam lainnya — tidak pernah mengorbit di dekatnya.

"Ini tidak seperti penyedot debu," ujar Unwin. Dia menjelaskan bahwa dari perspektif siapa pun di Bumi, memiliki lubang hitam yang belum ditemukan di tata surya tidak jauh berbeda dengan memiliki sebuah planet tersembunyi di sana.

Namun meski lubang hitam bintang dan lubang hitam primordial pada dasarnya sama, yang terakhir disebutkan itu tidak pernah dipelajari sebelumnya. Ia juga berbeda dalam beberapa hal, yang diperkirakan akan menyebabkan beberapa fenomena aneh.

"Menurut saya, hal-hal yang terjadi dengan lubang hitam kecil jauh lebih menarik daripada hal-hal yang terjadi dengan lubang hitam besar," kata Scholtz.

Lubang hitam adalah objek tergelap di alam semesta. Dalam sebuah ledakan bintang, lubang hitam tampak di tengah-tengahnya.

Salah satu contohnya adalah sebuah proses yang dinamai "spagetifikasi". Proses ini kerap kali diilustrasikan dengan dongeng seorang astronot yang berkelana terlalu dekat dengan cakrawala sebuah lubang hitam — titik di mana tidak ada cahaya yang bisa lolos — dan jatuh dengan kepala terlebih dahulu.

Meskipun kepala dan kakinya hanya berjarak beberapa meter, perbedaan kekuatan gravitasi pada keduanya akan sangat besar, dan tubuh astronot tersebut akan meregang seperti spageti.

Menariknya, efek ini akan semakin dramatis, bila lubang hitamnya semakin kecil. Scholtz menjelaskan, ini semua bergantung pada jarak relatif. Jika Anda memiliki tinggi dua meter, dan Anda terjatuh melalui cakrawala yang jaraknya satu meter dari pusat lubang hitam primordial, perbedaan antara lokasi kepala dan kaki Anda lebih besar dibandingkan dengan ukuran lubang hitam.

Ini berarti, Anda akan meregang lebih panjang ketimbang bila Anda jatuh ke lubang hitam bintang yang lebarnya bisa jutaan kilometer.

"Maka, uniknya, mereka jauh lebih menarik," kata Scholtz. Spagetifikasi telah terlihat melalui teleskop, ketika sebuah bintang berada terlalu dekat dengan lubang hitam bintang yang jaraknya 215 tahun cahaya dari Bumi, dan terkoyak-koyak karenanya.

Namun bila ada sebuah lubang hitam primordial di tata surya kita, maka ini akan memberikan kesempatan kepada para astrofisikawan untuk mempelajarinya dari dekat.

Jadi, apa pendapat Batygin tentang kemungkinan bahwa Planet Sembilan yang telah lama dicari itu sebenarnya sebuah lubang hitam?

"Itu adalah gagasan yang kreatif, dan kami tidak dapat membatasi apa pun komposisinya," ujarnya. "Mungkin ini prasangka saya sendiri karena saya seorang profesor ilmu planet, namun menemukan planet adalah hal yang sedikit lebih umum…"

Sementara Unwin dan Scholtz bersemangat menemukan sebuah lubang hitam untuk bereksperimen, Batygin lebih tertarik dengan ide sebuah planet raksasa — sembari mengingatkan bahwa benda-benda yang paling umum ditemukan di galaksi adalah objek yang memiliki massa sekitar sama dengan Planet Sembilan.

"Sementara sebagian besar planet di luar tata surya yang mengorbit mengelilingi bintang seperti Matahari, memiliki massa yang lebih besar dari Bumi namun lebih kecil dari Neptunus dan Uranus," tukasnya.

Jika para ilmuwan benar-benar menemukan planet yang hilang itu, maka ini adalah hal terdekat yang bisa menjadi jendela ke tempat-tempat lain di galaksi.

Hanya waktu yang bisa menjawab, apakah pencarian ini akan lebih berhasil ketimbang pencarian Lowell. Namun Batygin yakin bahwa misi mereka sama sekali berbeda.

"Kedua proposal cukup berbeda dalam hal data yang ingin mereka jelaskan, dan mekanisme yang dipakai untuk menjelaskannya," ujarnya.

Apa pun itu, pencarian panjang Planet Kesembilan yang legendaris telah membantu mengubah pemahaman kita tentang sistem tata surya. Siapa tahu apa lagi yang bisa kita temukan sebelum pencarian ini berakhir.(sumber:BBCIndonesia.com)