Gandeng ITB, Balitbanghub Kolaborasi 15 Riset Termasuk Terkait Seaplane dan Drone

  • Oleh : Naomy

Jum'at, 21/Mei/2021 13:46 WIB
Kolaborasi Balitbanghub dan ITB Kolaborasi Balitbanghub dan ITB

BANDUNG (BeritaTrans.com) - Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara menggelar courtesy call ke Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Kamis (20/5/2021).

Baca Juga:
Sambut Harhubnas, Balitbanghub Gelar Donor Darah dan Plasma Konvalesen

Kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka pengembangan kolaborasi riset. 

Dalam pertemuan tersebut, Kepala Badan Litbang Perhubungan Umar Aris berbincang dengan Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, terkait rencana kolaborasi bersama. 

Baca Juga:
Manfaat Digitalisasi Dokumen Logistik Hasil Kajian Balitbanghub

"Ini merupakan salah satu tindak lanjut dari penandatangan MoU antara Menteri Perhubungan dengan Rektor ITB di tahun 2017," ujar Umar di Bandung, Kamis (20/5/2021).

Menurutnya, kemajuan pelayanan transportasi membutuhkan inovasi dan sinergi antarstakeholders terkait seperti antara Academic, Business, Community, Government, dan Media.

Baca Juga:
Kabadan Litbanghub: Tingkatkan Potensi Kepulauan Mentawai Butuh Sinergi Pusat dan Daerah

“Dalam penetapan kebijakan ini perlu didasarkan kepada kajian ilmiah yang melibatkan unsur-unsur tersebut,” tegas dia.

Pada kunjungan kali ini dibahas mengenai isu strategis dan rencana riset transportasi terutama transportasi udara dengan mempertimbangkan potensi kedirgantaraan di Indonesia. 

Terdapat 15 judul penelitian yang dikerjasamakan pada tahun ini.

Tema-tema penelitian itu termasuk isu strategis di bidang transportasi, diantaranya keselamatan dan keamanan, konektivitas dan aksesibilitias, pelayanan transportasi, pengembangan transportasi di kawasan strategis pariwisata nasional.

Selain itu sistem transportasi ibukota negara, pengembangan transportasi di kawasan terluar, terdepan, tertinggal dan perbatasan, pengembangan sistem transportasi pendukung logistik, serta sumber daya manusia, dan kelembagaan.

Rektor ITB dalam pertemuan tersebut mengatakan, pihaknya mencoba menjawab masalah yang sudah diidentifikasi oleh Kemenhub melalui penajaman studi serta membantu peneliti untuk bersama-sama menyelesaikannya.

Lebih lanjut Umar menegaskan, saat ini yang menjadi fokus utama Menteri Perhubungan adalah pengoperasian drone dan seaplane yang mengikuti kemajuan zaman. 

Khususnya termasuk peluang pemanfaatan pesawat N-219 untuk penerbangan seaplane.

Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Sigit P. Santosa menyebutkan, peluang seaplane di Indonesia cukup besar. 

Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB bersama PT Dirgantara Indonesia dan Badan Litbang Perhubungan kata dia,  berencana melakukan kerja sama penelitian terkait pengembangan seaplane di Indonesia.

Saat ini pesawat N-219 sudah mendapat sertifikasi dari Kementerian Perhubungan, namun pesawat N-219 tipe amphibi masih dalam tahap pengembangan di mana akan dilakukan beberapa peningkatan untuk kebutuhan desain dan juga perfoma. Pesawat N-219 dinilai paling optimum untuk pasar Indonesia.

“Jadi yang dipakai di Indonesia ini kan kebanyakan pesawat tipe twin otter, head to head-nya adalah N219. Namun jika kita menggunakan N-212 itu terlalu besar, cakupan load factor malah jadi rendah, jadi yang paling optimum untuk pasar Indonesia memang yang kapasitas 19 penumpang, supaya load factornya terjaga minimal di 80%,” urai Sigit.

Penelitian terkait teknologi transportasi ini dilakukan bersama ITB, UGM, serta UI. 

Di ITB sendiri memiliki jurusan kedirgantaraan yang membedakan dengan kampus lainnya, dan terdapat pengembangan SDM Kemenhub untuk bersekolah double degree di ITB yang bekerja sama dengan  Ecole Nationale de l’Aviation Civile (ENAC) di Perancis.

“Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan dapat terjalin suatu kerjasama yang strategis dan implementatif untuk kedua belah pihak serta dapat menjadi landasan untuk menjawab tantangan yang ada saat ini maupun ke depannya," pungkas Umar. (omy)