Kasus Tumpahan Minyak di Gianyar, Dugaan Awal dari Residu yang Dibuang Kapal Besar

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 10/Jun/2021 05:41 WIB
Foto:istimewa/merdeka.com Foto:istimewa/merdeka.com

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Permana Yudiarso menyampaikan, penelitian terkait tumpahan minyak di sepanjang Pantai Saba menuju Pantai Purnama, Gianyar, Bali, masih menunggu hasil dari Pusat Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) Kementerian ESDM.

Untuk sampel minyak sudah dikirim sejak seminggu yang lalu. Kini pihaknya menunggu hasilnya untuk mengetahui jenis minyak tersebut.

Baca Juga:
Distribusi Beras di Papua Barat Lebih Lancar Berkat Trayek T-19 Tol Laut

"sampel itu kita kirimkan ke Lemigas dan lagi diproses, kita lagi nunggu hasil dari mereka. Kami melakukan uji ke sana. Saya belum dapat laporan itu," kata Yudiarso saat dihubungi, Rabu (9/6).

Namun dari petunjuk awal bahwa minyak itu adalah minyak tarball atau residu yang sudah mengering di permukaan laut dan mengapung, lalu terdampar di pesisir pantai.

Baca Juga:
Jelang Hari Pelaut Sedunia, Kemenhub Vaksinasi Gratis 10.000 Pelaut di Pelabuhan Tanjung Priok

"Residu minyak ini belum diketahui kandungannya. Apakah ini minyak bumi atau minyak mentah atau minyak oli atau minyak lainnya. Untuk itu, kami melalukan penyelidikan di Lemigas Kementerian ESDM," imbuhnya.

Jika dianalisa secara logis, minyak residu itu diduga dibuang oleh kapal-kapal besar yang lewat di perairan tersebut. Karena sampai saat ini laporan pembuangan minyak di darat tidak ada.

Baca Juga:
Soal Tol Laut, Menko Luhut Putar Otak agar Muatan Kapal Balik Tak Kosong

"Tapi kalau dataran tidak ada laporan, sementara dugaannya masih dari kapal kemungkinan," katanya.

Ia menyebutkan, semua kapal-kapal besar berpotensi membuang residu. Namun bukan kapal kecil nelayan karena kapal nelayan memakai BBM, solar atau bensin. Sementara ceceran minyak itu berwarna hitam pekat.

"Kami, tidak bisa langsung menuduh kapal A, tapi yang kami lakukan berkoordinasi Kementerian Perhubungan untuk menyampaikan laporan ini agar ditindaklanjuti. Mungkin dia bikin imbauan atau sosialisasi ke operator-operator kapal," jelasnya.

Dari hasil telaah citra satelit yang bekerja sama dengan Balai Riset Operasi Laut, Perancak, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pada sore tanggal 4 Mei 2021 ceceran tumpahan berada di Selatan Nusa Penida.

"Dari situ, kami membuat simulasi atau pemodelan, ini kira-kira dari mana asal datangnya. Kami duga tumpahan minyak itu yang tercecer dan terdampar di Pantai Saba," ujarnya.

"Dari citra satelit, kami dapatkan awal itu bahwa memang ada tumpahan minyak yang tercecer di Selatan Nusa Penida pada tanggal 4 Mei, hanya saja belum diketahui dari mana asalnya ini. Karena kami tidak ambil sampel lapangan pada waktu itu," ujar Yudiarso.(amt/sumber:merdeka.com)