Menkominfo Percepat Transformasi Digital dengan Membangun Satelit SATRIA I

  • Oleh : Naomy

Rabu, 18/Agu/2021 16:02 WIB
Peletakan batu pertama pembangunan satelit SATRIA Peletakan batu pertama pembangunan satelit SATRIA

CIKARANG (BeritaTrans.com) -  Peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan Indonesia jadi momentum peletakan batu pertama pembangunan (ground breaking) ruang kendali Satelit Multifungsi (SMF) Indonesia Raya 1 (SATRIA-1) di kawasan perkantoran PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Rabu (18/8/2021).

Peletakan batu pertama ini dilaksanakan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G. Plate.

Baca Juga:
Mantap, BAKTI Kominfo Beri Ruang Gratis Digital bagi Kalangan Disabitas

"Ini sekaligus menunjukkan bahwa meskipun masih berada di tengah situasi pandemi, upaya-upaya percepatan transformasi digital untuk seluruh pelosok Tanah Air terus diwujudkan," jelas Jhonny. 

Teknologi satelit merupakan salah satu pilihan yang cocok untuk diadopsi mengejar konektivitas, terutama mencakup daerah-daerah blankspot sinyal karena susah dijangkau teknologi akses internet jenis teresterial. 

Baca Juga:
BAKTI Kominfo Berkomitmen Hadirkan Tol Langit dengan Palapa Ring Integrasi

Satelit SATRIA-1 diharapkan dapat beroperasi mulai Kuartal III tahun 2023.

“Groundbreaking di Cikarang pada hari ini menandai dimulainya pembangunan stasiun bumi Proyek Satelit SATRIA pertama atau SATRIA-1, yang sekaligus menunjukkan upaya-upaya percepatan transformasi digital terus diwujudkan demi menghadirkan konektivitas digital di seluruh pelosok Nusantara," urainya.

Baca Juga:
Tahun 2023 BAKTI Kominfo akan Hadirkan Satelit Satria di Wilayah 3T

Melalui stasiun pengendali digital ini, Pemerintah dapat mengendalikan dan mengawasi pergerakan Satelit SATRIA-1, melakukan manajemen jaringan agar sesuai dengan standar kestabilan layanan, dan menjadi sarana komunikasi data antara Satelit SATRIA-1 dengan bumi.

Dalam prosesi Groundbreaking tersebut, Menkominfo Johnny G Plate didampingi Direktur PSN Adi Rahman Adiwoso dan jajaran direksi PSN; Anggota III BPK Achsanul Qosasi; Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo Anang Latif; Plt Bupati Bekasi, Dani Ramdhan; serta jajaran Kemenkominfo dan lembaga pemerintah melalui zoom meeting.

“Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, gunung-gunung, bukit, lembah, sungai, ngarai, selat, dan laut yang luas dengan beragam tantangan dalam penyediaan jaringan terestrial menjadi salah satu pertimbangan dalam pilihan teknologi satelit sebagai solusi telekomunikasi dalam usaha bersama untuk memperkecil kesenjangan akses broadband internet untuk menjembatani digital divide," ungkap dia. 

Proyek Satelit SATRIA-1 ini merupakan bentuk nyata upaya Kementerian Kominfo untuk menyediakan konektivitas yang inklusif dan merata hingga ke seluruh pelosok negeri, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

SATRIA-1 direncanakan akan memiliki 11 stasiun bumi/gateway di beberapa lokasi yang tersebar di Indonesia antara lain di Batam, Cikarang, Banjarmasin,Tarakan, Pontianak, Kupang, Ambon, Manado, Manokwari, Timika dan Jayapura.

Cikarang akan menjadi lokasi untuk Stasiun Pusat Pengendali Satelit Primer, Network Operation Control, dan Gateway Proyek SATRIA yang merupakan satu kesatuan dari proyek. 

"SNT saat ini sedang dalam tahap proses pengadaan lahan untuk seluruh stasiun bumi yang seluruhnya terdapat di 11 lokasi secara paralel," kata Jhonny.

Direktur BAKTI Anang menambahkan, SATRIA-1 akan dapat menyediakan kecepatan kurang lebih 5 Mbps/titik lokasi. 

"Kapasitas ini untuk tahap awal akan mencukupi untuk melayani akses internet yang dibutuhkan oleh 150 ribu titik layanan publik, yang tersebar di di 93.900 titik sekolah dan pesantren, 47.900 titik di pemda/kecamatan/desa, 3.900 titik kantor polisi/TNI di wilayah 3T, 3.700 titik puskesmas/rumah sakit, dan 600 titik layanan publik lainnya,” ucap Anang.

Peletakan batu pertama ini juga menunjukkan bahwa kendala-kendala yang dihadapi, yang juga dihadapi oleh semua pelaku ekonomi dalam situasi pandemi Covid-19, telah bisa kita atasi sehingga bisa sampai tahap ini. (omy)

Sampai dengan saat ini tahapan konstruksi satelit dan pembangunan stasiun-stasiun bumi proyek SATRIA ini masih sesuai dengan rencana. 

"Mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia, agar satelit bisa mengorbit sesuai jadwal, yaitu pada tahun 2023 mendatang,” tutur Adi Rahman Adiwoso, Direktur PSN.

Proyek SMF SATRIA merupakan proyek pembangunan sistem satelit untuk penyediaan akses internet pita lebar (broadband internet access) melalui satelit untuk seluruh wilayah Indonesia.  

Satelit SATRIA diharapkan akan menjadi salah satu solusi bagi infrastruktur telekomunikasi Indonesia untuk mengatasi digital gap karena satelit lebih memungkinkan menjangkau seluruh wilayah Indonesia bahkan sampai ke pelosok negeri.

Proyek SMF SATRIA ini dikerjasamakan dalam skema KPBU (Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha) dengan Kominfo bertindak selaku penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK) melalui Badan Layanan Umum BAKTI Kominfo. 

Pabrikan Proyek KPBU SATRIA adalah Thales yang bermarkas di Prancis sedangkan peluncuran akan dilakukan dengan menggunakan roket Falcon 9-5500 yang diproduksi oleh Space X Amerika Serikat. 

Thales Alenia Space merupakan perusahaan pembuat satelit ternama yang ditunjuk oleh SNT sebagai kontraktor pembuat satelit untuk proyek SMF.

Konsorsium PSN membentuk Satelit Nusantara Tiga (SNT) sebagai Badan Usaha Penyelenggara (BUP) terkait proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Satelit Multifungsi ini. 

"Konsorsium PSN merupakan konsorsium perusahaan-perusahaan dalam negeri, di mana PSN sebagai salah anggota konsorsium adalah perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia yang telah memiliki pengalaman sebagai satelit operator untuk wilayah Indonesia dan Asia selama hampir 30 tahun," ungkapnya. (omy)