Koridor Wakhan di Afghanistan, `tempat paling terpencil dan terindah di seluruh Asia yang tak tersentuh waktu`

  • Oleh : Redaksi

Selasa, 07/Sep/2021 22:05 WIB
Pernah menjadi wilayah terpencil yang nyaris tak tersentuh oleh waktu, Koridor Wakhan di Afghanistan berada di ambang perubahan besar dengan adanya pembangunan jalan yang terhubung dengan China. Foto: bbcindonesia.com. Pernah menjadi wilayah terpencil yang nyaris tak tersentuh oleh waktu, Koridor Wakhan di Afghanistan berada di ambang perubahan besar dengan adanya pembangunan jalan yang terhubung dengan China. Foto: bbcindonesia.com.

AFGHANISTAN (BeritaTrans.com) - Pernah menjadi wilayah terpencil yang nyaris tak tersentuh oleh waktu, Koridor Wakhan di Afghanistan berada di ambang perubahan besar dengan adanya pembangunan jalan yang terhubung dengan China.

Berbatasan dengan China, Iran, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan, Afghanistan berada di jantung Asia. 

Baca Juga:
Bangkitkan Ekonomi Pasca-Pandemi, Jasa Raharja Bantu Pengaspalan Jalan Akses ke Embung Giriroto

Negara itu adalah rumah bagi lebih dari 32 juta jiwa, yang seperempat penduduknya tinggal di pusat kota besar seperti Mazar-e Sharif, terletak 320 km barat laut ibu kota Kabul.

Mazar-e Sharif adalah kota terbesar keempat di negara ini, dengan pusatnya adalah Masjid Hazrit Ali - sebuah mahakarya arsitektur Islam, yang menurut legenda setempat, adalah tempat pemakaman Ali, sepupu dan menantu Nabi Muhammad.

Baca Juga:
Wisata Indonesia Menggeliat, Maret 2022 Ada 40.800 Kunjungan Wisman

Masjid ini juga terkenal dengan kawanan merpati putihnya. 

Penduduk setempat percaya bahwa setitik kecil warna lain pada bulu merpati akan langsung berubah menjadi putih bersih ketika berada di sekitar bangunan suci ini.

Baca Juga:
Pariwisata Bali Masih Tidak Menentu di Tengah Kemunculan Varian Omicron Akhir Tahun

Koridor terpencil

Sekitar 600 km di sebelah timur Mazar-e Sharif, Koridor Wakhan adalah dunia yang terpisah dari bagian negara lainnya, baik secara budaya maupun geografis. 

Deretan pegunungan sepanjang 350 km di wilayah Badakhshan ini terletak di pertemuan tiga pegunungan utama dunia: Hindu Kush, Karakoram dan Pamir - yang dikenal sebagai Pamir Knot. 

"Ini jauh dari kebisingan, lalu lintas, dan adzan muazin di perkotaan Afghanistan sejauh yang Anda mampu bayangkan," kata James Willcox dari untamedborders.com, salah satu dari sedikit perusahaan perjalanan petualangan di dunia yang mengatur perjalanan ke kawasan ini. 

"Hampir tidak berpenghuni dan sulit dijangkau; hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaannya. Tidak diragukan lagi, ini adalah salah satu tempat paling terpencil dan terindah di seluruh Asia."

Kehidupan pedesaan

Tersebar di sepanjang Koridor Wakhan adalah permukiman pedesaan kecil seperti Khandud, dengan rumah-rumah sederhana yang terbuat dari batu, lumpur dan kayu. 

Beberapa desa yang lebih besar dihubungkan oleh satu jalur tanah, sering kali tidak dapat dilalui oleh perairan Sungai Panj. 

"Sangat sedikit orang yang memiliki mobil sendiri di Wakhan, tetapi kami memiliki transportasi komunitas - juga keledai, dan kaki kami, tentu saja," kata Azim Ziahee, seorang penduduk Ishkashim, yang terletak 80 km jauhnya dari ujung barat Koridor.

"Wakhan masih tetap sangat terpencil. Beberapa desa berjarak lebih dari empat hari berjalan kaki ke Ishkashim. Kota besar terdekat dari sini - Dushanbe, ibu kota Tajikistan - berjarak tiga hari berkendara. 

"Isolasi membuat koridor tetap seperti kapsul waktu. Kami melihat ke perbatasan menuju Tajikistan, dengan listriknya, jalan beraspal, dan sinyal ponsel, dan memandang bahwa itu seperti melihat 100 tahun ke depan."

Rumah bagi orang Wakhi

Selama lebih dari 2.500 tahun, Koridor Wakhan telah menjadi kampung halaman bagi Wakhi dan sekarang menjadi rumah bagi sekitar 12.000 penduduk. 

Sementara mayoritas warga Afghanistan adalah Muslim Sunni konservatif, orang-orang Wakhi berhaluan Ismailiyah, yang termasuk dalam cabang Islam Syiah. 

Di sini, para perempuan tidak mengenakan burqa, dan tidak ada masjid. Sebagai gantinya, Wakhi mengunjungi jamatkhana, rumah ibadah yang juga berfungsi sebagai balai komunitas untuk melakukan bisnis desa. 

"Ismailiyah dianggap tidak seketat Sunni," kata Willcox. 

"Misalnya, di Wakhan, pengunjung pria Barat dapat meminta izin untuk mengambil foto perempuan tanpa menimbulkan rasa tersinggung. Di tempat lain di Afghanistan hal itu tidak terpikirkan."

Ritme kehidupan

Orang-orang Wakhi memiliki pata pencaharian sebagai petani, menanam gandum, barley, kacang polong, kentang, dan pohon apel dan aprikot dalam kondisi cuaca koridor yang semi-kering. 

Ladang mereka mendapat pengairan dari gletser gunung yang mencair. 

Keluarga yang lebih kaya memiliki domba dan kambing bersama dengan beberapa unta, yak, kuda, dan keledai.

"Setiap bulan Juni, Wakhi membawa ternak mereka ke padang rumput di ketinggian 4.500 m, di mana hewan-hewan itu tumbuh gemuk di rerumputan yang subur," kata Ziahee.

"Migrasi ini disebut 'kuch'. Kami juga memiliki 'Chinir', yang merupakan festival kami di awal Agustus untuk merayakan dimulainya panen jelai.

"Di kota-kota Afghanistan, salat lima waktu membentuk struktur hari itu, tetapi di sini, kami merasakan hubungan yang hebat dengan tanah, dan sementara kami berdoa setiap hari, ritme kehidupan lebih banyak berputar di sekitar ladang, musim, dan alam," ujar Ziahee. 

Tradisi berabad-abad

Salah satu tradisi Wakhan yang paling khas adalah permainan buzkhasi yang berusia berabad-abad, kadang-kadang digambarkan sebagai rugby di atas kuda dengan tubuh kambing sebagai bola. 

Dianggap sebagai pendahulu olahraga polo, buzkashi tidak memiliki aturan dan tidak ada sisi.

Tentu tidak ada "permainan yang adil", karena para pesaing akan saling meninju dan mencambuk demi mendapatkan kambing, dan patah tulang tidak jarang terjadi.

"Desa Wakhi suka bermain satu sama lain, terutama di Nawruz, yang merupakan Tahun Baru Afghanistan," jelas Ziahee. 

"Tapi di sini berbeda dengan bagian lain di Afghanistan. Di tempat lain, buzkashi lebih politis - ditampilkan untuk menunjukkan kekuatan elit, atau oleh politisi sebagai cara untuk memenangkan suara."

"Di sini, ini semua tentang kompetisi dan komunitas. Ini adalah salah satu dari banyak hal yang membuat Wakhan begitu unik."

Belum tersentuh pariwisata

Sementara situasi keamanan Afghanistan menentukan bahwa sebagian besar negara itu terlarang bagi orang asing, Koridor Wakhan bisa dibilang relatif aman. 

Di samping pemandangan pegunungan yang sejuk dan budaya orang-orang Wakhi yang terpelihara dengan baik, Koridor Wakhan memiliki daya tarik bagi para petualang dalam beberapa tahun terakhir. 

"Awalnya hanya segelintir pengunjung," kata Ade Summers, seorang pemandu petualangan yang telah memimpin sembilan ekspedisi ke Wakhan.

"Lebih dari satu dekade, itu perlahan tumbuh hingga 600 orang per tahun. Merupakan hak istimewa untuk mengunjungi suatu tempat yang tidak terjamah oleh pariwisata arus utama, di mana Anda dapat terlibat dengan orang-orang yang masih menikmati cara hidup tradisional mereka. 

"Saat Anda melakukan perjalanan di sepanjang Wakhan, tidak hanya sangat indah, setiap langkah yang Anda ambil seperti membalik halaman buku sejarah yang menarik."

Bagian dari Jalur Sutra

Selama ratusan tahun, Koridor Wakhan merupakan jalur penting bagi para pedagang yang melakukan perjalanan di sepanjang Jalur Sutra, jalur perdagangan yang muncul pada abad ke-1 dan ke-2 SM, menghubungkan China dengan Laut Tengah. 

"Para pedagang itu membawa sutra China, perak Persia, emas Romawi, dan lapis lazuli Afghanistan, yang ditambang di sini di wilayah Badakhshan," kata Summers.

"Kami menemukan seni cadas yang merinci sejarah Jalur Sutra, seperti petroglif unta berjalan dalam satu barisan sebagai karavan dagang." 

Pelancong dan peziarah mengikuti jejak para pedagang. 

"Marco Polo dikatakan telah melewati sini dalam perjalanannya ke China pada abad ke-13, juga Alexander Agung. 

"Kita masih bisa melihat sisa-sisa tempat perlindungan pelancong bersejarah yang dikenal sebagai rabat, serta stupa Buddha kuno," ujar Summers. 

Tempat yang strategis

Pada akhir abad ke-19, Koridor Wakhan memainkan peran kunci dalam apa yang disebut "Permainan Hebat" antara Inggris Raya dan Rusia. 

"Ketika Rusia dan Inggris bertempur menguasai Asia Tengah, Afghanistan sangat strategis," kata Willcox. 

"Batas Wakhan saat ini dibentuk pada tahun 1893 untuk menciptakan zona penyangga demi mencegah wilayah kedua belah pihak saling bersentuhan - dalam hal ini, Kerajaan Raj Inggris dan kekaisaran Rusia Tsar.

"Ini akhirnya mengubah rute perdagangan lama menjadi jalan buntu," jelas Willcox. 

"Lebih baru, sejarah telah melihat Wakhan terperangkap dalam Perang Dingin; dan sekarang perubahan terbaru dalam geopolitik mungkin akan memiliki konsekuensi yang tidak terduga, dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan China mengubahnya menjadi rute perdagangan penting sekali lagi." 

Konstruksi baru

Sampai saat ini, perjalanan jalur darat dari Ishkashim hanya mencapai Sarhad-e Broghil di tengah Koridor.

Perjalanan selanjutnya ke timur hanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan kawanan hewan. 

Namun kini, dengan pembangunan jalan yang menghubungkan koridor dengan China, jalur tersebut telah diperpanjang sekitar 75 km, hingga desa Bozai Gumbaz, sekitar tiga perempat jalan di sepanjang Wakhan.

"Ini mengikuti rute perdagangan lama yang diambil oleh pengembara Kirgistan untuk sampai ke Sarhad dari tempat mereka tinggal di sekitar Danau Chaqmaqtin," kata Summers.

"Buldoser telah masuk, dan sementara mereka hanya membangun sesuatu seukuran jalur petani, konsekuensi potensialnya jauh lebih besar. 

"Orang China dikatakan membangun jalan yang pada akhirnya akan menghubungkan perbatasan mereka dengan Bozai Gumbaz, sesuatu yang akan membuka jalan buntu sekali lagi. Pada akhirnya, itu akan memberi China akses besar ke pasar Asia Tengah dan sekitarnya." 

Perasaan campur aduk

Ziahee mengatakan bahwa orang-orang Wakhan memiliki perasaan campur aduk tentang potensi dampak jalan tersebut. 

"Beberapa hal akan baik bagi kami," katanya. 

"Kami akan dapat membeli kambing dari China yang akan jauh lebih murah daripada dari pasar di Ishkashim."

"Kami berharap memiliki akses ke layanan kesehatan yang lebih baik juga. Saat ini, banyak fasilitas kami sangat terbatas," jelas Ziahee. 

"Tapi kami khawatir budaya Wakhi yang unik dan cara hidup yang lambat akan berubah selamanya. Kami menyukai keheningan dan alam yang indah, tetapi takut akan dihancurkan oleh polusi lalu lintas. 

"Membangun jalan membutuhkan waktu lama di pegunungan, tetapi kami pikir tahun depan atau sekitar itu akan selesai. Baik pemerintah China dan Afghanistan menginginkannya terjadi. 

"Hanya waktu yang akan memberi tahu apa yang akan terjadi di masa depan bagi kita sebagai hasilnya." (dn/sumber: bbcindonesia.com)