Indonesia Produksi Baterai EV, Harga Mobil Listrik Bisa Turun!

  • Oleh : Fahmi

Senin, 20/Sep/2021 18:52 WIB
Foto:Ilustrasi Foto:Ilustrasi

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pemerintah terus mendorong pemanfaatan kendaraan listrik demi menekan emisi karbon dan juga agar terlepas dari ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun demikian, pemanfaatan kendaraan listrik di Indonesia saat ini masih minim karena tersandung harga mobil yang masih mahal. 

Hal tersebut disampaikan oleh Ida Nuryatin Finahari, Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Baca Juga:
Suhu Panas Bikin Lemah, Kenali Jenis-Jenis Baterai Mobil Listrik

Pada Senin (20/09/2021), dia mengatakan karena harga mobil listrik yang masih mahal, maka hanya kalangan menengah ke atas yang bisa mengaksesnya. 

"Dari situ memang kita evaluasi sebagian besar tergantung dari ketersediaan baterai yang masih impor, dan inilah yang sebabkan memang harga mobil listrik masih tinggi," ungkapnya seperti yang dinukil BeritaTrans.com dari CNBC Indonesia, Senin (20/09/2021). 

Baca Juga:
Calon Mobil Listrik Sejuta Umat Tiba di Indonesia, Lebih Baru dan Berkelas dari Wuling Air EV

Pihaknya pun berharap ke depannya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun pihak swasta bisa mengembangkan industri baterai di dalam negeri. Jika ekosistem industri baterai sudah ada, maka menurutnya harga kendaraan listrik bisa ditekan. 

"Ini (industri baterai di dalam negeri) pengaruhi dari sisi harga kendaraan listrik ini, baik roda empat dan roda dua," ujarnya. 

Baca Juga:
Ultra Fast Charging, Stasiun Pengisi Daya Mobil Listrik Hadir di Plaza IndonesiaI

Dia mengatakan, pemerintah telah memberikan berbagai insentif untuk pengembangan mobil listrik. Masing-masing kementerian dan lembaga memiliki tugas, dan yang paling penting menurutnya yaitu koordinasi lintas kementerian terus dilakukan. 

"Misalnya terkait dengan charging station mobil, ini kita juga mengevaluasi seperti apa sih yang memang pas untuk mobil-mobil yang tersedia, sehingga antara charging station dan mobil listrik bisa sesuai," ungkapnya. 

Dia mengatakan, pemerintah juga melakukan evaluasi terkait ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan standar baterai yang digunakan di kendaraan listrik, baik motor maupun mobil listrik. 

"Termasuk standar baterai, misalnya namanya kendaraan roda dua ada swap baterai, ini kita harap nantinya di mana-mana orang bisa ganti tukar baterai kayak tabung LPG, di mana-mana ada yang jualan dan gampang," ucapnya. 

Lebih lanjut dia mengatakan, stasiun penukaran baterai diharapkan juga akan semakin masif. Jika baterai bisa diproduksi di Indonesia, maka harganya pun akan bisa ditekan. 

"Ini sedang evaluasi berapa sih ukuran dimensi dari baterai yang bisa di-swap dan diproduksi di Indonesia agar jualan bisa kompetitif dan terjangkau," ujarnya. 

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi, sempat mengatakan pasar potensial untuk otomotif roda empat di RI masih berkutat di harga Rp 300 juta ke bawah. Kendaraan seperti Avanza, Xenia, Agya, Ayla masih memiliki porsi terbesar di Indonesia. 

Sementara harga mobil listrik termurah di Indonesia seperti yang dijual Hyundai kini berada di kisaran Rp 600 juta per unit. 

Oleh karena itu, supaya industri kendaraan mobil listrik berkembang di Indonesia, maka menurutnya produsen harus menekan harga hingga Rp 300 juta ke bawah. Sejalan dengan daya beli masyarakat kebanyakan yang mengarah di segmen tersebut. 

Seperti diketahui, pada Rabu (15/09/2021), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyaksikan groundbreaking pabrik industri baterai kendaraan listrik yang dikelola PT HKML Battery Indonesia di Karawang, Jawa Barat. Ini menandai dimulainya pembangunan pabrik baterai EV senilai US$ 1,1 miliar ini. 

Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pabrik baterai EV yang dibangun di Karawang, Jawa Barat, ditargetkan telah tuntas proses konstruksi atau pembangunannya pada September 2022. Lalu, pada 2023 pabrik baterai EV ini sudah bisa beroperasi secara komersial. 

Adapun kapasitas produksi sel baterai EV ini menurutnya mencapai 10 Giga Watt (GW). 

"Pabrik baterai 10 GW ini akan selesai konstruksi September 2022 dan produksi di 2023. Jadi, insya Allah sebelum masa kabinet periode kedua selesai, ini sudah clear pembangunannya," tuturnya dalam konferensi pers, Jumat (17/09/2021).(fh/sumber:CNBC)