Ucok Kendarai Bus ALS Lintasi Jalan Rawan di Simpang Meo: Sering Dimintain Duit

  • Oleh : Fahmi

Rabu, 29/Sep/2021 19:46 WIB
Pengemudi bus ALS Ucok saat memberangkatkan penumpang bus dari Bekasi menuju Medan, Rabu (29/9/2021). Pengemudi bus ALS Ucok saat memberangkatkan penumpang bus dari Bekasi menuju Medan, Rabu (29/9/2021).

BEKASI (BeritaTrans.com) - Perjalanan bus lintas Sumatera tidak selalu mulus dan aman untuk dilalui sejumlah pengemudinya. Beberapa sopir mengaku beberapa ruas jalan masih banyak aksi kejahatan. 

"Kalau abang mau tau itu Simpang Meo sepanjang Sumatera Selatan. Mereka minta duitlah, seringlah di situ," ungkap Ucok Rangkuti kepada BeritaTrans.com dijumpai di agen bus ALS Bekasi, Rabu (29/9/2021). 

Baca Juga:
Kasat PJR: Pengemudi Mercy Lawan Arah yang Tabrak 2 Mobil di Tol JORR Tak Kantongi SIM-STNK

Ucok menceritakan jika melintasi jalan rawan tersebut dia tidak akan berhenti untuk memacu busnya. Jika bus berhenti maka akan dikhawatirkannya akan datang sejumlah orang yang akan melakukan pemalakan uang kepadanya. 

"Kalau kita takut lewat situ, habis kita. Kalau ada orang-orang(orang jahat) itu kita sorong aja," katanya. 

Baca Juga:
Melintasi Jalan Rusak, Truk Colt Diesel Sarat Muatan Terguling di Indramayu

Ucok juga mengungkapkan jika terlihat ada aksi sejumlah orang akan melakukan kejahatan, dia akan memperioritaskan menyelamatkan banyak penumpang termasuk bus yang dia kendarai. Ucok mengkhawatirkan adanya aksi pelemparan batu terhadap busnya. 

"Kalau orang itu minta kasilah Rp200-300. Dari pada duit Rp3 juta raib gara-gara kaca pecah ya kan!," kata Ucok. 

Baca Juga:
Berikan Layanan SPM pada Penumpang Biskita, Pemenang Lelang BTS Harus Investasi

Di jalan Simpang Meo tersebut dijelaskan Ucok, sejumlah kendaraan atau bus kerap memacu kendarannya dengan cepat dan stabil. Ucok mengungkapkan dirinya dan beberapa teman sopir lain, takut untuk berhenti dikawasan tersebut. Lantaran bus akan didatangi sejumlah orang yang akan melakukan pemalakan terhadap bus mereka. 

"Kalau berenti habislah kita. Kalo maogok di situ udahlah, capek kali. Nanti dimintai uang dengar (kaget karena) pecah ban, uang jaga(keamanan), macam-macam alasan orang itu," kata Ucok. 

Ucok juga menceritakan sopir bus di jalan tersebut juga akan cenderung lebih nekat untuk melawan aksi kejahatan dengan memacu bus dan tidak sungkan untuk menabrak oknum-oknum yang akan memberhentikan bus mereka. 

"Kalau disorong(ditabrak) takut orang itu," ucap Ucok. 

Perjalanan bus ALS diceritakan Ucok akan memakan waktu selama dua hari tiga malam. Kawasan rawan tersebut diketahui akan ditempuh selama satu harian. 

"Biasanya kalau dari sini (berangkat Bekasi) pagilah sampai sana (Simpang Meo) jam-jam sembilan," kata Ucok. 

Kondisi perjalanan yang jauh, rusak, sempit, serta rawan aksi kejahatan membuat kondisi bus lintas Sumatera tidak pernah dalam keadaan yang rapih atau baik. 

Bus ALS akan melintasi medan yang berat, belum lagi yang dikhawatirlan adalah aksi kejahatan,  membuat para kru bus harus memasrahkan keadaan bus dengan apa adanya. 

Selain bus jurusan Medan, adapun juga bus yang mengalami aksi kejahatan di jalan juga sering dialami bus tujuan Pagar Alam, hingga Padang. Beberapa PO Bus menyiasati aksi kejahatan dengan jaring besi di bagian depan bus. 

Selain aksi premanisme atau kejahatan di jalan tersebut, Ucok juga mengungkapkan saat pandemi sekarang, di Pelabuhan Bakauheni akan ada aksi sejumlah oknum yang akan meminta pemeriksaan covid-19 ulang. 

Dikatakan Ucok, oknum-oknum tersebut tidak akan menghiraukan surat bebas Covid-19 milik penumpang yang masih berlaku. Petugas di situ akan melakukan pemeriksaan ulang dan meminta biaya kepada penumpang tersebut. Ucok mencurigai bahwa adanya lahan bisnis penghasilan oleh petugas di sana. 

"Di sana kalau ada penumpang dari Palembang suratnya(antigen bebas Covid-19) masih berlaku, tetap aja disuruh tes lagi, bayar Rp100 ribu," ujar Ucok. 

Hal itu bukan hanya sekali dialaminya, mengendarai bus ALS ke Semarang juga pernah dialami Ucok dan kru busnya. 

Menurut beberapa pengemudi bus yang BeritaTrans.com dan Aksi.id temui juga mengungkapkan hal yang sama tentang adanya tes bebas covid-19 yang dilakukan walaupun penumpang masih memeliki surat yang masih aktif. 

Kejadian tersebut memang benar, terdapat di sebelum Pelabuhan Bakauheni. Namun, jika di pelabuhan Merak penumpang cukup membawa surat vaksinasi saja. 

Pelayanan Penumpang

Bus ALS bernomor pintu 123 bersasis Mercedes Benz yang Ucok kendarai akan melalui jalur lintas tengah di Sumatera. 

Bus di terminal tujuan atau pool gudang, bus akan beristirahat untuk menegecek kembali kelaiakan busnya. Selama itu para kru harua juga beristirahat secukupnya untuk diberangkatkan kembali dengan kondisi bus yang laiak dan tubuh yang fit. 

Perjalanan yang lama, menjadi kebiaaaan keseharian bagi Ucok dan para kru bus lainnya. Kesulitan dan kendala di jalan selalu dilalui dengan suka cita. 

Di tengah memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi penumpang, di balik wajah yang lelah dan menyeramkan, mereka tetap ramah dan memberikan servis dan menjamin keselamatan penumpang hingga sampai tujuan. 

Ucok mengungkapkan dia sudah tidak tahu lagi kapan dan berapa lama dia bergabung di PO ALS. 

Tiket bus yang menempuh perjalanan hampir setengah pekan tersebut ialah Rp435 ribu. Dengan kondisi bus be AC dan tidak terdapat toilet. 

Dengan keadaan bus-bus seadanya, bus ini tetap saja diminati pelanggannya. Hal itu lantaran tidak ada lagi angkutan transportasi darat yang akan melayani dan jalan di trek seperti ALS ini.(fahmi)