SCI Sebut Ada 4 Tantangan Setelah Pelindo Bersatu, Cek di Sini

  • Oleh : Naomy

Senin, 04/Okt/2021 07:14 WIB
Salah satu pelabuhwn Pelindo Salah satu pelabuhwn Pelindo

 

BANDUNG (BeritaTrans.com) - Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengapresiasi keberhasilan merger PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), dan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero). 

Baca Juga:
Peduli Kemanusiaan, Insan Maritim Pelabuhan Sunda Kelapa Himpun dan Kirim Bantuan Kepada Korban Gempa Cianjur

Merger keempat Pelabuhan Indonesia (Pelindo) itu secara resmi terlaksana  dengan penandatanganan akta penggabungan keempat BUMN layanan jasa pelabuhan itu, Jumat (1/10/2021).

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) menjadi surviving entity dengan peleburan ketiga perusahaan persero lainnya tersebut.

Baca Juga:
Rencana Induk Pelabuhan Sunda Kelapa Tunggu Rekomendasi Gubernur DKI Jakarta

"Ada empat tantangan setelah Pelindo bersatu," ujarnya, Senin (4/10/2021).

Pertama, peningkatan dan standardisasi pelayanan di semua pelabuhan Pelindo yang didukung standardisasi proses, sumber daya manusia (SDM), dan teknologi (fasilitas) dengan sistem informasi yang terintegrasi, baik antarpelabuhan maupun antara pelabuhan dan pengguna. 

Baca Juga:
Peduli Bencana Gempa Cianjur, PT Multi Terminal Indonesia/MTI Multi SCM bersama dengan PT Pelindo Group Gerak Cepat Kirim Bantuan

Kedua, kata dia, penataan hub dan spoke kepelabuhanan Indonesia dengan tantangan utama mengurangi pelabuhan pintu ekspor-impor. 

"Pembatasan menjadi hanya 2-5 international hub port akan meningkatkan volume barang secara signifkan di beberapa pelabuhan hub itu yang berpotensi menarik direct call untuk mother vessel," ungkapnya. 

Setijadi menyatakan, hal itu bisa menjadi strategi penting meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia secara global, termasuk mengalihkan pengiriman yang selama ini melalui Singapura.

Upaya itu yang harus dibarengi dengan penataan jaringan pelabuhan pengumpan (spoke)-nya bukan hal mudah, namun perlu menjadi prioritas dalam jangka panjang.

Ketiga, pengembangan sistem transportasi multimoda. Pelindo dapat berperan mendorong integrasi pengiriman barang secara end-to-end dengan melibatkan perusahaan pelayaran dan operator transportasi jalan dan rel untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.

Analisis Pelni dan INSA menunjukkan biaya kepelabuhanan sekitar 31 persen dan biaya transportasi laut sekitar 19 persen, sementara biaya transportasi hinterland mencapai sekitar 50 persen.

Keempat, kontribusi terhadap pengurangan kesenjangan perekonomian antar wilayah. Pada tahun 2020, misalnya, distribusi Produk Domestik Bruto masih didominasi wilayah Jawa (58,75 persen) dan Sumatera (21,36 persen). 

"Pelindo diharapkan akan berperan melalui pelabuhan-pelabuhannya yang berkontribusi terhadap PDB masih rendah, yaitu Kalimantan (7,94 persen), Sulawesi (6,66 persen), Bali-Nusa Tenggara (2,94 persen), dan Papua (2,35 persen)," ujar dia.

Menurut UU No. 19/2003 tentang BUMN, selain mengejar keuntungan, salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN lainnya adalah memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya. (omy)