TravelinLane, Terobosan Angkasa Pura II Bikin Anti Ribet Traveler

  • Oleh : Naomy

Jum'at, 12/Nov/2021 13:38 WIB
Suasana di Bandara Soekarno-Hatta (AP II) Suasana di Bandara Soekarno-Hatta (AP II)

 

JAKARTA (BeritaTrans.com) - PT Angkasa Pura II (Persero) secara berkelanjutan menyiapkan layanan berstandar global untuk meningkatkan pengalaman pelanggan (customer experience) di seluruh bandara yang dikelola perseroan.

Baca Juga:
Yes, Perpindahan Sementara Operasional 67 Pesawat dari Bandara Halim Berjalan Mulus

Salah satu upaya dalam menghadirkan layanan berstandar global adalah dengan mengintegrasikan layanan online dengan layanan offline. 

“AP II memiliki layanan online melalui aplikasi travelin yang menyediakan berbagai kebutuhan traveler mulai dari sebelum perjalanan, saat melakukan perjalanan dan setelah perjalanan. Secara berkelanjutan, aplikasi travelin ini selalu dikembangkan untuk terus mendukung layanan offline yang ada di bandara,” jelas President Director of AP II Muhammad Awaluddin, Jumat (12/11/2021). 

Baca Juga:
Ditutup Sementara Mulai 26 Januari, AP II Jalankan Skenario Perpindahan Penerbangan dari Bandara Halim

Awaluddin mengungkapkan, satu layanan baru berstandar global yang didukung aplikasi travelin untuk menghadirkan seamless journey experience akan diluncurkan rencananya pada Januari 2022 di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, yaitu travelinLane.

Aplikasi travelinLane adalah layanan jalur khusus bagi calon penumpang pesawat dalam memproses keberangkatan bebas repot tanpa menunjukkan kartu identitas dan boarding pass fisik pada saat pemeriksaan di Security Check Point 2 (SCP 2). 

Baca Juga:
Begini Serunya Gernas BBI 2022 di Bandara Sultan Thaha

Calon penumpang cukup menunjukkan wajah di alat face recognition untuk memverifikasi diri. 

Adapun untuk memanfaatkan layanan travelinLane, langkah bagi traveler adalah:

1. Mengunduh aplikasi travelin di perangkat berbasis iOS atau Android, dan melakukan proses login.

2. Pada aplikasi travelin, pilih menu travelinPass untuk kemudian melakukan verifikasi data diri dan biometrik (wajah) yang akan divalidasi ke sistem Dukcapil. Setelah proses validasi usai dilakukan, maka traveler dapat melakukan proses untuk mendapatkan travelinPass.

3. Traveler yang ingin mendapatkan travelinPass harus dipastikan sudah melakukan check-in di konter, kiosk self check-in, website, atau mobile check-in, serta memastikan data vaksin dan hasil tes kesehatannya tersedia pada sistem PeduliLindungi.

4. Pada menu travelinPass, pilih menu Perjalanan, lalu tambah Perjalanan, dan isi tanggal keberangkatan, nama maskapai, nomor penerbangan, serta kode pemesanan/tiket. Aplikasi akan melakukan verifikasi ke sistem Maskapai/Common Use Passenger System serta sistem PeduliLindungi. 

Bila seluruh persyaratan terpenuhi, maka traveler akan mendapatkan travelinPass (berupa QRCode) yang menandakan traveler sudah dapat menuju travelinLane.

5. Traveler kemudian menuju SCP 2, dan memilih jalur travelinLane, di mana tidak perlu menunjukkan dokumen KTP dan boarding pass, namun cukup menunjukkan wajah ke alat face recognition untuk membuka autogate. Sistem face recognition mengenali wajah dan juga data-data penerbangan yang terdapat pada travelinPass.
 
6. Traveler menuju boarding lounge untuk menunggu jadwal boarding/naik ke pesawat.

Muhammad Awaluddin mengatakan layanan travelinLane selain meningkatkan customer experience juga memperkuat aspek keamanan.

“Dengan sistem face recognition maka aspek keamanan di Bandara Soekarno-Hatta akana semakin meningkat ke level berikutnya. Secara bertahap travelinLane termasuk sistem face recognition dan autogate ini akan kami terapkan juga di bandara-bandara AP II lainnya," ujar dia.

Saat ini layanan travelinLane dalam tahap uji coba dan juga proses verifikasi oleh Direktorat Keamanan Penerbangan Kementerian Perhubungan untuk memastikan proses ini memenuhi aspek keamanan penerbangan.

AP II berharap layanan seperti travelinLane termasuk sistem face recognition ini juga dapat menjadi standar baru layanan di sektor kebandarudaraan di dalam negeri, untuk membawa transportasi udara nasional dapat selalu memenuhi global best practice. (omy)