Waspada RI, 300 Kapal China Patroli di Laut China Selatan

  • Oleh : Redaksi

Sabtu, 20/Nov/2021 11:03 WIB
Foto:istimewa/AP/cnbcindonesia.com Foto:istimewa/AP/cnbcindonesia.com

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Kapal-kapal China diperkirakan makin banyak wara-wiri di Laut China Selatan (LCS). Bahkan ada sekitar 300 kapal dari milisi maritim Tirai Bambu, berpatroli di laut kaya yang disengketakan Beijing dengan negara-negara Asia Tenggara itu.

Hasil penelitian lembaga Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Amerika Serikat (AS) mengungkap kapal-kapal milisi itu terdiri dari kapal penangkap ikan dan penjaga pantai China. "Milisi maritim China telah 'meledak' bersamaan dengan klaimnya yang semakin tegas atas hampir seluruh LCS," kata CSIS dalam laporan yang diterbitkan Kamis (18/11/2021).

Baca Juga:
Sejarah Moskva, Kapal Perang yang Kini Karam `Terhantam Rudal`:Simbol Dominasi Rusia di Laut Hitam dan Duri Bagi Ukraina

Milisi ini dilaporkan didukung penuh pemerintah, dengan bahan bakar, konstruksi hingga perbaikan. Bahkan dukungan terus berkembang dengan ukuran dan cakupan yang lebih besar untuk China mengklaim teritori dan wilayah maritimnya.

Kasus dugaan milisi China merusak kapal asing, termasuk menabrak, merusak sonar dan peralatan eksplorasi, bahkan menembak meriam air juga mengalami peningkatan. "Selama tahun 2000-an, milisi mengalihkan fokusnya untuk mengawasi dan melecehkan aktivitas militer asing yang ditentang Beijing," kata laporan CSIS lagi.

Baca Juga:
Kapal Perang AS Merapat di RI, Jalankan Operasi Bersama TNI AL di LCS

Menurut Direktur Program Asia Tenggara dan Inisiatif Transparansi Maritim Asia di CSIS, Greg Poling, upaya China memprofesionalkan dan membangun milisi terbentuk sejak Presiden Xi Jinping berkuasa. Meski terus menyangkal, ia berujar citra satelit dan bukti foto memperliuhatkan keberadaan milisi China.

"Penginderaan jarak jauh dan bukti foto dapat digabungkan untuk membedakan kapal milisi dari non-milisi," ujarnya menyebut kapal-kapal China, dikutip Al-Jazera, Jumat (19/11/2021).

Baca Juga:
Filipina dan Amerika Latihan Perang di Laut China Selatan, Libatkan 8.900 Tentara

Citra satelit yang diambil pada 23 Maret 2021 misalnya, menunjukkan kapal-kapal China berlabuh di Whitsun Reef di LCS yang disengketakan. Filipina mengatakan insiden itu adalah serangan namun China mengatakan kapal-kapal itu adalah 'perahu nelayan' yang berlindung dari cuaca buruk.

Kemarin, Filipina juga mengamuk ke China soal LCS. Ini terjadi pasca. 

Penjaga pantai China dilaporkan memblokir dan menembakkan Meriam air ke kapal Manila saat mereka hendak menuju Second Thomas Soal di Kepulauan Spratly. Menteri Luar Negeri Filipina mengatakan sangat marah dan telah melontarkan kecaman dan protes.

"Untungnya, tidak ada yang terluka. Tetapi kapal kami harus membatalkan misi mereka," kata Teodoro Locsin di Twitter, dikutip dari AFP.

Ia menegaskan tindakan China adalah ilegal. Apalagi kapal tersebut milik sipil dan menegaskan bahwa mereka dilindungi fakta bersama dengan Amerika Serikat (AS).

"China tidak memiliki hak menegakkan hukum di dalam dan di sekitar wilayah ini," tegasnya lagi."Mereka harus waspada dan mundur."

China mengklaim hampir seluruh LCS, laut yang dilalui perdagangan triliunan dolar setiap tahun, sebagai teritorinya. Bukan cuma Filipina, ini juga membuatnya panas dengan Brunei, Malaysia, Taiwan dan Vietnam serta Indonesia di Natuna utara.(ahmad)