Subsidi Angkutan Umum Harus Bisa jadi Daya Tarik bagi Masyarakat

  • Oleh : Naomy

Rabu, 24/Nov/2021 20:12 WIB
Webinar Ditjen Hubdat Webinar Ditjen Hubdat

 

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Akademisi sekaligus pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyampaikan subsidi pada angkutan umum harus bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk beralih dari angkutan pribadi.

Baca Juga:
6 Koridor Layanan BTS di Surabaya Segera Direalisasikan

"Ada tiga hal tujuan subsidi angkutan penumpang umum, antara lain:

1. Stimulus pengembangan angkutan,

Baca Juga:
Hingga November 2021, Penumpang BTS di Solo Terbanyak Dibanding 5 Kota Lainnya

2. Meningkatkan minat penggunaan,

3. Kemudahan mobilitas masyarakat di kawasan perkotaan.

Baca Juga:
Perlancar Penanganan Covid-19, Bupati Sukoharjo Serahkan 351 Motor Dinas untuk Babinsa dan Bhabinkamtimbas

“Kalau bicara angkutan umum, artinya kita bicara sistem karena ada pola operasi, sarana, kelembagaan, dan eksternalitasnya. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana pemerintah pusat membantu biaya operasional, yang mana sejak 2004 (bentuk bantuannya) adalah pembagian bus,” ujar Djoko dalam Webinar, Rabu (24/11/2021).

Keberadaan layanan buy the service (BTS) menurutnya sangat baik untuk mengubah mindset masyarakat akan angkutan umum.

Dengan fasilitas dan layanan yang baik, dapat menjadi alternatif masyarakat untuk memilih angkutan umum dalam menjalankan aktifitas luar rumah. 

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan enam koridor untuk layanan BTS di Surabaya, Jawa Timur.

Sebelumnya telah hadir di Solo, Yogya, Medan, Denpasar, Palembang, dan Makassar.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Nyono mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung program dari Kementerian Perhubungan yang melaksanakan BTS di Surabaya. 

"Urgensi peningkatan kualitas angkutan umum, saya setuju dengan Direktorat Angkutan Jalan untuk segera mengoperasikan BTS," katanya.

Dia menilai, rencana program BTS yang diusung Ditjen Hubdat ini sudah tepat dan akan menjawab sejumlah tantangan transportasi umum di Surabaya dan sekitarnya atau yang sering disebut Gerbangkertosusila (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan). 

“Pergerakan orang di Gerbangkertosusila mencapai 1.274.561 orang per hari, terlebih Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia. Untuk itulah kami terpacu untuk segera mengerjakan program BTS. Untuk mendukung kebijakan BTS dari Ditjen Hubdat, maka Pemprov Jatim akan menghadirkan angkutan massal di aglomerasi Gerbangkertosusila,” kata Nyono. (omy)