2.000 Kontainer Kosong Ukuran 40 Feet Diangkut Kapal MSC Tianshan ke Pelabuhan Tanjung Priok

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 13/Janu/2022 00:23 WIB
Syahbandar Tanjung Priok, Andi Hartono, menginfokan akan datangnya kapal mengangkut ribuan peti kemas. Syahbandar Tanjung Priok, Andi Hartono, menginfokan akan datangnya kapal mengangkut ribuan peti kemas.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Krisis kelangkaan peti kemas untuk ekspor, menghantui perdagangan dunia, juga Indonesia. Untungnya Indonesia cepat mengantisipasi dengan mengimpor ribuan kontainer kosong.

Adalah Syahbandar Tanjung Priok, Andi Hartono, yang menginfokan akan datangnya kapal mengangkut ribuan peti kemas.

Baca Juga:
Capt Alimudin: Animo Perusahaan Pelayaran Tinggi, INSA Jaya Kembali Gelar Pelatihan dan Bimtek Sistem SSm Pengangkut

"Kapal MSC Tianshan membawa 2.000 peti kemas berukuran 40 feet. Kontainer itu dalam keadaan kosong," ungkap syahbandar kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Rabu (12/1/2022).

Dia mengemukakan pihak IPC Container Terminal sudah memberitahukan rencana kedatangan kapal tersebut pada Kamis, 13/1/2022) di Pelabuhan Tanjung Priok.

Baca Juga:
Menhub Apresiasi Ekspedisi Pinisi Nowergia Jaga Kelestarian Laut Dunia

Kapal sepanjang 334 meter tersebut akan sandar dan hanya menurunkan ribuan kontainer itu. "Kami siap memberikan pelayanan terbaik terhadap kapal tersebut," cetusnya.

'Kiamat' Kontainer

Baca Juga:
Layanan JAX Services Resmi Dimulai di Pelabuhan Priok

Seperti diketahui, hambatan rantai pasok dunia (global supply chain) menjadi masalah yang mengkhawatirkan Presiden Joko Widodo. Salah satunya yang menghambat adalah persoalan krisis kontainer.

Harga kontainer naik tidak karuan, yang membuat pengusaha kesulitan melakukan ekspor karena efek pandemi.

"Bingungnya negara-negara sekarang ini berkaitan dengan global supply chain dan ketergantungan kita pada satu, dua, tiga negara. Juga kesulitan kontainer, hampir semua ini karena disrupsi yang memang mengacaukan dan kompleksitasnya tambah, semakin bertambah," kata Kepala Negara.

Sebelumnya para penyedia jasa logistik kebingungan menampung lonjakan permintaan pengiriman barang di tengah kondisi kelangkaan kontainer.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Bidang Rantai Pasok, Logistik Digital, dan e-Commerce, Trismawan Sanjaya, memperkirakan volume pemesanan barang akan naik 1,5 hingga 2 kali lipat dari masa reguler.

Pada saat yang sama, eksportir dan distributor barang masih kesulitan mendapatkan slot pengiriman. “Saat permintaan meningkat, tarif pengiriman logistik ternyata justru terus naik,” ucap Trismawan kepada Tempo, kemarin.

Menurut dia, sirkulasi peti kemas dunia yang terganggu oleh pandemi, hingga kini belum juga pulih. Sebagian besar kontainer kosong untuk ekspor masih tersangkut di berbagai pelabuhan pangkal (hub) asing, khususnya di Benua Eropa dan Amerika.

“Kami di asosiasi sempat akan mengekspor barang dengan 150 kontainer ke Rusia, itu pun masih susah terealisasi sampai sekarang.”

Menurut Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Riyanto ongkos angkut kargo atau freight sudah meningkat mencapai 300% pada bulan ini, dibandingkanpada bulan sebelumnya.

Dia mencontohkan ongkos angkut dari Semarang menuju Amerika Serikat berada pada kisaran US$ 20 ribu per kontainer, sementara ke Eropa US$ 14 - 16 ribu per kontainer. Sementara untuk rute ke Australia mulai dari US$ 4.000 - US$ 6000 per kontainer.

"Sebelumnya hanya sepertiga itu harganya," kata Mahendra kepada CNBC Indonesia, dikutip, Jumat (19/11/2021).

Menurut Mahendra mengutip riset dari Konsultan Eropa Copenhagen, memberikan analisa kapan krisis ini selesai. Krisis kontainer sebelumnya juga sempat terjadi pada saat tahun 1998, dimana membutuhkan waktu pemulihan sampai 10 bulan.

Begitu juga saat terjadi krisis 2008, begitu juga krisis yang terjadi pada 2012, 2014 dan krisis pada 2016 yang memakan waktu 10 bulan. Namun untuk krisis kesehatan yang terjadi dari 2020 -2021 ini masih sulit diprediksi secara pasti.

"Sedang dilihat seberapa lama situasi imbalance pergerakan barang di dunia ini, dari atau kekacauan sebelumnya paling lama itu 17 bulan. Sementara untuk situasi sekarang mungkin memakan waktu 24-26 bulan untuk perbaikan tarif. Khususnya untuk target market Eropa dan Amerika," katanya.

Ketua Ikatan Eksportir Importir (IEI) Amalia Hasanah, mengatakan kenaikan harga kontainer ini membuat banyak penumpukan barang di gudang, karena menunggu ruang kontainer,

"Di gudang terjadi penumpukan karena misal kita butuh kontainer 10, tapi yang dilayani hanya 5. Itu juga rate sekarang ada istilah rate premium, jadi siapa berani bayar lebih maka dapat privilese dapat kontainer mudah," katanya.

Sementara dari pengusaha furniture juga mengeluhkan tidak bisa mengirimkan barangnya. Padahal Indonesia saat ini sedang mendapat banyak permintaan barang dari kayu ini karena perang dagang Amerika dan China.

"Padahal kondisi industri sedang tumbuh permintaan dari Amerika, tapi ada yang tidak mampu melakukan ekspor," katanya.