Rendi Sopiri Bus Bakasi-Muaradua: Jumlah Sewa Sepi Selama PPKM, Kehidupan jadi Susah

  • Oleh : Fahmi

Minggu, 20/Feb/2022 19:41 WIB
Pengemudi bus PO Tispa tujuan Bekasi-Muaradua bersiap mengemudikan busnya dengan membawa beberapa penumpang dari Terminal Bekasi, Jawa Barat, Ahad (20/2/2022). Pengemudi bus PO Tispa tujuan Bekasi-Muaradua bersiap mengemudikan busnya dengan membawa beberapa penumpang dari Terminal Bekasi, Jawa Barat, Ahad (20/2/2022).

BEKASI (BeritaTrans.com) - Pemberlakuan PPKM berdampak pada jumlah penu.pang bus antarkota antarpropinsi (AKAP) di Terminal Bekasi, Jawa Barat. 

Seperti yang dialami oleh pengemudi bus PO Tispa jurusan Bekasi-Muaradua, Sumatera Selatan. Pria bernama Rendi ini mengungkapkan pemberlakuan PPKM membuat para kru bus kesusahan. 

Baca Juga:
4 Insiden Horor Pemotor Jatuh Terlempar dari Flyover di Jakarta

"Pengaruh sama PPKM ini, jadi susah saat ada Omicron ini, sewanya pada takut, apalagi masalah antigen-antigen ini," katanya saat dijumpai BeritaTrans.com dan Aksi.id di Terminal Bekasi, Ahad (20/2/2022). 

Rendi mengungkapkan, semenjak pemberlakuan PPKM dari 8 Februrari jumlah penumpang busnya menurun. Dikatakannya aturan perjalanan hanya harus menyertakan surat antigen. Pemeriksaan hanya ada di saat dari arah Muaradua tepatnya di Pelabuhan Bakauheni. Sedangkan dari arah Jakarta penumpang hanya harus membayar tiket. 

Baca Juga:
Jasa Raharja Bersama Tim P3DW Samsat Depok Kembali Gelar Sosialisasi Pajak Kendaraan

Rendi menceritakan bus yang mampu membawa 48 orang penumpang tersebut dari kedua arah atau pulang pergi (PP) hanya mencukupi biaya operasional dan gajinya. 

Baca Juga:
Jasa Raharja Indramayu Berikan Apresiasi Bagi Masyarakat yang Patuh Bayar Pajak Kendaraan

"Kemarin dari sana cuma bawa 19 penumpang. Ini balik harus membawa 30 penumpang," ujar Rendi. 

Saat diberangkatkan dari Terminal Bekasi, dia mengatakan sudah ada beberapa orang penumpang. Nantinya bus akan berhenti di agen di terminal lain di Jabodetabek untuk menaikkan lagi penumpangnya. "Sekarang ini mau berangkat tiga, start awal. Nanti kan ada lagi yang di tempat-tempat lain," katanya. 

Rendi juga menyebutkan, meski sepi penumpang,  harga tiket busnya tidak mengalami kenaikan. Ongkos bus dan juga pelayanan masih sama serti saat belum pemberlakuan pembatasan. 

Rendi dan Budi yang juga merupakan pengemudi lain di bus tersebut, berharap aturan pembatasan tidak memberatkan para pengais rezeki di dunia tranaportasi umum tersebut. 

Rendi juga bercerita, penumpang bus Muaradua-Jawa ini kebanyakan merupakan pekerja pekebun. Kini penumpang yang biasa menggunakan bus merasa enggan karena adanya aturan yang menambah biaya perjalanan. "Penumpang ini kan mayoritas petani yang akan pulang setiap selesai musim, jadi karena kayak gini, jadi takut-takut pulang," ujarnya. 

Memasuki lebaran yang tinggal sebulan lebih ini, Rendi meminta kepada Pemerintah untuk tidak adanya pembatasan lagi. "Harapannya, jangan sampai gagal mudiklah," pinta Rendi.(fhm)