BPTJ: Pembangunan Jalan Layang Penghubung Stasiun dan Terminal Bojonggede Dimulai April

  • Oleh : Naomy

Kamis, 10/Mar/2022 11:28 WIB
Suasana di Stasiun Bojong Gede Suasana di Stasiun Bojong Gede

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Proses pembangunan jembatan layang yang menghubungkan Stasiun Bojonggede dengan Terminal Tipe C Bojonggede dijadwalkan sudah dapat dimulai pada April. 

Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Jumardi menjelaskan, saat ini proses pelelangannpekerjaannya sedang berlangsung, di mana pada akhir bulan ini diharapkan sudah dapat dilakukan penetapan pemenang lelang.

Baca Juga:
Ada Perbaikan Jalur di Manggarai, Beberapa Perjalanan KRL Alami Pembatalan Khusus Selasa Malam, Ini Jadwalnya!

"Jadi kita harapkan groundbreaking dapat dilakukan pada April," kata Jumardi, Kamis (10/3/2022).

Jembatan layang tersebut sepenuhnya dibiayai oleh APBN senilai Rp16,5 miliar melalui anggaran BPTJ Tahun 2022. 

Baca Juga:
KRL Mati Listrik di Kelender, Perjalanan Tertahan

Sementara Pemerintah Kabupaten Bogor mengalokasikan anggaran sekitar Rp4 miliar untuk kebutuhan pembebasan lahan. 

"Keberadaan Jembatan Layang tersebut nantinya diharapkan akan dapat mengurangi kesemrawutan kondisi lalu lintas di sekitar Stasiun Bojonggede seperti yang terjadi saat ini," urainya.

Baca Juga:
Dorong Cashless Society, 26 % Penumpang KRL Yogya-Solo Sudah Gunakan QR Code

Menurut Jumardi Stasiun Bojonggede merupakan salah satu stasiun kereta di Jabodetabek dengan jumlah penumpang komuter terpadat. 

"Sehari-hari sebelum pandemi KRL bisa dipadati penumpang hingga 65 ribu orang atau 1,86 juta orang/bulan, terpadat ketiga setelah Stasiun Bogor dan Stasiun Bekasi, " ungkapnya.

Dengan jumlah penumpang yang demikian padat, ternyata Stasiun Bojongede belum didukung dengan keteraturan lingkungan di sekitarnya. 

Perpindahan moda penumpang KRL dari angkot, kendaraan pribadi maupun ojek ke Stasiun dilakukan di sembarang tempat, sehingga selalu menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan yang parah pada jam jam sibuk.

"Adanya jembatan layang itu nantinya diharapkan akan memudahkan penataan perpindahan moda, jadi angkot cukup berhenti di terminal dan penumpang yang akan berlanjut naik KRL dapat mengakses jembatan layang menuju stasiun," beber dia. 

Demikian pula untuk kendaraan pribadi maupun ojek nantinya akan diatur untuk berhenti atau parkir di terminal, sehingga para penumpangnya yang akan ke Stasiun Bojonggede cukup mengakses jembatan layang.

Jembatan layang tersebut akan membentang sepanjang 243 meter dengan lebar tiga meter menghubungkan Stasiun Bojonggede dan Terminal Angkutan Tipe C Bojongede. 

Pada masing-masing ujungnya baik dari sisi stasiun dan terminal akan dilengkapi dengan area semacam hall. 

Di sisi stasiun hall akan dilengkapi dengan fasilitas eskalator, ramp untuk penyandang disabilitas, toilet, musholla, tapping gate dan ruangan loket. 

Sementara itu hall pada sisi terminal akan dilengkapi dengan ramp untuk penyandang disabilitas, toilet dan musholla.

"Upaya untuk mencari solusi permasalahan kemacetan dan kesemrawutan di sekitar Stasiun  Bojonggede sudah sejak lama menjadi perhatian bersama baik oleh Pemerintan Pusat maupun Pemerintah Kabupaten Bogor," imbuhnya. 

Perhatian tersebut mulai mengerucut pada November tahun lalu dengan dilakukannya MOu antara Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Kabupaten Bogor, yang menyepakati Pemerintah Pusat melalui BPTJ, akan memberikan dukungan pembangunan jembatan layang penghubung Stasiun KRL Bojonggede dengan Terminal Angkutan Tipe C Bojonggede dengan pembiayaan APBN.

Menyusul segera dimulainya pembangunan jembatan layang penghubung tersebut, kata Jumardi, saat ini juga telah dimulai pembahasan perjanjian kerjasama antara BPTJ, PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan 
Pemerintah Kabupaten Bogor. 

Perjanjian tersebut nantinya akan mengatur mekanisme pengelolaan jembatan penghubung tersebut agar dapat secara maksimal melayani masyarakat. (omy)