SoftBank Jelaskan Alasan Mundur dari Pendanaan Proyek IKN Nusantara di Kalimantan

  • Oleh : Redaksi

Sabtu, 19/Mar/2022 16:38 WIB
IKN. Foto: kompas.com. IKN. Foto: kompas.com.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - SoftBank Group Corp mengungkapkan alasan utama mundur dari pendanaan proyek Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur.

Perusahaan modal ventura asal Jepang ini memiliki pertimbangan dalam hal Return of Investment (ROI) atau tingkat pengembalian investasi.

Hal itu disampaikan Representative Director & Chairman SoftBank Corp. Ken Miyauchi menyusul adanya anggapan pembatalan investasi karena adanya kepentingan politik.

"Return of Investment adalah alasan utama kami mundur dari proyek yang dimaksud. Dari segi waktu dan besar return investment itu sendiri," tegas Ken Miyauchi melalui keterangan tertulisnya, Jumat (18/3/2022).

Ken mengatakan, SoftBank Group tidak berinvestasi dalam proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru.

Meski demikian, pihaknya akan tetap mendukung pengembangan perusahaan rintisan di Indonesia.

"Kami tetap akan melakukan investasi di Indonesia tetapi tidak melalui pendanaan proyek pembangunan IKN di Penajam Pasir Utara, Kalimantan Timur," kata dia.

Pengalihan investasi

Ken menyebut, rencana pengalihan pendanaan investasi di Indonesia yang sebelumnya direncanakan untuk proyek pembangunan IKN, akan dialihkan ke proyek investasi lainnya di Indonesia.

"Informasi dari founder kami Masayoshi Son, dalam waktu dekat akan ada rencana pengalihan pendanaan proyek pembangunan IKN yang dialihkan ke pendanaan pembangunan tingkat Provinsi di Indonesia. Salah satu provinsi yang menjadi target SoftBank berinvestasi adalah Provinsi Sumatera Barat," jelas dia.

Sebagai informasi, SoftBank adalah investor utama di Indonesia. Sahamnya tersebar di berbagai startup, seperti GoTo dan Grab yang berbasis di Singapura.

Vision Fund baru-baru ini juga berinvestasi di Funding Societies yang berbasis di Singapura. Funding Societies adalah sebuah usaha yang mengoperasikan layanan pinjaman digital di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. (dn/sumber: kompas.com)