14 Tahun Tinggal di Bandara, Alasannya agar Bisa Merokok dan Mabuk

  • Oleh : Fahmi

Senin, 11/Apr/2022 23:37 WIB
Wei Jianguo (50), warga Wangjing, distrik Chaoyang,Beijing tinggal selama 14 tahun di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, China. Wei Jianguo (50), warga Wangjing, distrik Chaoyang,Beijing tinggal selama 14 tahun di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, China.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Wei Jianguo (50), warga Wangjing, distrik Chaoyang, Beijing tinggal selama 14 tahun di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, China. 

Alasan Wei minggat dari rumah dan tinggal di bandara karena menghindari keluarganya yang memaksanya berhenti merokok dan minum miras. 

Baca Juga:
Menhub Sapa Jemaah Umroh di Bandara Kertajati

"Saya tidak bisa pulang ke rumah karena saya tidak punya kebebasan di sana," kata Wei, dikutip dari China Daily, Kamis (31/3/2022). 

Rumah Wei berada di daerah Wangjing yang jaraknya sekitar 20 kilometer (km) dari bandara. 

Baca Juga:
Begini Dukungan Ditjen Hubud di Gelaran Sail Tidore

Ia sebelumnya tinggal bersama istri dan orangtuanya. Namun minggat dari rumah pada 2008. 

"Keluarga saya memberi tahu saya, jika saya ingin tinggal, saya harus berhenti merokok dan minum,” ujar Wei. 

Baca Juga:
Menhub Lepas 375 Jemaah Umroh dengan Lion Air dari Bandara Kertajati

"Jika saya tidak bisa melakukannya, saya harus memberi mereka semua tunjangan bulanan pemerintah saya sebesar 1.000 yuan (sekitar Rp 2,1 juta). Lalu bagaimana saya akan membeli rokok dan alkohol saya?" kata dia. 

Dikutip dari Kompas.com, setiap harinya, Wei terbangun di tengah-tengah para pelaku perjalanan di bandara dengan wajah memerah karena terlalu banyak minum. 

Ia tidak akan memedulikan tatapan penuh tanya dari orang-orang di sekitarnya, kecuali ketika petugas datang untuk membersihkan bandara. 

Pada saat itulah ia akan menyingkir. 

Kendati demikian, hidup Wei terlihat cukup teratur. 

Tiap pagi, Wei akan mengunjungi pasar terdekat untuk membeli enam roti kukus dan semangkuk bubur untuk sarapan. 

Beberapa hidangan tersebut nantinya akan ia santap saat makan siang, serta sebotol baijiu atau minuman beralkohol yang akan ia habiskan di kawasan bandara. 

Sebelum tinggal di bandara, Wei pernah bekerja selama 20 tahun di sebuah pabrik mesin. 

Namun, ia diberhentikan setelah menginjak usia 40 tahunan. Ia juga sempat mendapat pekerjaan lain, tapi berakhir dipecat lantaran dinilai terlalu tua. 

Pada akhirnya Wei memutuskan untuk berhenti mencari kerja. Perselisihan dengan keluarganya juga terjadi, sekaligus membuatnya mulai tidur di stasiun kereta api dan bandara. 

Sebelum Natal, ada seorang polisi yang meminta Wei meninggalkan bandara, lalu mengantarnya pulang ke rumahnya di Wangjing. 

Adapun hal itu juga terjadi usai tersebarnya video yang menampilkan Wei makan mi di ruang tunggu terminal. Namun, beberapa hari setelah kembali ke rumahnya, ia datang lagi ke bandara. 

"Saya diusir, berbaring, dan kemudian saya kembali, seperti dulu. Setidaknya saya memiliki kebebasan (saat) saya di bandara,” kata Wei. 

Wei bukan satu-satunya yang tinggal di bandara. 

Salah satu petugas kebersihan senior, yang mendapat julukan Monitor Zhao, mengatakan bahwa ada lima sampai enam orang lainnya yang tinggal di bandara. 

Bahkan, salah satu yang paling muda telah tinggal di bandara sedikitnya selama satu tahun. 

Menurut para petugas kebersihan dan keamanan di bandara, Wei dan yang lainnya saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan di bandara. 

"Selama mereka tidak menyebabkan gangguan, kami tidak berhak melaporkannya," jelas Monitor Zhao. 

Kisah orang tinggal di bandara 

Kisah tentang orang-orang yang tinggal di bandara selama bertahun-tahun tidak hanya terjadi di China, tapi juga di beberapa negara. 

Penghuni bandara paling terkenal di dunia adalah Mehran Karimi Nasseri dari Iran, yang tinggal di Terminal Satu Paris Charles de Gaulle selama 18 tahun. 

Di tinggal di bandara dari 1988 hingga 2006 ketika ia dirawat di rumah sakit. 

Pengungsi Mehran Karimi Nasseri, yang menjadi dasar film The Terminal tahun 2004, terpaksa tinggal di bandara Paris setelah dikirim dari pelabuhan keberangkatan terakhirnya, oleh otoritas Inggris karena kegagalan dalam mencari izin masuk ke Inggris. 

Otoritas Perancis juga menolak masuknya, membuatnya terjebak di terminal. 

Ada pula Bayram Tepeli, pria dari Turki ini menghabiskan 27 tahun yang mengejutkan di Bandara Ataturk. 

Dia pindah tinggal di bandara pada 1991 karena masalah dengan keluarganya, sebelum ditutup pada 2019, menurut Daily Sabah . 

Tepeli meninggalkan kampung halamannya di Kota Gemlik, Turki, pada usia 26 tahun akibat perselisihan dengan keluarganya. (fhm/sumber:kompas)