Hebat Pisan Euy! Terowongan KA Tertua di Indonesia Ada di Cianjur Dibangun 1879 Sekarang Masih Berfungsi

  • Oleh : Taryani

Kamis, 14/Apr/2022 10:31 WIB
Terowongan kereta api Lampegan di Cianjur.  (Foto: Dok.Nineimage) Terowongan kereta api Lampegan di Cianjur. (Foto: Dok.Nineimage)

CIANJUR (BeritaTrans.com) -  Jika ada yang bertanya terowongan kereta api tertua di Indonesia dibangun tahun berapa,  maka jawabnya mudah sekali, yakni tahun 1879 dan selesai tahun 1882.

Kenapa begitu? karena tahun pembuatan terowongan kereta api itu tertera dengan jelas pada  bagian atas pintu terowongan. Tulisannya cukup besar. Bercat hitam di atas dasar warna putih.

Terowongan kereta api tertua  ini bernama Lampegan. Terletak di Pasir Gunung Keneng, Desa Cibokor, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Dibangun oleh perusahaan perkeratapian milik pemerintah Belanda atau populer disebut  Staatspoorwegen  yang disingkat SS. Saat dibangun terowongan ini memiliki panjang sekitar 686 meter.

Dibuat untuk membangun jaringan kereta api dari barat hingga timur Pulau Jawa, demi mendukung pengangkutan hasil bumi.

Pembangunan terowongan ini terbilang cukup sulit. Sebab seperti yang terlihat,  pekerjaannya harus menembus bukit besar dari Gunung Kancana.

Bayangkan,  pada masanya,  pekerjaan menembus bukit  itu tentu saja bukan pekerjaan gampang. Karena banyak sekali material bukit berupa batu besar dan keras yang menjadi penghalang. 

Ditambah lagi pada saat pekerjaan itu dilaksanakan sangat dimungkinkan belum ada peralatan mekanik yang canggih seperti sekarang ini.

Tentu saja pekerjaan membuat  terowongan yang cukup panjang dengan menembus bukit besar itu hanya mengandalkan tenaga manual.  

Setelah pembangnannya rampung pada tahun 1882, terowongan itu kemudian diresmikan pejabat Hindia Belanda dan disaksikan pejabat lokal.

Penentuan asal usul nama  terowongan ini pun memiliki banyak versi.

Mulai dari Van Beckman yang terus berteriak, "lamp pegang, lamp pegang" saat memantau anak buahnya yang membangun terowongan ini.

Ada juga yang mengatakan,  nama Lampegan berasal dari masinis yang selalu meneriakkan, "lampen aan! Lampen aan!" saat kereta yang dikendarainya sedang melewati terowongan tersebut.

Kalau dalam bahasa Sunda, kata Lampegan tersebut memiliki arti sejenis pohon kecil.

Usia yang sudah terlalu lama membuat kondisi terowongan perlu mendapatkan pemeliharaan sekaligus perbaikan.  Sehingga pada tahun 2000 hingga 2001, terowongan ini mengalami renovasi.

Kerusakan pada konstruksi terowongan itu bukan karena ulah manusia. Tetapi lebih disebabkan karena faktor alam. Yaitu terjadinya rembesan air sehingga membuat material bukit menjadi longsor  dan menutup mulut terowongan.

Karena hal tersebutlah pemerintah setempat memangkas panjang terowongan yang awalnya 686 meter menjadi hanya 415 meter.

Hal ini dilakukan supaya terowongan bisa dilewati dengan aman dan menghindari tanah yang rawan longsor.

Hebatnya lagi, hingga saat ini  terowongan tersebut masih digunakan untuk jalur kereta api.

Walaupun frekwensi perjalanan kereta api melalui terowongan itu terbilang berkurang,   sehingga cenderung  sepi,  karena letaknya terpencil atau jauh dari keramaian.

Stasiun Lampegan sekarang hanya disinggahi oleh Kereta Api Siliwangi yang menghubungkan Stasiun Ciranjang, Cianjur, dan Sukabumi.

Mengingat saat sekarang kondisinya relatif sepi, warga lokal memanfaatkan terowongan ini sebagai jalan pintas dari arah Cireungas, Sukabumi, ke Lampegan, Cianjur, atau sebaliknya.(tr/Sumber:Kumparan)