Permasalahan Balon Udara jadi Tantangan Terberat Airnav Selama Libur Lebaran

  • Oleh : Naomy

Rabu, 11/Mei/2022 05:30 WIB
Dirut Airnav saat dampingi Menhub Dirut Airnav saat dampingi Menhub

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Tantangan terberat yang dihadapi oleh AirNav sepanjang periode angkutan udara Lebaran tahun ini justru datang dari hal-hal yang seharusnya dapat dicegah sebelumnya.

Pihaknya sibuk menjaga keselamatan langit Indonesia di tengah serbuan balon udara liar yang terbang bebas di ruang udara di atas pulau Jawa dan sekitarnya. 

Baca Juga:
Menhub Ingatkan Tanggung Jawab Airnav Kian Besar

"Banyak laporan terkait balon udara liar yang diterbangkan secara bebas di sejumlah daerah di pulau Jawa," tegas Direktur Utama Airnav Indonesia Polana B Pramesti, Selasa (10/5/2022).

Selama periode berlangsung, AirNav mendapatkan sedikitnya 38 Pilot Report (PIREP) yang melihat adanya balon udara liar di ruang udara yang mereka terbangi dengan ketinggian berkisar antara 4.000 hingga 35.000 kaki di atas permukaan air laut. 

Baca Juga:
Gempa 5,8 Magnitudo di Bali, Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Terkena Dampak

Laporan tersebut didapatkan dari lima Cabang AirNav, di antaranya Cabang Makassar Air Traffic Service Center (MATSC), Cabang Semarang, Cabang Solo, Cabang Yogyakarta, dan Cabang Denpasar. 

"Salah satu laporan bahkan menyebutkan bahwa salah satu balon udara tersebut nyaris terbang mengenai sayap pesawat terbang, yang mana dapat berakibat fatal jika benar-benar terjadi gesekan antara balon tersebut dengan badan pesawat," ungkapnya.

Baca Juga:
Kemenhub Dukung Inovasi Maskapai untuk Stabilkan Harga Tiket

Permasalahan balon udara liar yang mulai viral sejak tahun 2015 yang lalu ini menurutnya, merupakan tanggung jawab bersama sebagai stakeholder penerbangan.

AirNav berkoordinasi dan berperan serta secara intensif dengan stakeholder penerbangan, di antaranya dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaui Direktorat Keamanan Penerbangan (Dirkampen), Direktorat Navigasi Penerbangan (Dirnavpen), Otban III Surabaya, Otban IV Bali, serta Pemerintah Daerah dan aparat keamanan setempat di sejumlah daerah termasuk Pekalongan.

"Ini untuk memantau laporan aktivitas balon udara liar dan melakukan langkah-langkah antisipatif dan pencegahan potensi bahaya balon udara liar bagi penerbangan, dengan melakukan sosialisasi dan edukasi masyarakat dan sweeping ke sejumlah wilayah yang diperkirakan menjadi daerah asal balon udara liar,” terang Polana. 

Segala upaya telah dilakukan bersama. Namun fakta di lapangan membuktikan bahwa upaya ini masih harus ditingkatkan di masa yang akan datang. 

"AirNav siap berkontribusi,” imbuhnya. (omy)