DPP INSA Sebut Pengembangan Wisata Bahari masih Banyak Tantangan

  • Oleh : Naomy

Selasa, 28/Jun/2022 20:27 WIB
Pengurus INSA bersama Bupati Pulau Tidung di salah satu Yatch di Marina Batavia Pengurus INSA bersama Bupati Pulau Tidung di salah satu Yatch di Marina Batavia


JAKARTA (BeritaTrans.com) - Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (DPP INSA) Bidang Pariwisata Kriss Pramono mengatakan, pengembangan wisata bahari di Indonesia masih memiliki banyak tantangan. 

Salah satu tantangan yang dialami adalah pengembangan infrastruktur pada marina. 

Baca Juga:
Peduli Kemanusiaan, Insan Maritim Pelabuhan Sunda Kelapa Himpun dan Kirim Bantuan Kepada Korban Gempa Cianjur

"Jumlah marina di Indonesia masih sangat terbatas jumlahnya. Kondisi ini membuat kapal-kapal pesiar asing maupun lokal yang dimiliki pribadi masih sulit mendapatkan tempat yang aman untuk melabuhkan kapal," ujarnya dalam Media Gathering INSA di Jakarta, Selasa (28/6/2022).

Terbatasnya jumlah marina ini disebabkan karena belum ada aturan khusus untuk pembangunan marina. 

Baca Juga:
Carmelita: Pelayaran Nasional Percaya Diri Hadapi Sentimen Global

Saat ini sedikitnya baru ada 10 marina yang tersebar di seluruh Indonesia.

Untuk itu diketahui, payung hukum pembangunan marina saat ini menggunakan regulasi Terminal Khusus (Tersus) yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan.

Baca Juga:
Pelayaran Nasional Tetap Optimistis Hadapi Ancaman Resesi Global 2023

Untuk diketahui, saat ini kapal yacht masih dikategorikan barang mewah untuk pribadi, namun jika digunakan untuk menunjang usaha pariwisata bisa mendapat Surat Keterangan Bebas (SKB) PPnBM.

"Terakhir, pelaku usaha juga terkendala dari sisi pendanaan. Model bisnis marina sangat padat modal dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan modal investasinya," ungkap dia. 

Dengan begitu dukungan pendanaan terhadap pembangunan marina menjadi belum maksimal.

"Kita harap segala tantangan ini bisa dicarikan solusinya, sehingga potensi wisata bahari benar-benar tergarap optimal untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Kriss.

Adapun perlu diketahui bahwa perawatan kapal yatch juga setidaknya sama dengan kapal regular lainnya.

Setiap tahunnya atau minimal dua tahun sekali dilakukan docking selain perawatan harian dan jelang penggunaan kapal. (omy)