Indonesia Hadiri Cooperation Forum ke-13, Komit Wujudkan Kespel di Selat Malaka dan Singapura

  • Oleh : Naomy

Senin, 18/Jul/2022 19:44 WIB
Cooperation Forum ke-13 Cooperation Forum ke-13

KUALA LUMPUR (BeritaTrans.com) – Menjaga dan mewujudkan keselamatan pelayaran (kespel) dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura bukan hanya merupakan tanggung jawab dari ketiga Negara Pantai, Indonesia, Malaysia dan Singapura. 

"Dukungan dan peran serta International Maritime Organization (IMO), Negara-negara Pengguna, serta pihak terkait sangat diperlukan guna memastikan kedua Selat tersebut tetap aman, terbuka, dan selamat untuk melaksanakan kegiatan pelayaran serta tetap terlindungi lingkungannya di masa yang akan datang," jelas Direktur Kenavigasian, Hengky Angkasawan saat membacakan sambutan Direktur Jenderal Perhubungan Laut selaku Head of Delegation (HoD) Pertemuan Cooperation Forum (CF) ke-13 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (18/7/2022).

Baca Juga:
Kemenhub Terus Dorong Percepatan Penetapan Alur Pelayaran

Dia mengatakan, Cooperation Forum, yang merupakan salah satu dari tiga pilar Cooperative Mechanism, berfungsi sebagai sarana untuk melakukan dialog dan bertukar pandangan mengenai isu-isu yang merupakan kepentingan bersama di Selat Malaka dan Selat Singapura, di mana melalui forum inilah ide-ide terkait proyek-proyek baru seputar peningkatan keselamatan dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura dapat diwujudkan.

“Oleh karenanya, Cooperative Mechanism telah terbukti perannya sebagai sebuah kerangka kerja yang praktis dan efektif untuk kerjasama Internasional di Selat Malaka dan Selat Singapura,” ujarnya.

Baca Juga:
Gandeng Stakeholder Terkait, Indonesia Optimalkan Data IMO GISIS

Hengky mengatakan, semua pihak yang terlibat wajib untuk merasa bangga atas prestasi yang telah dicapai Cooperative Mechanism selama lima belas tahun terakhir. 

Pencapaian ini menggarisbawahi pentingnya bekerjasama untuk meningkatkan kespel dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Singapura karena Pelayaran akan selalu menjadi urat nadi perekonomian dunia.

Baca Juga:
Libatkan Puluhan Masyarakat, Ditjen Hubla Gelar Padat Karya di Pelabuhan Sunda Kelapa

Hengky menyerukan ajakan kepada semua Negara Pengguna serta pemangku kepentingan lainnya untuk terus berkomitmen dalam mendukung Cooperative Mechanism dan berbagai proyek di bawah kerangkanya.

“Dukungan nyata dapat berperan untuk mendukung arah berani yang telah diambil oleh Negara Pantai serta menegaskan kembali pentingnya kerja sama internasional,” tutupnya.

Sebagai informasi, Cooperation Forum adalah pertemuan tahunan di bawah kerangka Cooperative Mechanism yang dilakukan secara bergiliran oleh tiga negara Pantai secara urutan alfabetikal.

Pertemuan Cooperation Forum akan dilanjutkan dengan dua Pertemuan lainnya, yaitu Tripartite Technical Expert Working Group (TTEG) dan Project Coordination Committee (PCC) yang dihadiri oleh pejabat setingkat eselon II dari masing-masing Negara Pantai, untuk membahas usulan dan implementasi terhadap proyek-proyek yang telah disampaikan dan disetujui pada pertemuan Cooperation Forum.

Adapun Cooperative Mechanism dibentuk oleh tiga negara pantai (Indonesia, Malaysia, Singapura) dengan dukungan dari IMO, berdasarkan kesepakatan Ministerial Meeting di Batam tahun 2005, Jakarta Statement ‘2005 (Senior Officer Meeting), Kuala Lumpur Statement ‘2006, serta Singapore Statement ‘2007, untuk mengaplikasikan article 43 UNCLOS 1982, yang mendorong peran serta Negara Pengguna dan Pemangku Kepentingan lainnya dalam peningkatan keselamatan dan perlindungan lingkungan di Selat Malaka dan Selat Singapura. (omy)