Lonjakan Biaya Proyek Kereta Cepat Akan Ditutup dengan Utang

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 04/Agu/2022 13:55 WIB


Jakarta (Beritatrans.com) -- Kementerian BUMN menyebut pembengkakan (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) akan ditutup dengan dana dari konsorsium pemegang saham dan pinjaman (loan) alias utang.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga merinci untuk konsorsium yang beranggotakan sejumlah BUMN seperti, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co Ltd, besaran dana yang ditanggung sebesar 25 persen dari nilai pembengkakan proyek sesuai dengan komposisi saham.

Sekedar meningatkan PSBI  memegang 60 persen saham pada PT Kereta Cepat Indonesia (KCIC) sebagai pemilik proyek. Sementara, 40 persen sisinya dimiliki Beijing Yawan.

Baca Juga:
Progres Proyek Pembangunan KA Cepat JKT-BDG Capai 91,7%

PSBI, kata Arya, diperkirakan menambal pembengkakan sebesar Rp4 triliun. Dana itu berasal dari penyertaan modal negara (PMN) yang masuk lewat PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Sementara, konsorsium China diperkirakan akan menambal Rp 3 triliun.

Sedangkan 75 persen dari pembengkakan biaya akan ditutup melalui utang.

"Nanti yang 75 persen kami akan cari loan. Loan yang akan dibayar pada saat sudah mulai operasional. Di situ dimasukkan dalam semuanya, jadi dimasukkan dalam loan juga 75 persen itu. Itu yang akan diperkirakan apakah cari dari perbankan mana, mungkin dari China, atau dari mana," kata Arya seperti dikutip dari Detik, Rabu (3/8).

Ia menuturkan pinjaman itu akan atas nama KCJB. Namun, Arya belum membeberkan siapa yang akan memberikan pinjaman. Pasalnya pihaknya pun masih mencari sumber pendanaan tersebut.

"Kita cari kan, kita lagi cari nih, bisa dari bank China dan sebagainya, lagi dicari, bisa lah," ujarnya.

Biaya pembangunan proyek KCJB membengkak dari rencana awal. Dalam proposal penawaran yang disampaikan pemerintah China pada 2015 lalu, Negeri Tirai Bambu menawarkan biaya pembangunan proyek yang hanya US$5,13 miliar.

Namun berdasarkan hitungan terbaru KAI, terjadi pembengkakan biaya proyek KCJB maksimal sebesar US$1,9 miliar atau Rp28,5 triliun. Sehingga maksimal anggaran pembangunan yang dibutuhkan Rp118,5 triliun.

China Development Bank (CBD) sebagai pemegang proyek ini pun meminta Indonesia untuk ikut menanggung pembengkakan biaya tersebut.  (ny/Sumber: CNNIndonesia)

Baca Juga:
Ada KCJB, Tiga Kali Ganti Kereta demi Sampai Kota Bandung