3 Tahun Implementasi Ferizy, ASDP Siap Kolaborasi dengan Mitra, Sukseskan Layanan Angkutan Nataru

  • Oleh : Naomy

Minggu, 25/Sep/2022 18:22 WIB
Penumpang penyeberangan Penumpang penyeberangan

 

JAKARTA (BeritaTrans.com) - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) siap berkolaborasi dengan para mitra kerja terkait peningkatan kualitas layanan penyeberangan dan pelabuhan khususnya di lintasan tersibuk Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk demi kelancaran pada periode Libur Natal dan Tahun Baru mendatang.

Baca Juga:
ASDP Dukung dan Partisipasi di Perhelatan Sail Tidore 2022

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Shelvy Arifin mengatakan, pihaknya menjadikan layanan Angkutan Lebaran 2022 lalu sebagai lesson learned, dan telah disiapkan strategi sejumlah poin penting yang menjadi perhatian, terkait layanan pelabuhan, kapal, serta aspek keselamatan yang menjadi prioritas. 

Selain itu juga ada kelancaran arus penumpang dan kendaraan, termasuk layanan e-ticketing Ferizy yang saat ini memang baru bisa diakses 100 persen di Merak, Bakauheni, Ketapang dan Gilimanuk.

Baca Juga:
Ini Cara Pembayaran Tiket Online Saat Hendak Naik Kapal Penyeberangan

"Tahun ini merupakan tahun ketiga dari implementasi layanan e-ticketing Ferizy sejak diluncurkan pada tahun 2020," katanya, Ahad (25/9/2022).

Layanan e-ticketing Ferizy bertujuan untuk mengatur keseimbangan antara kapasitas angkut dengan demand penumpang di setiap pelabuhan sehingga penumpang yang akan menyeberang sesuai dengan kapasitas yang ada di waktu tertentu. 

Baca Juga:
ASDP Resmi Terapkan Pembayaran Non Tunai di 4 Pelabuhan Penyeberangan di Ambon

Selain itu, pembelian e-ticketing Ferizy telah terkoneksi langsung dengan aplikasi PeduliLindungi sehingga dapat memastikan pengguna jasa telah sesuai dengan ketentuan persyaratan menyeberang, serta dengan melakukan pembelian tiket online, pencatatan manifest terkait hak asuransi semakin akurat.

"Sejak implementasi Ferizy di Tahun 2020, ASDP telah mengatur jumlah penumpang yang datang ke pelabuhan sesuai dengan kapasitas angkut per jam dan per harinya. Artinya, kendaraan dan penumpang hanya diperbolehkan masuk ke pelabuhan (check in) sesuai dengan waktu yang telah dipilih saat membeli tiket yang mana selanjutnya pengguna jasa akan naik ke kapal dengan sistem atau mekanisme first in first out (FIFO) setelah proses check In," ujar Shelvy.

Data menyebutkan, sebelum implementasi Ferizy, pengguna jasa ferry cenderung menyeberang di malam hari dengan perbandingan 61% di malam hari dan 39% di siang hari.

Di mana hal tersebut membuat produksi di malam hari berada di atas kapasitas muat rata-rata kapal yang berakibat terjadinya antrian di pelabuhan.

Setelah Ferizy diimplementasikan pada Lebaran 2022 yang lalu, karakteristik pengguna jasa yang dominan menyeberang di malam hari berhasil disebar secara merata melalui pembatasan kuota dengan persentase 42% di malam hari dan 58% di siang hari (Merak) dan persentase 49,7% di malam hari dan 50,3% di siang hari (Bakauheni).

"Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa secara data reservasi tiket customer sudah tersebar merata di setiap jamnya sesuai dengan jadwal yang dipilih oleh pengguna jasa dan kapasitas angkut alat produksi di pelabuhan (flattening the curve)," ungkapnya. 

Hanya dalam pelaksanaannya, untuk menjamin agar customer masuk ke pelabuhan sesuai dengan jamnya, kata dia, masing-masing perlu dukungan dari berbagai stakeholder untuk melakukan pemeriksaan (screening) secara ketat mulai dari jalan tol (diluar pelabuhan).

"Dengan begitu, customer yang belum waktunya check in atau masuk ke dalam pelabuhan tidak dapat diizinkan menuju ke pelabuhan," pungkasnya. (omy)