Airnav Beberkan Pengalaman Hadapi Pandemi di G20 Aviation Dialogue

  • Oleh : Naomy

Rabu, 19/Okt/2022 17:20 WIB
Dirut Airnav Polana B Pramesti Dirut Airnav Polana B Pramesti


BALI (BeritaTrans.com) - Sebagai satu-satunya Perusahaan pengelola navigasi penerbangan di Indonesia, AirNav Indonesia menjadi salah satu panelis dalam G20 Aviation Dialogue 18-19 Oktober di Bali.

Airnav mendapat  kesempatan untuk dapat membeberkan salah satu pengalamannya terkait strategi dan novasi yang membuatnya mampu bertahan melalui terpaaan badai pandemi. 

Baca Juga:
Mantap, Selama Periode Nataru, Airnav Layani 72.670 Penerbangan

Direktur Utama AirNav Indonesia, Polana Banguningsih Pramesti memaparkan profil hingga inovasi in-house yang diluncurkan AirNav pada sejak awal pandemi 2020.

Di antaranya yaitu User Preffered Routes (UPRs). Inovasi tersebut telah diimplementasikan sejak 1 Juni 2020 dan mendapatkan apresiasi khusus dari IATA. 

Baca Juga:
AirNav Optimistis Sambut Tahun 2023 dengan Penerbangan Lebih Baik Lagi

“Walaupun merupakan inovasi in house, selama masa perancangan hingga monitoring pelaksanaan dikolaborasikan dengan stakeholder terkait, yaitu Direktorat Navigasi Penerbangan dan  IATA,” ujar Polana. 

Dalam perancangan dan monitoring pelaksanaannya, UPRs selalu dikolaborasikan dengan stakeholder terkait, yaitu Direktorat Navigasi Penerbangan dan IATA. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan tujuan utama dibangunnya inovasi ini, yakni untuk efisiensi penerbangan, khususnya bagi para pengguna jasa.

Baca Juga:
Selama 7 Hari Periode Angkutan Nataru, AirNav Layani 36.203 Penerbangan

UPR adalah metode manajemen ruang udara dengan konsep free-route airspace yang mampu menghasilkan rute-rute alternatif sebagai pilihan bagi maskapai dengan menyesuaikan arah angin, turbulensi, panjang rute dan lain sebagainya.

Dalam presentasinya Polana menjelaskan bahwa pesawat asing yang melintas di atas ruang udara Indonesia, apabila menggunakan prosedur UPR akan mendapatkan banyak manfaat, antara lain: efisiensi atas penggunaan bahan bakar, waktu tempuh yang lebih singkat, mereduksi jarak antarpesawat sehingga penggunaan ruang udara dapat dimaksimalkan, dan yang tak kalah penting adalah mereduksi emisi gas karbon. 

Satu dekade untuk AirNav Indonesia menjadi tantangan serta kesempatan baik bagi perusahaan untuk terus memperbaiki diri baik melalui inovasi, kolaborasi dan adaptasi dengan sumber daya sekitar. 

Menutup paparannya, Polana menyatakan bahwa perlunya mengelola keterbatasan dengan kemampuan yang dimiliki.

“Situasi pandemi, tidak seharusnya membuat kita berdiam diri, namun melalui situasi seperti itulah kita dituntut untuk mengelola kemampuan yang kita miliki hingga melahirkan inovasi yang layak digunakan oleh masyarakat dengan tetap mempertimbangkan kemajuan teknologi dan intuisi perhitungan logika," tutur Polana. 

Pada hari pertama dalam rangkaian dua hari kegiatan dialog, pembahasan ditekankan kepada pemulihan sektor penerbangan yang menjadi salah satu alternatif pada pertumbuhan ekonomi sebuah negara. 

Sebagai tuan rumah, Indonesia melalui Kementerian Perhubungan menghadirkan para panelis dengan beragam latar belakang yang merupakan perwakilan negara dunia untuk membahas upaya pemulihan industri penerbangan pascapandemi Covid-19. 

Pada kesempatan itu, ICAO mengapresiasi komitmen Indonesia untuk memulihkan industri penerbangan nasional, yang disampaikan Presiden ICAO Mr. Salvatore Sciacchitano. 

“Hal ini yang membuat saya datang ke sini. Bahwa peran Indonesia untuk membawa isu penerbangan menjadi perhatian dalam kepemimpinan Indonesia pada G20,” demikian disampaikan  Presiden ICAO Salvatore Sciacchitano. (omy)