Antisipasi Ancaman Resesi 2023, Perlu Penguatan Logistik Domestik

  • Oleh : Naomy

Minggu, 23/Okt/2022 14:25 WIB
Seminar Logistik Seminar Logistik


BANDUNG (BeritaTrans.com) - Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam menghadapi ancaman resesi tahun 2023 adalah orientasi dan penguatan logistik domestik berdasarkan kekuatan potensi permintaan dan pasokan dalam negeri.

Potensi permintaan tercermin dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 273,87 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 3,69 persen pada tahun 2021. 

Baca Juga:
Mantap, Triwulan III-2022, Sektor Transportasi dan Pergudangan Tumbuh 25,81%

"Sementara, potensi pasokan berupa komoditas yang beragam di berbagai wilayah Indonesia," tutur Setijadi pada Seminar Outlook Bisnis Logistik 2023 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, dalam mengantisipasi ancaman resesi tahun 2023, harus dilakukan penguatan dan peningkatan efisiensi logistik dan rantai pasok terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global.

Baca Juga:
Sektor Transportasi dan Pergudangan Tumbuh Tertinggi Sebesar 21,27 Persen pada Triwulan II-2022

Ketergantungan ekspor dan impor dengan sejumlah negara, harus dipertimbangkan sebagai antisipasi atas risiko resesi di beberapa negara mitra, terutama Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. 

"Berdasarkan data BPS, pada September 2022 nilai ekspor non-migas Indonesia ke Tiongkok sebesar USD 6,16 miliar atau 26,23 persen dari total ekspor non-migas, sementara impor dari Tiongkok sebesar USD 5,69 miliar atau 34,74 persen dari total impor non-migas Indonesia," urainya.

Baca Juga:
Rencana Pembangunan Pelabuhan Hortikultura Jateng Diapresiasi SCI

Ketergantungan ekspor-impor itu menurut Setijadi, harus diwaspadai karena pertumbuhan ekonomi di Tiongkok beberapa waktu terakhir. 

Pada Kuartal II 2022 ekonomi Tiongkok tumbuh 0,4 persen (yoy) atau terkontraksi 4,4 persen dibanding kuartal sebelumnya

Antisipasi juga harus dilakukan mengingat impor terbesar Indonesia adalah bahan baku/penolong. Dari nilai impor pada September 2022 sebesar USD 19,81 miliar, 75,21 persen berupa bahan baku/penolong, 16,76 persen barang modal, dan 8,03 persen barang konsumsi.

Dia mengatakan, dalam jangka panjang, perlu dikembangkan rantai pasok beberapa produk dan komoditas dari hulu ke hilir (end-to-end) untuk mengurangi ketergantungan impor. 

"Misalnya untuk industri farmasi,, sekitar 95 persen bahan baku berasal dari impor," ungkapnya.

Peningkatan efisiensi logistik dan rantai pasok akan berdampak terhadap penurunan harga produk dan komoditas yang sangat penting pada situasi resesi. 

Dalam perspektif global, peningkatan daya saing produk dan komoditas berpotensi meningkatkan volume ekspor.

Seminar juga mengundang pembicara Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian PPN/Bappenas P.N. Laksmi Kusumawati, Dirut PT Pelindo (Persero) Arif Suhartono, Presdir & CEO Logistic Group Sarana Citranusa (SCN) Logistic Group Aulia Febrial Fatwa. 

Pembicara lain adalah Kepala Pusat Konsultasi Anggota Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Tetty H. Sihombing, Group CEO at PowerCommerce.Asia - The Power Group Indonesia Hadi Kuncoro, Praktisi dan Konsultan Industri Farmasi Pre Agusta Siswantoro, CEO Mostrans Berty Argiyantari, dan Presdir PT Brinks Solutions Indonesia David Maksud. (omy)

 

Tags :