Menhub: Upaya Pemulihan Sektor Transportasi Berdampak Positif pada Pariwisata

  • Oleh : Naomy

Kamis, 17/Nov/2022 20:18 WIB
Menhub Budi Karya Sumadi dan Menparekraf Menhub Budi Karya Sumadi dan Menparekraf

 

BALI (BeritaTrans.com) - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan,  sejumlah upaya pemulihan di sektor transportasi, turut berdampak positif pada sektor pariwisata nasional. 

Baca Juga:
Kemenhub Sebut Pergerakan Penumpang di Lombok Masih Tinggi

Menhub menyatakan di Forum Pariwisata Global atau Global Tourism Forum-Annual Meeting 2022 di Bali, Kamis (17/11/2022).

Sejumlah upaya yang dilakukan, di antaranya yaitu: mengeluarkan beberapa Surat Edaran terkait persyaratan perjalanan transportasi yang lebih mudah namun tetap mengedepankan penerapan protokol kesehatan. 

Baca Juga:
Usai Membangun Bandara Ngloram di Blora, Kemenhub Tahun Ini Membangun Terminal Bandara Dewandaru di Karimunjawa

“Upaya ini menjadi titik balik kebangkitan industri transportasi, karena semakin meningkatkan keterisian penumpang,” ujar Menhub.

Selain itu, Kemenhub bersama operator transportasi juga terus mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk meminimalkan penyebaran virus. 

Baca Juga:
Kemenhub: Larangan Mudik dan Penyekatan Hanya Berlaku 6-17 Mei Saja

Seperti misalnya: digitalisasi layanan di bandara dan penggunaan HEPA filter yang mampu menjaga kebersihan udara di dalam sarana transportasi publik. 

Kemenhub juga memberikan sejumlah insentif, misalnya di sektor penerbangan yaitu dengan memberikan insentif untuk Layanan Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau Passenger Service Charge (PSC).

Dalam forum tersebut Menhub mengungkapkan, upaya pemulihan sudah mulai terlihat hasilnya. 

Salah satu indikatornya yaitu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), transportasi dan pergudangan pada kuartal III tahun 2022 tumbuh paling besar yaitu 25,8 persen (year on year). 

"Hal ini menunjukkan tren yang terus meningkat sejak awal tahun 2022, dan berkontribusi penting pada pertumbuhan perekonomian Indonesia yang meningkat 5,72% year on year di kuartal III tahun 2022," tuturnya.

Namun demikian, Menhub tetap mengingatkan seluruh pihak untuk terus berupaya menjaga momentum tren pertumbuhan, serta tetap waspada terhadap kondisi ketidakpastian global, seperti: pandemi lanjutan, perubahan iklim, dan ketegangan perang global di masa depan.

Upaya membangun masa depan transportasi publik di Indonesia pascapandemi juga harus terus dilakukan.

“Pandemi Covid-19 telah mengajari kita harus berfikir jauh ke depan. Indonesia membutuhkan perbaikan konektivitas jaringan, keselamatan transportasi, transportasi yang ramah lingkungan, dan integrasi antarmoda,” ujar Menhub. 

Dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah, Kemenhub akan terus membangun infrastruktur transportasi baik di perkotaan maupun di daerah terpencil, terdepan, tertinggal, dan perbatasan (3TP). 

Untuk mengatasi terbatasnya kemampuan fiskal negara (APBN) dalam membiayai kebutuhan pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia, Menhub menjelaskan, akan terus mendorong pendanaan kreatif non-APBN melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan usaha (KPBU), Dana Kekayaan Negara, kerja sama pemanfaatan (KSP), pembiayaan campuran, pembiayaan hijau dalam infrastruktur proyek hijau, serta membentuk Badan Layanan Umum (BLU) dan meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Pada momen Presiden G20 ini, kami menandatangani beberapa nota kesepahaman untuk pendanaan kreatif non-APBN dengan tiga negara yaitu Jepang, Inggris, dan Korsel untuk pengembangan angkutan massal perkotaan MRT Jakarta,” imbuh Menhub.

Lebih lanjut Menhub mengatakan, pemerintah juga berkomitmen untuk mengurangi emisi gas buang dari kendaraan berbahan bakar fosil, dengan mulai melakukan transformasi energi dari bahan bakar fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Pemerintah telah menetapkan tujuan untuk memiliki setidaknya dua juta kendaraan listrik pada tahun 2025. 

Pemerintah akan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar atau konsumen kendaraan listrik tetapi juga produsen, karena Indonesia memiliki potensi sumber daya alam untuk memproduksi komponen kendaraan listrik. 

“Kami serius memasuki pasar energi terbarukan, termasuk transisi ke kendaraan listrik. Penggunaan kendaraan listrik selama G20 menunjukkan simbol dimulainya transformasi ini,” ucap Menhub.

Dia juga menyebutkan pentingnya untuk memperkuat kerja sama dengan pemangku kepentingan baik itu dengan kementerian atau lembaga lain, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, akademisi, media, dan publik. 

Sebagai contoh yang telah dilakukan yaitu kolaborasi Kemenhub, Kemendikbud, Kebudayaan, Ristek, Perguruan Tinggi, dan INKA membuat bus listrik Merah Putih yang digunakan dalam G20. 

Selanjutnya kerja sama antara Kemenhub, Pemprov DKI Jakarta, dan operator (PT MRT) untuk melakukan pengembangan angkutan massal perkotaan.

Turut hadir dalam Forum ini, Menparekraf Sandiaga Uno, Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Paduka Lim Jock Hoi, serta perwakilan dari European Parliament, Asia-Pacific Economic Organization (APEC), Pacific Asia Travel Association (PATA) The International Air Transport Association (IATA), Accor, Ascott, Booking.com, Travala.com, serta sejumlah perusahaan swasta terkemuka lain. (omy)