Airnav Dukung Pertemuan ICAO di Bali dan Siap Perkuat Layanan Bertaraf Internasional

  • Oleh : Naomy

Selasa, 22/Nov/2022 16:03 WIB
Dirut Airnav Indonesia bersama Direktur Nagigasi Udara Kemenhub di kegiatan ICAO di Bali Dirut Airnav Indonesia bersama Direktur Nagigasi Udara Kemenhub di kegiatan ICAO di Bali

 

BALI (BeritaTrans.com) – Sebagai satu-satunya Badan Usaha Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) mendukung penuh peran aktif Kementerian Perhubungan sebagi perwakilan Indonesia yang menjadi salah satu negara anggota International Civil Aviation Organization (ICAO) dalam merumuskan kebijakan dan peraturan di bidang penerbangan sipil di level regional Asia Pasifik. 

Baca Juga:
Mantap, Selama Periode Nataru, Airnav Layani 72.670 Penerbangan

“Sebagai negara anggota member ICAO, AirNav siap mendukung Kemenhub dalam merumuskan kebijakan pelayanan navigasi penerbangan bertaraf internasional,” tutur Direktur Utama AirNav Indonesia Polana B Pramesti di Pertemuan APANPIRG/33 di Bali, Selasa (22/11/2022).

Kegiatan ini merupakan high-level meeting di tingkat teknis yang dilaksanakan guna membahas materi kebijakan terkait penerbangan sipil di Kawasan Asia Pasifik dan pengambilan keputusan terhadap hasil pertemuan sebelumnya di level Task Force, Working Group dan Sub Group di lingkup operasi bandara, manajemen lalu lintas penerbangan, komunikasi navigasi dan penginderaan, meteorologi penerbangan dan monitoring keselamatan pada pengoperasian pesawat udara. 

Baca Juga:
AirNav Optimistis Sambut Tahun 2023 dengan Penerbangan Lebih Baik Lagi

Terdapat 30 negara yang tercatat sebagai ICAO Member di regional Asia Pasifik.

Polana mengatakan, AirNav siap mendukung penuh setiap kebijakan Kemenhub melalui pertemuan International ICAO Thirty-Third Meeting of the Asia/Pacific Air Navigation Planning and Implementation Regional Group yang ke-33 (APAPIRG/33) yang diselenggarakan di Trans Resort Bali 22-24 November 2022.

Baca Juga:
Menhub Ungkap Permintaan Slot Penerbangan Domestik dan Asing Melonjak 84 Persen

“Sebagaimana kita ketahui bersama dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, Pandemi Covid-19 merupakan situasi yang sangat menantang bagi industri penerbangan secara global, butuh komitmen bersama untuk memulihkan penerbangan yang aman dan efisien, serta menjadikan industri penerbangan lebih tangguh di masa depan,” lanjut Polana. 

Dia menegaskan, pada APANPIRG/33, AirNav bersama Kemenhub menyampaikan working paper implementasi  User Preferred Routes (UPRs), yang merupakan strategi inisiatif untuk mendorong pertumbuhan traffic di masa pandemi, 

Prosedur UPR ini merupakan salah satu terobosan AirNav di masa pandemi, yang didukung oleh Kemenhub, berkolaborasi dengan IATA.  

Dengan prosedur UPR maskapai internasional dapat merencanakan rute penerbangan melalui poin-poin di angkasa, tanpa harus melalui rute ATS konvensional, dengan mempertimbangkan arah angin, turbulensi, jarak, dan sebagainya, sehingga penerbangan yang melewati ruang udara Indonesia bisa lebih efisien, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan penerbangan.

Dijelaskan lebih lanjut, dengan implementasi prosedur UPR, AirNav mendorong efisiensi penerbangan berupa penghematan bahan bakar untuk maskapai sebesar Rp650 juta per tahun dan pengurangan emisi karbon sebesar 94,5 ton/100 penerbangan. 

Pada APANPIRG 33 ini, working paper implementasi UPR Indonesia mendapatkan apresiasi dan dukungan dari Singapura, Amerika Serikat, Jepang, IATA dan ICAO sendiri. 

ICAO mengharapkan prosedur UPR dapat diimplementasikan secara regional ke depannya.

“Hal ini juga sejalan dengan kebijakan ICAO untuk terus berkomitmen mengurangi emisi gas karbon dan terwujudnya net-zero emisi penerbangan pada tahun 2050,” lanjut Polana.

Dia menggarisbawahi, kesiapan AirNav menyukseskan komitmen tersebut dituliskan dalam Working Group Paper Pertemuan ICAO APANPIRG ke-33 ini, di mana terdapat upaya memastikan pengembangan penerbangan sipil yang berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik dapat selaras atau seamless untuk setiap negara serta konsisten dengan standar ICAO. 

"Setiap program yang akan dijalankan bersama ini membutuhkan kolaborasi dari semua pemangku kepentingan agar keberlangsungan konektivitas transportasi udara (sustainable air connectivity) dapat terwujud di masa depan. Isu-isu baru yang juga menjadi materi pembahasan pada pertemuan ini yaitu di antaranya berkaitan dengan perkembangan teknologi seperti pengoperasian pesawat udara tanpa awak, sampai dengan pemanfaatan teknologi modern space-based yang mampu meningkatkan efisiensi dan kapasitas ruang udara," imbuhnya.

Polana menekankan, 2022 menjadi tahun titik balik bagi pariwisata di Indonesia, tercatat adanya kenaikan jumlah lalu lintas penerbangan di Indonesia hingga akhir kuartal III yang cukup baik, yaitu hingga 80% bila dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi. 

AirNav menyambut dengan antusias atas pertumbuhan jumlah penerbangan yang telah terjadi selama 2022, ditambah dengan adanya beberapa acara internasional yang terselenggara di Indonesia sehingga meningkatkan jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara. (omy)