SCG Umumkan Hasil Operasi Q3/2022: Atasi Tantangan Global dan Usung Tiga Megatren Bisnis

  • Oleh : Ahmad

Rabu, 30/Nov/2022 13:32 WIB
SCG Smart Living untuk peningkatan kualitas hidup pelanggan dan masyarakat, salah satunya melalui smart innovation untuk kualitas udara dan penghematan energi. foto:istimewa/SCG SCG Smart Living untuk peningkatan kualitas hidup pelanggan dan masyarakat, salah satunya melalui smart innovation untuk kualitas udara dan penghematan energi. foto:istimewa/SCG

Mr. Roongrote Ransiyupash, President and CEO of SCG dan Mr. Thammasak Sethaudom, Vice President-Finance and Investment and CFO of SCG

 

JAKARTA (BeritaTrans.com) – SCG, perusahaan terkemuka di ASEAN, umumkan hasil operasi di periode Q3/2022. Perusahaan menunjukkan kinerja yang solid, berkat manajemen likuiditas yang ketat dan investasi pada bisnis yang berpotensi tinggi dan berkelanjutan.

Roongrote Rangsiyopash, Presiden dan CEO SCG, mengungkapkan, “Hasil operasi SCG pada Q3/2022 dipengaruhi secara signifikan oleh kenaikan harga energi yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Konflik Rusia-Ukraina mengakibatkan meningkatnya biaya energi pada industri petrokimia SCG secara signifikan dalam 20 tahun. Perlambatan ekonomi global juga terjadi akibat kenaikan suku bunga global dan semakin diperparah dengan pelemahan ekonomi Tiongkok akibat Kebijakan Zero-Covid-nya.”

Pendapatan penjualan SCG meningkat 8% secara y-o-y berkat kenaikan harga produk sejalan dengan pasar bisnis CBM (cement-building materials), serta unit bisnis SCGP (packaging/ kemasan). Khusus untuk SCG di Indonesia, SCG melaporkan Pendapatan dari Penjualan Q3/2022 sebesar Rp5,25 triliun (US$ 352 juta), turun 10% secara y-o-y terutama dari bisnis packaging (FajarPaper dan Intan), unit bisnis CBM (KOKOH) dan penjualan ekspor dari Thailand.

Secara y-o-y, laba berjalan mengalami penurunan 64% di mana unit bisnis CBM menghadapi lonjakan biaya energi, sementara unit bisnis kemasan (packaging) (SCGP) berkinerja baik di tengah fluktuasi energi. Di sisi lain, unit bisnis petrokimia (chemicals) (SCGC) tengah mencapai titik terendah dalam 20 tahun terakhir akibat tingginya biaya bahan baku dan terjadinya kelebihan pasokan.

Hasil operasi SCG Q3/2022 yang belum ditinjau mencatatkan pendapatan penjualan sebesar Rp58,31 triliun (US$ 3,91 miliar), turun 7% q-o-q, disebabkan melemahnya harga produk kimia imbas permintaan petrokimia yang menurun. Laba mencapai Rp1 triliun (US$ 67 Juta), menurun 75% q-o-q yang sebagian besar disebabkan oleh penurunan distribusi bahan kimia, peningkatan biaya energi, serta dividen musiman yang lebih rendah.

Sepanjang Januari hingga September 2022, SCG mencatatkan pendapatan penjualan sebesar Rp188,64 triliun (US$ 12,92 miliar), meningkat 15% y-o-y. Peningkatan tersebut ditunjang peningkatan penjualan di seluruh unit bisnis, terutama dari peningkatan harga produk yang sejalan dengan pasar. Laba pada periode sama berjumlah Rp8,95 triliun (US$ 613 juta), menurun 45% y-o-y akibat kenaikan biaya bahan baku dan energi serta pendapatan ekuitas yang lebih rendah pada unit bisnis petrokimia (chemicals).

Per 30 September 2022, total aset SCG sebesar Rp373,65 triliun (US$ 24,53 miliar), sedangkan total aset SCG di ASEAN (diluar Thailand) mencapai US$ 11,30 miliar, 46% dari total aset konsolidasi SCG.

"Krisis ini sangat menantang, tetapi kami yakin bahwa SCG mampu mengatasinya dan menjadi lebih kuat berkat strategi perusahaan, yang mencakup penyesuaian ketepatan waktu pada rencana bisnis, mengurangi biaya, menunda proyek investasi yang tidak mendesak, dan menyesuaikan rencana produksi untuk memenuhi permintaan pasar. Sementara itu, kami juga berinvestasi lebih banyak di bisnis baru yang lebih potensial (New S-Curve). Untuk SCGP, portofolio investasi perusahaan terus berkembang secara sehat.” ujar Roongrote.

Ke depannya, SCG terus konsisten menjalankan kegiatan operasional dan bisnis berlandaskan prinsip ESG 4 Plus, dengan memasuki tiga bisnis baru:

1. Energi Terbarukan (Renewable Energy)
SCG berupaya menurunkan biaya dan mempercepat pengembangan energi terbarukan dengan memanfaatkan biomassa dari produk sampingan pertanian dan limbah rumah tangga perkotaan yang disebut Refused-Derived Fuel (RDF) sebagai pengganti bahan bakar fosil.

2. ASEAN Logistics: Perusahaan melakukan merger bisnis logistiknya menjadi Top Integrated Logistics and Supply Chain Business di ASEAN, menawarkan berbagai layanan seperti pergudangan (warehouse); sistem cold storage; layanan kargo darat, laut, dan udara; layanan docking; serta layanan impor dan ekspor, meliputi kebutuhan pelanggan dari hulu ke hilir.

3Smart Living: Bisnis peningkatan kualitas hidup pelanggan dan masyarakat dengan kenyamanan, keterjangkauan, keamanan, dan tanggung jawab lingkungan. Salah satunya smart innovation untuk kualitas udara dan penghematan energi.(ahmad)

Tags :