Kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS Dikukuhkan Electoral College

  • Oleh : Redaksi

Selasa, 15/Des/2020 14:41 WIB
Presiden-terpilih Joe Biden berpidato tak lama setelah kemenangannya dikukuhkan. (Foto:Getty Images) Presiden-terpilih Joe Biden berpidato tak lama setelah kemenangannya dikukuhkan. (Foto:Getty Images)

Washington (BeritaTrans.com) - Joe Biden mengatakan "kehendak rakyat telah menang" setelah kemenangannya dalam pemilihan presiden dikukuhkan oleh electoral college Amerika Serikat.

Dalam pidato setelah pengumuman itu, ia berkata demokrasi AS telah "didorong, diuji, dan diancam" dan "terbukti kokoh, jujur, dan kuat."

Baca Juga:
Sayang Cucu, Joe Biden Boyong Tempat Tidur Bayi ke Gedung Putih

Pengukuhan tersebut merupakan satu dari rangkaian langkah terakhir yang harus dilakukan Biden untuk mengambil jabatan kepresidenan pada 20 Januari.

Kandidat dari Partai Demokrat itu memenangkan Pilpres AS pada bulan November dengan perolehan 306 suara electoral college, dibandingkan 232 suara yang diperoleh kandidat partai Republik Donald Trump.

Baca Juga:
Bareng Istri Tinggalkan Gedung Putih, Trump Tak Hadiri Pelantikan Joe Biden

Dalam sistem pilpres AS, rakyat sebenarnya memberikan suara untuk para "elektor", yang kemudian secara resmi memilih salah satu kandidat beberapa pekan setelah hari pemilihan.

Biasanya para elektor tidak mendapatkan banyak perhatian. Tetapi tahun ini, karena upaya gigih dari Trump untuk mempertanyakan dan membatalkan hasil pemilu - melibatkan gugatan hukum yang ditolak oleh pengadilan-pengadilan di seantero negeri - pemungutan suara di negara-negara bagian menjadi sorotan.

California - pendukung solid Partai Demokrat - dengan 55 elektornya, adalah salah satu negara bagian terakhir yang memberikan suara pada hari Senin dan mendorong Biden melewati ambang batas 270 suara yang diperlukan untuk memenangkan kursi kepresidenan.

Beberapa negara bagian, termasuk Michigan dan Georgia, memperketat keamanan menjelang pemungutan suara, yang dilangsungkan di ibu kota- ibu kota negara bagian dan Washington DC.

Di Michigan - negara bagian kunci yang dimenangkan Biden - kantor legislatif di ibu kota negara bagian, Lansing, ditutup karena ancaman kekerasan yang "kredibel".

Pemungutan suara di gedung DPR berlangsung dengan damai meskipun sekelompok pendukung Partai Republik berusaha memasuki gedung untuk mengadakan pemungutan suara mereka sendiri dan ditolak.

"Rakyat telah berbicara. Ini adalah pemilihan yang aman dan adil," kata Gubernur Gretchen Whitmer, seorang politikus Demokrat yang telah menjadi sasaran plot penculikan yang digagalkan FBI awal tahun ini. "Setelah hari ini, hasilnya akan final."

Siapakah para elektor?

Setiap partai politik yang mengajukan calon presiden menominasikan atau memilih elektornya sendiri berbulan-bulan sebelum hari pemilihan.

Begitu kita tahu siapa yang memenangkan suara terbanyak di suatu negara bagian, kita tahu partai mana yang akan menunjuk para elektor untuk negara bagian itu.

Konstitusi AS hanya menyatakan bahwa elektor tidak bisa menjadi anggota Kongres atau orang lain yang sedang memegang jabatan federal. Tahun ini, elektor paling terkenal adalah mantan Presiden Bill Clinton dan calon presiden 2016 Hillary Clinton, yang dipilih dari Partai Demokrat di New York.

Trump and Biden

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES

 

Para elektor hampir selalu memberikan suara sesuai dengan kandidat yang mereka janjikan untuk dipilih, meskipun pada tahun 2016 beberapa elektor tidak melakukannya dan ini mendorong negara bagian untuk mengubah undang-undang mereka demi mencegah hal itu terulangnya kembali.

Para analis mengatakan hampir tidak ada kemungkinan bahwa kemenangan Biden bisa dibatalkan.

Jumlah elektor di setiap negara bagian secara kasar sesuai dengan jumlah penduduknya.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Hasil proses pemungutan suara dikirim ke Washington DC dan secara formal dihitung dalam sidang gabungan Kongres pada 6 Januari yang dipimpin oleh Wakil Presiden Mike Pence.

Penghitungan itu akan membuka jalan bagi Joe Biden untuk dilantik sebagai presiden pada 20 Januari.

Bulan lalu, Presiden Trump mengatakan akan melepaskan jabatannya pada Januari jika Biden dikukuhkan sebagai pemenang pemilihan presiden oleh electoral college. Namun demikian, ia terus membuat klaim tak berdasar tentang kecurangan pemilu dan belum ada tanda-tanda bahwa ia akan menyerah.

Masih adakah peluang untuk Trump?

Analisis Anthony Zurcher, reporter BBC News di Amerika Utara

Pertemuan empat tahunan electoral college AS biasanya sekadar formalitas dalam perjalanan menuju pelantikan presiden — sisa kegiatan politik masa lalu yang sudah lama kehilangan kekuatan dan relevansinya.

Namun, strategi bumi hangus Donald Trump untuk menantang hasil pemilu 2020, telah menarik perhatian baru pada proses ini.

Meskipun tim hukumnya belum berhasil membalikkan hasil pemungutan suara di beberapa negara bagian, pencatatan resmi surat suara electoral college di seluruh AS akan secara efektif mengakhiri manuver peradilan jangka panjang ini.

Itu tidak berarti tim Trump akan menyerah, tentu saja. Mereka mengadakan proses electoral college tandingan dengan serangkaian suara alternatif yang menyatakan sang presiden sebagai pemenang sebenarnya. Mereka akan melanjutkan gugatan hukum yang sia-sia di pengadilan dan, pada akhirnya, meminta Kongres untuk membatalkan hasil pemilihan.

Ini adalah realitas alternatif yang barangkali lebih nyaman bagi para suporter Donald Trump, daripada realitas Joe Biden adalah presiden terpilih.

Mengingat bahwa Dewan Perwakilan Rakyat dikendalikan oleh Demokrat, penghitungan resmi suara electoral college akan disertifikasi oleh negara bagian pada hari Senin dan undang-undang federal ada di pihak Biden. Bagaimanapun, peluang Trump untuk sukses di dunia nyata hampir nol.

(sumber:bbcindonesia.com)