3 Bulan Nginap di Pool Bus ALS, Pengemudi: Gali Lobang Tutup Lobang

  • Oleh : Bondan

Senin, 11/Janu/2021 16:40 WIB
Zaharudin Panggabean, pengemudi bus ALS trayek Purwokerto-Medan. Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id. Zaharudin Panggabean, pengemudi bus ALS trayek Purwokerto-Medan. Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Bus Antar Lintas Sumatera (ALS)  melayani trayek Sumatera-Jawa bahkan hingga Denpasar. Perusahaan bus ini pernah menjadi rajanya bus Sumatera pada era masa keemasannya.

Pool sekaligus agen bus ALS di Klender, Jakarta Timur, Senin (11/1/2021). Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id.

Baca Juga:
TP TransJakarta Hadirkan Mikrotrans Listrik, Uji Coba pada September

Namun, kejayaan itu berlalu setelah bermunculan kompetitor yang melayani bus antarkota antarpropinsi (AKAP). Wabah Covid-19 datang menghantam.

Zaharudin Panggabean (42), pria asal Simataraja, Medan, Sumatera Utara, sudah 20 tahun menjadi pengemudi di perusahaan otobus (PO) ALS di trayek Purwokerto-Medan.

Baca Juga:
Jelang Sore, Truk Logistik Mulai Penuhi Tol Bekasi Timur

Saat pandemi Covid-19, dia merasakan pahitnya penumpang sepi.

“Tahun lalu sampai sekarang sepi, nggak kaya dulu lagi penumpang selalu ramai yang naik motor (bus/kendaraan) ALS. Apalagi ditambah Covid-19 hansur (hancur) sudah. Dulu ALS rajanya lintas Sumatera-Jawa,” tutur Zaharudin kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id di pool bus ALS, Klender, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Baca Juga:
Kini Tiket Bus AKAP DAMRI Bisa Dipesan di Alfamart dan Indomaret

Pria dua anak ini juga menceritakan sudah hampir tiga bulan ia menginap di pool bus ALS akibat tidak ada biaya perbaikan bus yang dikemudikannya.

Pool sekaligus agen bus ALS di Klender, Jakarta Timur, Senin (11/1/2021). Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id.

“Hampir 3 bulan ini memginap di pool gara-gara bus rusak ngga ada uang buat perbaikan. Tapi sekarang sudah bisa dibetulkan karena perusahaan sudah ada uang lagi buat beli sparepartnya. Kalau di ALS juga sistemnya beda, nggak kaya PO lain. Kaya beli minyak (solar), tol sampai tiket kapal ngambil dari hasil pembelian tiket penumpang. Kalau penumpang kurang, pengemudi  yang nombok semuanya. PO ALS cuma sediain bus aja, selebihnya pengemudi yang nyari biaya buat operasional selama di jalan,” ceritanya.

Sementara itu, untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya yang tinggal di Medan dirinya sering sekali berhutang untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

“Buat di rumah sering kali saya gali lobang tutup lobang (berhutang). Buat bayaran sekolah anak pertama sama kebutuhan anak kedua yang masih kecil. Mau gimana lagi penghasilan dari bus sekarang ngga kaya dulu lagi. Ini aja saya hutang makan di warung sudah hampir Rp2 juta. Sekarang nyari uang yang penting bisa buat ‘allang’ (makan) keluarga aja dulu. Sudah ngga bisa buat nabung,”tambahnya.

Zaharudin, juga berharap pandemi Covid-19 ini cepat berakhir. Agar semuanya kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Berharap penghasilannya kembali cerah..

Tarif bus Antar Lintas Sumatera (ALS)

Di tengah pandemi Covid-19 tarif bus ALS tidak ada kenaikan, normal seperti biasanya. Tarif mulai dari Rp235 ribu hingga Rp500 ribu tergantung dari tiap-tiap kelasnya.