Alasan Kotak Hitam Pesawat Tidak Dialihkan ke Sistem Cloud Data Real Time

  • Oleh : Redaksi

Minggu, 17/Janu/2021 11:59 WIB
Flight recorder | wikimedia.org Flight recorder | wikimedia.org

Jakarta (BeritaTrans.com) - Jika Mencari Kotak Hitam Membutuhkan Biaya Mahal, Kenapa Kotak Tersebut Dipertahankan dan Tidak Diganti ke Sistem Data Digital?

Kecelakan pesawat memang menjadi peristiwa yang paling jarang terjadi paling dunia transportasi jika dibandingkan dengan jenis transportasi lainnya. Namun, jika terjadi kecelakaan tersebut maka dampaknya cukup fatal, terlebih jika pesawat mengalami ledakan yang mengakibatkan tidak ada satupun penumpang yang selamat.

Baca Juga:
KNKT Butuh Setahun Rampungkan Investigasi Sriwijaya Air SJ182

Lalu, untuk mencari rahasia dan alasan kecelakaan itu terjadi maka salah satu barang yang paling diincar dalam pencarian adalah kotak hitam yang berisikan informasi-informasi paling penting ketika pesawat mulai mengudara sampai kejadian itu terjadi.

Namun di zaman di mana data digital dapat dengan mudah dikirim dan disimpan dari jarak jauh, penggunaan kotak hitam untuk merekam data penerbangan yang penting semakin mengejutkan banyak ahli karena dianggap kuno. Faktanya, teknologi tersebut sudah ada untuk mengalirkan informasi pesawat ke komputer darat atau "cloud" virtual, hanya saja hal itu belum diadopsi secara luas.

Baca Juga:
KNKT Berhasil Unduh Data Kotak Hitam FDR Sriwijaya Air SJ 182

Lalu, kenapa kotak itu tetap ada?K

enapa data yang tersimpan tidak langsung diunggah ke basis data komputer atau jaringan saja?

Baca Juga:
Black Box atau Kotak Hitam, 8 Hal yang Perlu Anda Ketahui

Kenapa Kotak Hitam Pesawat Tidak Dialihkan ke Sistem Cloud Data Real TimeFlight recorder | wikimedia.org

Sebenarnya hal terkait penyimpanan data sudah pernah dibahas oleh maskapai penerbangan. Lalu, mengapa maskapai penerbangan menolak keras? Karena hambatan terbesar dalam komponen didalamnya adalah biaya. FLYHT Aerospace Solutions di Kanada menyediakan layanan streaming kotak hitam sesuai permintaan dengan harga sekitar $ 100.000 per pesawat, termasuk perangkat keras dan pemasangan.

Perusahaan tersebut mengatakan memiliki lebih dari 50 pelanggan dan sudah dipasang di sekitar 400 pesawat. Canada's First Air adalah satu-satunya maskapai penerbangan yang menyatakan secara terbuka bahwa mereka menggunakan sistem FLYHT.

Perangkat streaming mirip dengan perangkat keras kotak hitam yang telah digunakan di pesawat selama beberapa dekade. Perangkat tersebut terdiri dari perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan yang masing-masing dapat memberikan informasi yang sangat diperlukan, termasuk suara sekitar dan kecepatan udara, ketinggian dan arah penerbangan, jika terjadi kecelakaan. Program FLYHT juga dijuluki Sistem Pelaporan Informasi Penerbangan Otomatis.

Pada dasarnya sistem ini menggandakan informasi yang biasanya ditemukan di perekam data penerbangan dan sebenarnya masih banyak lagi pesawat komersial yang dilengkapi dengan teknologi yang disebut Aircraft Communications Addressing and Reporting System, dimana mereka menyediakan beberapa data meskipun hal tersebut tidak lebih baik dari sistem FLYHT yang mengirimkan data ke darat secara real time.

Kenapa Kotak Hitam Pesawat Tidak Dialihkan ke Sistem Cloud Data Real Time (1)Cloud big data set | pixabay.com

Selama keadaan darurat, sistem FLYHT akan secara otomatis mengirim kembali data penting terkait penerbangan serta memberikan posisi pesawat secara real time dan hal ini sangat membantu jika penerbangan dalam perjalanan lintas samudra di mana sistem kontrol penerbangan dapat kehilangan jejaknya.

Jika sebuah pesawat mengalami kecelakaan, data tersebut dapat membantu pencari untuk menentukan lokasi pencarian yang lebih spesifik lagi. Hal ini juga dapat membantu tim pencari dalam menentukan apakah peristiwa tersebut disebabkan oleh ledakan atau mungkin hal lainnya karena pesawat akan terus mengirim data selama pesawat masih memiliki daya yang cukup.

Di sisi lain, streaming data dalam jumlah besar ke komputer atau jaringan tidak hanya berhenti di biaya langganan saja namun maskapai juga harus membayar "beberapa dolar" per menit untuk mengakses data, tapi hal itu akan menjadi biaya "minimal" yang harus dibayarkan karena keadaan darurat biasanya tidak berlangsung lama, dimana dalam hal ini maskapai agak kecil kemungkinannya untuk membebankan biaya kepada konsumen karena akan menambahkan harga dari tiket pesawat. Hal yang lebih membuat maskapai tidak ingin mengeluarkan biaya tersebut dan mendapatkan datanya secara realtime adalah alasan terkait jarangnya sebuah pesawat berada dalam posisi yang mengharuskannya untuk menyalurkan data pada kotak hitam secara langsung dan terlebih lagi perjalanan maskapai penerbangan sangat aman akhir-akhir ini dan terus menjadi lebih baik di beberapa tahun terakhir ini.

Kenapa Kotak Hitam Pesawat Tidak Dialihkan ke Sistem Cloud Data Real Time (2)

Qatar Airways | pixabay.com

 

Sampai saat ini, tidak diketahui berapa banyak pesawat yang dilengkapi dengan teknologi streaming untuk memberikan data kotak hitam ke komputer atau jaringan di darat, tetapi hal yang diyakini hanya sebagian kecil dari armada pesawat komersial mungkin memilikinya. Misalnya saja Qatar Airways yang pada tahun lalu mengumumkan akan memperkenalkan teknologi tersebut ke dalam armadanya melalui perusahaan telekomunikasi satelit Inggris, Inmarsat.

Maskapai lain harus mempertimbangkan apakah teknologinya masuk akal karena kecelakaan sangat jarang terjadi dan telah turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir Pada 2015, ada satu kecelakaan untuk setiap 3,1 juta penerbangan di seluruh dunia, periode tersebut menjadi tahun teraman yang pernah tercatat, menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional.

Pendapat menarik muncul dari Jim Hall, yang menjabat sebagai Ketua dari National Transportation Safety Board dari tahun 1994 hingga 2001, dimana ia mengatakan kotak hitam tetap memiliki tujuan karena dapat diambil kembali oleh penyelidik independen tanpa khawatir akan dirusak atau diubah. Sehingga datanya tetap terjaga tanpa harus diubah atau dihilangkan oleh beberapa kepentingan yang mungkin terlibat didalamnya. Karena memang jika terlalu banyak informasi yang ada dan penting, maka kotak hitam tersebut harus sampai pada tangan penyelidik independen dan bukan di tangan maskapai.

Jadi, menurutmu seberapa penting kotak hitam perlu bertransformasi ke bentuk metadata digital? 

(lia/sumber:kumparan.com)