Keren! Dirjen TB Haeru Terjun Langsung Selami Laut Nusa Dua untuk Cek Progres ICRG

  • Oleh : Fahmi

Senin, 01/Feb/2021 06:31 WIB
Dirjen PRL-KKP, TB Haeru Rahayu (nomor satu dari sebelah kanan) bersama jajaran saat sebelum melakukan penyelaman ke dasar laut di lokasi Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) di Nusa Dua, Bali.(Foto:dok TB Haeru) Dirjen PRL-KKP, TB Haeru Rahayu (nomor satu dari sebelah kanan) bersama jajaran saat sebelum melakukan penyelaman ke dasar laut di lokasi Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) di Nusa Dua, Bali.(Foto:dok TB Haeru)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Direktur Jenderal Pengeloaan Ruang Laut (Dirjen PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan, TB Haeru Rahayu turun langsung menyelam ke dasar laut di lokasi Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) di Nusa Dua, Bali, Sabtu (30/1/2021). 

"Jadi saya punya filosofi, 'seeing is believing'. Saya ingen buktikan dengan mata kepala saya sendiri. Dan Alhamdulillah, ternyata yang dilakukan teman-teman NGO, yang memanfaatkan dana ekonomi nasional dalam konteks ekosistem terumbu karang di Bali telaksana dengan baik walau masih berproses. Memang bekerja di laut itu enggak mudah," kata pejabat, yang akrab dipanggil dengan sebutan 'Tebe' itu dalam wawancara kepada BeritaTrans.com, Ahad (31/1/2021) sore. 

Baca Juga:
Kementerian-KP Harmonisasi Sistem Jaminan Mutu dengan Vietnam, Korsel & Norwegia

Dia menjelaskan kalau penyelaman itu untuk memastikan program kerja betul-betul dilaksanakan hingga ke level yang paling bawah, sampai selesai dan tuntas. 

Baca Juga:
Kementerian-KP Siapkan Checker Mutu Ikan Dukung Implementasi PIT di Tual

Foto Tebe berpose dengan patung garuda bersama Deputi Kemenko Maritim, saat berkunjung langsung di lokasi ICRG di Nusa Dua, Sabtu (30/1/2021) sudah tersebar luas. Videonya juga dapat disaksikan di kanal Youtube BeritaTrans.com.

"Kedalaman di burung garuda itu 18 meter. Ya kalau pohon kelapa, tiga kali pohon kelapa lah," cetus Tebe. 

Baca Juga:
Kementerian-KP dengan Amerika Serikat Kerja Sama Kemitraan Pengembangan SDM Kelautan Perikanan

Kepada BeritaTrans.com, Tebe menceritakan bahwa penyelaman yang berjalan itu termasuk jenis selam rekreasi. Namun, ada kedalaman yang mencapai 30 meter maka SOP dikombinasikan dengan penyelaman advance. 

Ditanyai berapa lama dia tahan di dasar laut selama diving, Tebe menjawab, semua kegiatan harus mengikuti prosedur demi keamanan. 

"Kalau ditanyai tahan lama, ini bukan masalah tahan- tahanan. Kita harus sesuai SOP supaya kesehatan tetap terjamin. Jangan sampai kita malah keracunan dan terjadi hal yang tidak dinginkan," ungkapnya. 

Dia mengemukakan sudah mahir menyelam sejak tahun 1995 dan kini memiliki lisensi atau sertifikat B1 yang juga setingkat sebagai instruktur penyelam.

Awal belajar menyelam yaitu pada saat menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Perikanan Pasar Minggu, Jakarta. 

"Kebetulan saya punya lisensi menyelam ya,. Sejak di kampus tahun 1995, saya sudah belajar menyelam," cerita Tebe. 

Diceritakannya juga aktifitas menyelam juga untuk ajang silaturahmi antar penghobi dan mempertemukan dia dengan orang-orang hebat. 

"Kalau menyelam itu kita lintas kalangan ya, kita membangun networking," kata pria berusia 49 tahun ini. 

Diungkapkannya turun sebagai penyelam juga dilakukan untuk memotivasi para pejabat lain, agar lebih mengetahui keadaan langsung di lapangan. Sehingga tidak bisa pemerintah dianggap tidak berkerja sesuai keahlian. 

"Kita punya program. Kita pengen memastikan apa yang kita lakukan itu betul enggak dilaksanakan oleh teman teman di lapangan," tegasnya.

ICRG merupakan bagian program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digalakkan pemerintahan pusat sebagai solusi dari dampak pandemi Covid-19. Di antaranya untuk menciptakan lapangan kerja, menjaga ekosistem terumbu karang, serta sebagai lokasi wisata dan edukasi.

Kisah tentang Tebe

Ditinggalkan sang ayah sejak masa kanak-kanak, Tebe dibesarkan oleh ibu bersama kakaknya. 

"Orang tua sudah meninggal sejak saya SD kelas dua. Ibu yang pensiunan, janda. Saya sangat respek kepada ibu yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga jadi kayak begini," kata Tebe.

Bapak dua anak ini telah menyelesaikan pendidikan S1 dan S1 ilmu Budidaya Aquakultur di Sekolah Tinggi Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta. Pendidikan doktornya di bidang biologi tentang penyakit berbagai ikan. 

Anak paling bontot dari empat bersaudara ini masih banyak cita-cita dan harapannya mengenai lingkungan. 

"Saya enggak muluk-muluk ya, di sisa usia saya. Kalau boleh saya kepingin memprovokasi teman-teman," kata Tebe. 

"Provokasi positif ya. Mengajak masyarakat untuk mari menghargai hidup, perduli dengan lingkungan. Karena itu bekal untuk anak cucu kita ke depan," lanjut Tebe.

Dia berpesan, saat ini tidak ada individu emas. Saat ini yang ada kebersamaan emas.

"Kita harus bersilaturahim satu dengan yang lain. Saling memotivasi," pungkas Tebe.(fahmi)