Ratusan Pesawat Parkir di Lereng Gunung Es

  • Oleh : Redaksi

Jum'at, 19/Feb/2021 11:36 WIB
Di lereng Pegunungan Pyrenees yang tertutup salju, pemandangan lusinan pesawat yang berbaris terlihat seperti mainan dalam rak. (AFP/LIONEL BONAVENTURE) Di lereng Pegunungan Pyrenees yang tertutup salju, pemandangan lusinan pesawat yang berbaris terlihat seperti mainan dalam rak. (AFP/LIONEL BONAVENTURE)

Jakarta (BeritaTrans.com) - Di lereng Pegunungan Pyrenees yang tertutup salju, pemandangan lusinan pesawat yang berbaris terlihat seperti mainan dalam rak.

Pyrenees menjadi salah satu dari beberapa bandara di selatan Eropa yang menjadi lokasi parkir pesawat. Bisnis ini menjadi cuan selama pandemi virus Corona, karena pembatasan perjalanan luar negeri yang masih berlangsung.

"Sejak penguncian wilayah yang pertama, kami harus memperluas area," kata Patrick Lecer, kepala Tarmac Aerosave, salah satu perusahaan terkemuka di Eropa yang menyediakan jasa penyimpanan pesawat.

Perusahaan tersebut telah dibanjiri oleh permintaan. Setelah di luar kota Tarbes dan Toulouse, Prancis, dan kota Teruel di timur Spanyol, Tarmac Aerosave membuka lokasi lain pada bulan Juni, yakni di Vatry, timur Prancis.

Perusahaan itu sekarang menangani 230 pesawat di empat bandaranya, hampir dua kali lipat dibandingkan pada dua tahun lalu yang hanya 150 pesawat.

"Dan daftar tunggu masih panjang," kata Lecer.

Ketika virus Corona melanda dunia tahun sejak awal tahun lalu, perjalanan udara internasional hampir sepenuhnya dihentikan karena banyak negara menutup perbatasan atau memberlakukan karantina.

Karena maskapai penerbangan tidak menerbangkan pesawat mereka, keberadaan lahan parkir pesawat menjadi masalah baru.

Dan ketika lalu lintas udara belum pulih dengan cepat, maskapai penerbangan memutuskan untuk memarkirkan lebih banyak pesawat: 3.400 unit pada tahun 2020, di mana 2.400 di antaranya dipensiunkan lebih cepat dari jadwal, menurut penelitian terbaru oleh konsultan Oliver Wyman.

Perusahaan seperti Tarmac Aerosave, yang telah menyediakan lahan parkir untuk pesawat seperti A380 yang berbadan jumbo dari maskapai penerbangan Emirat Etihad.

"Saat sebuah pesawat disimpan, pesawat itu tidak ditinggalkan," kata Sebastien Demouron, yang memimpin tim penyimpanan.

"Pertama kita tutupi semua bukaan dan lindungi area sensitif. Lalu kita uji elektronik dan lakukan perawatan yang diperlukan agar tetap bisa dinavigasi," jelasnya.

Meskipun membuka area tambahan, mereka tetap kehabisan ruang.

"Anda seperti bermain Tetris untuk menemukan lahan parkir pesawat," candanya.

Faktanya, mereka telah membuat peta untuk berbagai model pesawat, guna mengetahui cara terbaik untuk memarkirnya, menurut Yannick Stefanelli, manajer operasi di situs Tarbes.

Untung dari krisis?

Dibuka pada tahun 2007 oleh Airbus, pembuat mesin Safran, dan perusahaan pengelolaan limbah Suez, Tarmac Aerosave awalnya mendaur ulang pesawat Airbus pertama yang diproduksi pada tahun 1970-an dan masa operasinya usai.

Tetapi dengan klien yang juga meminta untuk menyimpan dan memperbaiki pesawat, perusahaan dengan cepat melihat peluang untuk melakukan diversifikasi.

Dengan sepinya lalu lintas udara setelah mencapai puncaknya pada musim panas 2019, tiba-tiba ada banyak pekerjaan untuk Tarmac Aerosave.

Pendapatan melonjak hingga 20 persen dan perusahaan mempekerjakan 150 orang tambahan.

Namun, krisis ini tidak sepenuhnya menjadi kabar baik bagi perusahaan.

"Tentu saja kami mengalami peningkatan permintaan untuk penyimpanan, tetapi kami kehilangan 40 persen pendapatan kami dari pekerjaan pemeliharaan yang merupakan aktivitas paling menguntungkan bagi perusahaan," kata Lecer.

Karena maskapai penerbangan tidak yakin tentang pemulihan lalu lintas udara, mereka telah menunda perawatan yang intensif dan berbiaya mahal.

Lecer mengatakan beberapa maskapai penerbangan, bahkan mereka yang telah menerima bantuan negara, tidak mungkin selamat dari krisis dan beberapa dari mereka telah menerima nasib tidak akan pernah terbang lagi.

Dia menegaskan Tarmac Aerosave tidak mengambil untung dari krisis.

"Kami berhasil mempertahankan level 2019 berkat empat aktivitas kami: penyimpanan, pemeliharaan, transisi, dan daur ulang yang pada tingkat tertentu memiliki permintaan yang lebih tinggi pada waktu yang berbeda."

Pensiun di tempat yang indah

Tetapi bahkan untuk pesawat yang nasibnya masih belum pasti, "amat penting untuk melakukan semua operasi pemeliharaan kecil," kata Stefanelli.

Dan untuk pesawat dipensiunkan, "lebih dari 90 persen pesawat akan didaur ulang," kata Arthur Rondeau, yang mengepalai operasi pembongkaran pesawat.

Untuk sebagian besar pesawat - selain si bongsor A380 - membutuhkan waktu enam hingga tujuh minggu untuk didaur ulang.

Klien mendapatkan kembali bagian tertentu pesawat yang dapat digunakan kembali atau dijual, kemudian pesawat dibersihkan dan dipotong.

"Seseorang sering kali memiliki gambaran bahwa pesawat yang tak terpakai bakal ditumpuk dan ditinggalkan di gurun di Amerika Serikat yang menyerupai kuburan," kata Rondeau.

"Di sini kami meneliti tiap pesawat untuk memulihkan sesuatu yang berharga," tambahnya.

Teddy Save, seorang mekanik berusia 23 tahun, sedang sibuk mengeluarkan layar dari A380 yang sebagian besar kursinya sudah dilepas dan panel kabinnya dilepas.

"Orang cenderung lupa bahwa pesawat ini telah melakukan perjalanan ke seluruh dunia," katanya.

"Saya merasa pesawat-pesawat ini menjalani masa pensiunnya yang menyenangkan di sini."

(lia/sumber:cnnindonesia.com)