WHO Tak Dukung Paspor Vaksin, Alasannya Bikin Kaget

  • Oleh : Redaksi

Rabu, 07/Apr/2021 06:26 WIB


JENEWA (BeritaTrans.com) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tidak mendukung penerapan kebijakan paspor vaksin corona untuk bepergian. Alasan penolakan itu cukup mengagetkan. 

Alasan mereka adalah sampai saat ini belum ada titik terang apakah vaksinasi efektif mencegah penularan virus corona.

Baca Juga:
Masih 10.000 Pesawat Belum Dioperasikan di Tengah Pandemi Covid-19, Mayoritas Milik Maskapai Tanpa Rute Domestik

Di samping itu, mereka juga menyoroti kebijakan paspor itu bisa memicu kecemburuan sosial karena masalah vaksinasi yang belum merata.

"Kami di WHO menyatakan pada tahapan ini kami tidak ingin melihat kebijakan paspor vaksin sebagai persyaratan untuk masuk atau pergi ke negara lain karena sampai saat ini kami belum yakin vaksinasi bisa mencegah penularan," kata juru bicara WHO, Margaret Harris, dalam jumpa pers di Jenewa, seperti dilansir Reuters, Selasa (6/4).

Baca Juga:
Penumpang Dievakuasi dari Pesawat Airbus A319 Turkish Airlines Gegara Ada Ancaman Bom

Selain itu, kata Harris, penerapan paspor vaksin bakal memicu perdebatan soal diskriminasi terhadap kelompok tertentu yang tidak bisa divaksin karena alasan tertentu dan lainnya.

Menurut dia, saat ini WHO tengah meninjau permohonan izin penggunaan darurat vaksin corona buatan dua perusahaan farmasi China, Sinopharm dan Sinovac, yang kemungkinan terbit pada akhir April.

Baca Juga:
Hong Kong Larang Singapore Airlines Masuk Wilayahnya karena Kasus Covid-19

"Hal itu tidak bisa cepat karena kami membutuhkan data lebih banyak," ujar Harris.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Maret lalu meminta kepada sejumlah negara yang mempunyai persediaan vaksin corona berlebih untuk disumbangkan kepada fasilitas COVAX milik WHO. Tujuannya adalah demi pemerataan vaksinasi di dunia dan membantu negara-negara yang kesulitan membeli vaksin corona.

Sampai saat ini sejumlah negara mencoba menerapkan kebijakan paspor vaksin itu. Antara lain Singapura dan China.