Jam Kuno Berusia Satu Abad Mati saat Tsunami Jepang, Berdetak Lagi 10 Tahun Kemudian Usai Gempa Bumi

  • Oleh : Redaksi

Sabtu, 17/Apr/2021 08:41 WIB
Jam kuno berusia 100 tahun yang sempat mati karena tsunami Jepang kembali berdetak setelah gempa 10 tahun kemudian. (Sumber: Kahoku News Via The Guardian) Jam kuno berusia 100 tahun yang sempat mati karena tsunami Jepang kembali berdetak setelah gempa 10 tahun kemudian. (Sumber: Kahoku News Via The Guardian)

MIYAGI (BeritaTrans.com) - Kisah unik dimiliki jam kuno berusia satu abad yang sempat mati ketika gempa bumi dan Tsunami melanda Jepang 10 tahun lalu.

Jam yang berada di Kuil Fumonji kembali berdetak, setelah gempa bumi kembali menerpa Yamamoto di Perfektur Miyagi pada 13 Februari lalu.

Baca Juga:
Bukittinggi Diguncang Gempa Dangkal 3 Kali Berturut-turut

Sebelumnya, jam yang disinyalir berusia 100 tahun tersebut berhenti berdetak ketika tsunami menerpa lokasi yang sama pada 11 Maret 2011.

Bencana tersebut membunuh lebih dari 18.000 orang. Kuil Fumonji pun tak lepas dari tsunami.

Hanya pilar dan atapnya yang terhindar dari banjir. Kepala Kuil Fumonji, Bunshun Sakano pun mengungkapkan jam kuno tersebut saat itu berhenti berdetak.

Tetapi keanehan terjadi setelah gempa bumi tahun ini, yang hanya berjarak sepekan sebelum peringatan 10 tahun bencana tsunami Jepang.

Ketika Sakano tengah memeriksa aula kuil untuk melihat seberapa parah kerusakan yang diakibatkan gempa, ia mendengar suara detakan jam.

Jam tersebut yang tetap mati selama 10 tahun meski berkali-kali dibersihkan, akhirnya kembali hidup dan berdetak.

“Mungkin (jam itu) mencoba mendorong saya untuk melangkah maju dengan determinasi yang baru,” kata Sakano kepada Mainichi Shimbun dikutip dari The Guardian.

“Ini seperti tanda penyemangat bahwa pemulihan yang sebenarnya masih akan datang,” lanjut pemimpin kuil berusia 58 tahun tersebut.

Jam yang Sakano beli di toko barang anting di Prefektur Fukushima beberapa tahun sebelum bencana 2011, tampaknya telah diguncang paksa kekuatan gempa bumi Februari sehingga berdetak lagi.

Hal itu pun mendapat perhatian dari Seiko, perusahaan yang memproduksi jam tersebut.

Kemungkinan bahwa pendulumnya, yang telah berhenti, bergerak lagi karena getaran dari gempa bumi, atau debu yang banyak tersimpan di dalam jam terlepas,” tuturnya.  (ny/Sumber: KompasTV)