Tekan Emisi, Pemerintah Perbanyak Tempat Isi Daya Kendaraan Listrik

  • Oleh : Fahmi

Kamis, 22/Apr/2021 21:59 WIB
Mobil listrik Nyundai. (Ist) Mobil listrik Nyundai. (Ist)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menekan angka emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 dengan memperbanyak tempat pengisian daya untuk kendaraan listrik atau charging station. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/4/2021), mengatakan pemerintah telah membangun sebanyak 122 tempat pengisian daya kendaraan listrik yang tersebar di 83 lokasi mulai dari komplek perkantoran, perhotelan, pusat perbelanjaan, kawasan parkir hingga area peristirahatan di sepanjang jalur tol. 

Baca Juga:
Luhut Singgung Grab dan Kendaraan Listrik Berbasis Baterai

"Hingga April 2021 telah terbangun 122 unit charging station di 83 lokasi," kata Arifin. 

Dalam peta jalan program kendaraan listrik nasional, pemerintah memproyeksikan dapat membangun 3.860 tempat pengisian daya kendaraan listrik dan 17.000 tempat penukaran baterai di seluruh Indonesia hingga tahun 2025. 

Baca Juga:
Pemerintah Targetkan Produksi 600 Ribu Mobil Listrik pada 2030

Dalam kurun waktu empat tahun itu, Indonesia menargetkan angka penggunaan mobil listrik mencapai 19.220 unit, motor listrik 757.139 unit, dan bus listrik mencapai 10.227 unit sebagai salah satu upaya mengatasi masalah serius terkait pencemaran udara dan isu lingkungan terutama di banyak kota besar. 

Proyek infrastruktur tempat pengisian daya kendaraan listrik, lanjut Arifin, sejalan dengan upaya percepatan pengembangan kendaraan listrik ramah lingkungan yang ambisius. 

Baca Juga:
Begini Penampakan Arcimoto EV Roda Tiga Digadang Penerus Tesla

Adapun biaya pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia senilai Rp1.644,5 sampai dengan Rp2.466,7 per kWh. Harga ini merupakan salah satu yang termurah di dunia. 

"Pemerintah memberikan berbagai regulasi dan insentif agar masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik," kata Arifin. 

Sementara itu, para pengamat menyatakan sepanjang sumber energi listrik untuk pengisian daya pada baterai kendaraan listrik masih menggunakan bahan bakar fosil dari PLTU baru bara ataupun PLTD solar, maka jejak karbon masih tetap ada. 

Dengan kata lain, suplai listrik ke tempat-tempat pengisian daya baterai harus sepenuhnya memanfaatkan sumber energi bersih yang terbarukan, seperti matahari, angin, air, ataupun nuklir.(fhm/sumber:antaranews)