Pentagon Bakal Bikin Roket Angkutan Kargo Luar Angkasa

  • Oleh : Redaksi

Minggu, 06/Jun/2021 13:53 WIB
Foto: Stasiun luar angkasa internasional, dilihat dari pesawat luar angkasa SpaceX Crew Dragon Sabtu (24/4/2021).(NASA via AP) Foto: Stasiun luar angkasa internasional, dilihat dari pesawat luar angkasa SpaceX Crew Dragon Sabtu (24/4/2021).(NASA via AP)

Jakarta (BeritaTrans.com)  - Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengatakan pada hari Jumat (4/6/2021) bahwa pihaknya sedang memperluas program pengembangan roket angkutan kargo luar angkasa, seperti yang dikembangkan SpaceX.

Mengutip CNBC International, Minggu (06/06/2021), program militer eksperimental ini akan dipimpin oleh Angkatan Luar Angkasa AS. Tercatat, program itu akan menelan dana hampir US$ 50 juta atau setara Rp 700 miliar hingga 2022.

Baca Juga:
SpaceX Luncurkan 49 Satelit Starlink ke Orbit

 

"Program ini akan meneliti dan membantu mengembangkan kemampuan seperti mendaratkan roket di berbagai bahan dan permukaan non-tradisional, rekayasa ruang kargo roket untuk bongkar muat cepat, dan (metode) menjatuhkan kargo dari roket," ujar Pentagon.

Baca Juga:
Rusia: Peluncuran Roket Angara yang Ketiga Berhasil

Sementara itu Dr. Greg Spanjers, Kepala Laboratorium Penelitian Angkatan Udara dalam program Kargo Roket, menuturkan bahwa mereka akan membuat sayembara mengenai perusahaan yang layak dalam menggarap proyek ini.

Namun sejauh ini pihaknya belum memutuskan akan bekerja sama dengan perusahaan apa. Meski begitu, ia mengaku melihat ada tiga perusahaan yaitu SpaceX milik Elon Musk, Blue Origin milik Jeff Bezos, dan anak perusahaan Leidos, Dynetics, yang layak menggarap proyek ini setelah kesuksesan ketiga perusahaan itu mengembangkan program NASA yang berfokus pada sistem pendaratan manusia di luar angkasa.

Baca Juga:
Kisah Sergei Krikalev, `Warga Soviet Terakhir yang Ditinggalkan Begitu Saja` di Ruang Angkasa Saat Uni Soviet Ambruk

"Kami berbicara dengan sejumlah penyedia yang kami lihat berpotensi datang ke meja untuk bersaing untuk kontrak ini," kata Spanjers.

"SpaceX tentu saja yang paling terlihat, tidak diragukan lagi ... (tetapi) apa yang Anda coba lakukan adalah masuk ke lintasan orbit atau suborbital, menurunkan muatannya, dan mendaratkannya di planet Bumi. Ada banyak perusahaan yang memiliki kemampuan teknologi itu saat ini, bukan hanya SpaceX," lanjutnya.

SpaceX sendiri telah menguji prototipe roket kargonya di fasilitasnya di Texas dan merampungkan prototipe roket SN15 setelah uji penerbangan ketinggian tinggi.

Perusahaan Elon Musk itu juga menambahkan bahwa mereka bertujuan agar SN15 dapat menjadi roket yang dapat digunakan kembali alih-alih membuang roket setelah peluncuran.

Mereka juga mengaku telah melakukan tes penerbangan tinggi tanpa masalah. Namun SpaceX menyatakan belum mencapai orbit dengan roket itu.

(lia/sumber:cnbcindonesia.com)