ABK WNI Meninggal di Kapal China, AP2I Hubungi Pihak Perusahaan Pengirim

  • Oleh : Ahmad

Rabu, 04/Agu/2021 11:57 WIB
Sinaga Perwakilan PT APS mendatangi pihak keluarga ABK Prikson Butarbutar (foto:istimewa/ap21) Sinaga Perwakilan PT APS mendatangi pihak keluarga ABK Prikson Butarbutar (foto:istimewa/ap21)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Beredar kabar di media tentang seorang pelaut asal Danau Toba, Prikson Butarbutar, dikabarkan meninggal dunia di kapal penangkap ikan China, Lu Rong Yuan Yu 659.

Keluarga berharap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membantu memulangkan jenazah pemuda tersebut.

Baca Juga:
Ditjen Hubla Gelar Dengar Pendapat Umum Soal Permenhub Keselamatan Jiwa di Laut

Merespon kabar tersebut, AP2I (Asosiasi Pekerja Perikanan Indonesia) mencoba melakukan penelusuran atas informasi tersebut. 

Baca Juga:
Kemenhub Rekonsiliasi Klasifikasi Kapal Berbendera Indonesia dan Sertifikasi Garis Muat Kapal

“Kami sudah menghubungi pihak perusahaan PT APS sebagai perusahaan yang memberangkatkan ABK. Terkonfirmasi dan terklarifikasi dari pihak perusahaan bahwa hal tersebut dibenarkan (itu memang ABK kami yang meninggal),” ujar Ketua Umum AP2I, Imam Syafi’i, saat mendapat jawaban dari perwakilan PT APS, Sinaga melalui sambungan telepon, Rabu (04/08/21).

Menurut Sinaga, kata Imam, pihak PT APS terhadap peristiwa tersebut telah mendatangi perwakilan keluarga dan mengabarkan kadar duka tersebut. Kepada AP2I, PT APS kemudian mengirimkan data laporan kapal tentang kejadian tersebut yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berikut isi berita laporan tersebut:

Baca Juga:
Kemenhub Kukuhkan 32 Marine Inspector dan 29 Asisten MI

Laporan Lu Rong Yuan Yu 659 Marine

Pada 9 Juli 2021, Prikson Butar Butar kru dari Indonesia merasa tidak baik, dan dia diam di kamarnya untuk istirahat, setelah beberapa saat, dia meminta temannya untuk pergi ke ruangan kapten dan memberi tahu kapten bahwa dia flu, demam dan meminta obat.

Setelah dua hari Pak Prikson bilang dia sudah membaik dan sudah tidak demam atau flu lagi, hanya tinggal sedikit lemah dan lemas. Pada 11 Juli 2021 jam 11 pagi waktu setempat, ada kru lapor kepada saya bahwa Pak Prikson tergeletak di depan pintu toilet, saya minta kru untuk membawa Pak Prikson ke ruangan saya dan saya tanya Pak Prikson bagaimana keadaannya?

Dan bagian tubuh mana yang di rasa tidak nyaman, tapi Pak Prikson bicara dengan sangat lemah, kita harus mendekatkan telinga ke mulutnya untuk mendengar apa yang dia coba sampaikan, lalu kru Indonesia bilang, Pak Prikson sakit di bagian dada, dan tidak bisa bernafas, kita bantu dia untuk bernafas, saya dengan cepat kasih dia obat dan sirup untuk sakit dada, pada saat itu Pak Prikson tidak bisa makan apapun, Kru Indonesia memasukan obat dan sirup ke mulut Pak Prikson, setelah beberapa menit, Pak Prikson Meninggal. Pada tanggal 11 Juli 2021, posisi kapal kami berada di lintang selatan 29,40, bujur barat 117,50, Pak Prikson (Nomor Paspor C7839515) meninggal. Kapten: Hu Kuo Xing.

Pihak PT APS kepada AP2I menyatakan siap bertanggungjawab untuk proses pemulangan jenazah tersebut, tetapi hal itu perlu proses, apalagi saat ini dalam situasi Pandemi Covid 19. Kita tidak tahu kebijakan masing-masing Negara penempatan seperti apa, jadi kita semua berharap yang terbaik dan konsen terhadap pemulangan terlebih dahulu. 

Sebelumnya, diberitakan oleh BeritaTrans.com, Jaya Tahoma Sirait, kakak ipar Prikson, mengemukakan utusan dari perusahaan pengirim, APS, mengabarkan tentang wafatnya Prikson pada 2 Agustus 2021.

Prikson berangkat ke luar negeri pada 7 Mei 2021. "Dikabarkan bahwa Prikson meninggal karena sakit pada 11 Juli 2021. Jadi setelah lebih dari setengah bulan, baru dikabarkan bahwa adik saya ini meninggal dunia di perairan Afruka Selatan," ungkapnya kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Selasa (3/8/2021) malam.

Dia mengemukakan keluarga mengharapkan jenazah Prikson dapat dipulangkan ke tanah air. Dalam kaitan itu, Kemlu, KKP dan Kementerian Perhubungan diharapkan dapat membantu memulangkan jenazah.(ahmad/ap21)