Usia 70 Tahun, Kakek ini masih Ngegas Bus Bekasi-Tasikmalaya

  • Oleh : Fahmi

Kamis, 05/Agu/2021 20:43 WIB


BEKASI (BeritaTrans.com) - Sudah memasuki usia 70 tahun, pengemudi bus Primajasa ini harus mengawali aktivitas sebelum matahari terbit untuk mengantarkan penumpang dari Tasikmalaya ke Bekasi. 

Sutijo sudah puluhan tahun menjalani trayek dalam provinsi Tasikmalaya-Bekasi dan hanya pulang sesekali untuk bertemu dengan istri. 

Baca Juga:
Bus Sinar Dempo Rute Pagar Alam-Yogyakarta, Ramai Penumpang Naik dari Terminal Bekasi

"Dari Tasik (Tasikmalaya) berangkat jam tiga (pagi). Sampai sini (Bekasi), nanti tidurnya pas balik lagi ke Tasik," kata Sutijo kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id di Terminal Bekasi, Kamis (5/8/2021). 

Saat menjalankan trayek tersebut, dilakukannya dimulai pada pukul 3.00 dan akan tiba di terminal Bekasi sekitar pukul 8.30. Di situ dia akan menunggu jadwal keberangkatan kembali beberapa saat, dan akan sampai kembali ke Tasikmalaya sekitar sore hari. Hal itu dikatakannya untuk satu kali pulang pergi (PP) atau satu kali trip. 

Baca Juga:
Sambut HUT ke-77 RI, Dishub Kota Bekasi Gelar Vaksinasi Booster di Terminal Bus

Mengemudikan armada kelas ekonomi tanpa AC, bus yang dia kendarai saat pandemi sangat merasakan betul penurunan penumpang. 

Baca Juga:
Pengelola Terminal Bekasi Gelar Santunan Anak Yatim di Masjid AT-Taqwa

Pendapatan yang saat ini dirasakannya hanya pas-pasan, dia juga kerap merasa lelah jika terlalu lama tidak beristirahat saat bekerja. 

"Saya tidur di mobil. Kalau pre(libur) mah saya pulang. Biasanya 10 hari pulang. Kalau lagi enggak sehat lima hari harus pulang," katanya. 

Rumahnya yang terletak jauh dan kondisi waktu kerjaan, dirasanya tidak akan mampu jika setiap hari harus pulang pergi ke rumah. 

"Terminal masih di Tasik, kalau kampung saya Cibatuja. Kalau jalan sekarang nanti sore baru sampai di sana. Sekarang tidur di mobil," kata Sutijo. 

Saat bekerja, Sutijo menceritakan, jika sudah terlalu lama atau dalam waktu seminggu narik tanpa ada waktu istirahat, kondisi badannya mulai lemas atau tidak fit. 

"Saya sudah tua, kebanyakan kerja biasanya jalan satu Minggu tahannya. Kalau 10 hari, darah suka turun begitu," keluhnya. 

Tinggal di terminal, diakuinya sudah terbiasa dengan kondisi apapun. Dia juga mengatakan tidak memilih makanan saat di manapun atau kapanpun.
Bapak tiga anak ini menceritakan juga, bahwa semua anaknya sudah memasuki masa pensiun namun dirinya belum juga pensiun. 

"Kalau bapak (Sutijo) pensiunnya nanti aja, tunggu habis nyawa. Habis dari mana lagi mau mencari rezeki," celotehnya. 

Di usia yang renta dan kerap merasakan lelah dia juga mengaku telah divaksin. Hal itu sebagai syarat bagi pelaku atau kru transportasi beroperasi saat PPKM Jawa Bali. 

"Saya sudah divaksin, ini kiri kanan tangan saya sudah disuntik, sudah di swab juga. Itu ada sertifikatnya," ujarnya. 

Penumpangnya, selama pandemi juga diceritakannya saat ini sangat menurun. Pendapatannya dari hasil sehari-hari atau dari jumlah penumpang kini semakin sepi. 

"Tadi bawa delapan orang dari sana. Sepi terus sesudahnya corona itu," ucapnya. 

Warga Cibatuja menjelaskan, uang hasil kerjanya bersistem komisi. 

"Kita komisi aja, kalau dapat setoran satu juta, Rp 150 ribu kita dapat. Kalau enggak sampai(saty juta) paling paling dapat Rp 40 ribu, dua orang sama kenek. Buat makan juga sudah habis," kata Sutijo. 

Dia juga membandingkan penghasilannya sebelum pandemi dan sesudah pandemi sangat jauh sekali. 

"Kalau dulu bawa sewa mah, bebas. Dulu mah, 10 hari bawa Rp 3 juta kalau sekarang palingan cuma Rp400 ribu," katanya. 

Di tengah pendemi dengan kondisi yang sulit dan kondisi tubuh yang mulai tua, dia juga merasa ingin untuk berhenti menjalani pekerjaannya sebagai pengemudi bus. 

"Saya kerja, sudah jenuh sebetulnya, cuman kalau tidak cari duit, enggak bisa merokok, tidak bisa makan," ucapanya. 

Saat bekerja dia merasa juga tetap harus mandiri. Walau ada anak-anak dia juga merasa harus tetap bisa mencukupi biaya kehidupan dia bersama istrinya. 

Untuk selalu berkomunikasi setiap hari dengan istri atau anak, dia hanya cuma mengandalkan telfon genggamnya. Hal itu juga untuk menanyakan kondisi dan kabar. (fahmi)