Sopir Bus Rasa Sayang: Selama PPKM, Perjalanan Jakarta-Bima Nggak Lewat Pulau Bali, Bus Diangkut Tol Laut

  • Oleh : Fahmi

Senin, 09/Agu/2021 19:00 WIB
Pengemudi bus Rasa Sayang Safrin saat perpal di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Senin (9/8/2021). Pengemudi bus Rasa Sayang Safrin saat perpal di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Senin (9/8/2021).

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pengemudi bus jurusan Jakarta-Bima ini menceritakan perjalanan busnya kini tidak lagi melewati Pulau Bali karena ketatnya peraturan keluar masuk daerah tersebut. 

"Saya sudah tiga kali tidak lewat Bali, lewat tol laut sekarang," kata sopir bus PO Rasa Sayang Safrin saat ditemui BeritaTrans.com di Terminal Pulo Gebang, Senin (9/8/2021). 

Baca Juga:
Dukung KTT G20 Oktober 2022, Menteri Basuki Tingkatkan Infrastruktur di Bali

Selama PPKM level 4 Jawa-Bali membuat banyak disyaratkan berpergian naik transportasi umum di sejumlah daerah termasuk Pulau Bali. Hal itu membuat perjalanan bus jurusan Bima, NTB harus putar arah tanpa lalui Gilimanuk. 

Warga Kelurahan Jatibaru, Bima ini menceritakan ketika pemberlakuan PPKM dia pernah mencoba masuk Pulau Bali dari Ketapang, Banyuwangi ke Gilimanuk, Bali. Namun, dikarenakan beberapa penumpang tidak memiliki sertifikat vaksin, busnya harus putar arah balik ke Pelabuhan Gilimanuk lagi oleh petugas penyekatan di sana. 

Baca Juga:
Bus Sumatera Berlomba Jaring Penumpang di Terminal Bekasi

"Saya pertama kali nyeberang, gara-garanya ada orang enggak vaksin, semuanya sudah tes (antigen), kendalanya tu, lebih kurang 13 orang enggak ada vaksin, sebagian ada vaksin. Ya terpaksa balik," kata pria 46 tahun ini. 

Bapak tiga anak ini mengungkapkan saat itu sempat terjadi ketagangan antara penumpang yang sudah divaksin juga petugas dan beberapa penumpang yang belum divaksin. 

Baca Juga:
Truk Muatan Mobil Baru Tersangkut di Perlintasan KA Kediri

Pada akhirnya dia dengan berkoordinasi dengan pengurus mengambil keputusan untuk tetap mengantarkan semua penumpang sesuai tujuan. Bus Rasa Sayang tersebut kembali ke pelabuhan semula dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal penyeberangan langsung ke Lembar, Lombok, NTB. 

"Polisi saat itu bilang, harus tinggal ini penumpang yang belum vaksin. Akhirnya bisa lewat penumpang pas kembali ke barat(Pulau Jawa) lagi," katanya. 

"Dari pada penumpangnya terlantar, saya nyeberang lagi dari Giliamuk ke Ketapang. Saya ambil penyeberangan Ketapang langsung Lembar," katanya. 

Penyeberangan dari Ketapang ke Lembar dikatakannya bisa memakan waktu mencapai 14 jam perjalanan dan biaya penyeberangan Rp3.300.000 untuk satu bus dengan beserta penumpang. 

Dikatakannya juga hal tersebut dialami beberapa PO jurusan yang sama yaitu ke Bima, NTB. 

Untuk di NTB sendiri, diungkapkannya persayaratan perjalanan sama seperti di pulau Jawa, harus menyertakan surat negitif Covid-19 yang masih berlaku. 

Waktu perjalanan tiga hari tiga malam dikatakannya juga mengharuskan dia bersama kru termasuk penumpang melalukan pemeriksaan Covid-19 kembali. Hal itu juga akan menambah lagi waktu perjalanan hingga beberapa jam. 

"Kita ni ya, kalau tes di sini, nanti di jalan (Banyuwangi) juga harus rapit tes lagi, kan cuma bertahan 1x24 jam," katanya. 

Jumlah penumpang, selama pandemi atau PPKM, dikatakan Safrin juga menurun. 

"Sewa sekarang paling antara 20 bisa 15 orang," ujarnya. 

Perjalanan bus untuk pulang pergi atau PP dikatakan Safrin mampu memakan waktu 10 hari termasuk perpal atau menginal di terminal menanti jadwal keberangkatan kembali. 

Mengenai harga tiket Rasa Sayang jurusan Jakarta-Bima saat penerapan jalur baru tersebut tidak ada kenaikan. Saat ini harga tiket yang dijual agen di Terminal Pulo Gebang ialah Rp750 ribu. 

Perlayanan bus tersebut juga akan memberikan satu buah air mineral dan mendapat jatah lima kali makan di perjalanan. Tersedia 35 kursi dengan toilet di dalam bus. 

"Pertama kita makan di Subang, terus di Surabaya, makan ke tiga di Probolingo, ke empat di Mataram yang ke lima sudah masuk daerah Sumbawa. Biasanya di Bali ada, sekarang jatahnya dapat di kapal," sebutnya.(fahmi)