Ini Penyebab Bengkaknya Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

  • Oleh : Redaksi

Minggu, 05/Sep/2021 17:13 WIB
Foto:istimewa/kompas.com Foto:istimewa/kompas.com

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Biaya proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) membengkak atau mengalami cost overrun (kelebihan biaya) menjadi 8 miliar dolar AS atau setara Rp 114,24 triliun.

Dengan estimasi tersebut artinya terdapat kenaikan sebesar 1,9 miliar dolar AS atau setara Rp 27,09 triliun dari rencana awal pembangunan KCJB sebesar Rp 6,07 miliar dolar AS ekuivalen Rp 86,5 triliun.

Baca Juga:
Gui`an, Guiyang Telah Menjadi Pusat Kereta Api Berkecepatan Tinggi

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT KAI (Persero) Salusra Wijaya mengungkapkan sejumlah penyebab terjadinya cost overrun dalam proyek KCJB.

Pertama, cost overrun terjadi karena adanya kenaikan biaya konstruksi atau Engineering, Procurement and Construction (EPC) mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 17 triliun.

Baca Juga:
Prancis Kenalkan Kereta Cepat Double Decker Masa Depan Eropa

"Jadi porsi terbesar dari cost overrun ini adalah kenaikan biaya EPC yang mencapai 1,2 miliar dolar AS," kata Salusra dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR di Rabu (01/09/21).

Kedua, terjadi karena adanya kenaikan biaya pembebasan lahan sebesar 300 juta dolar AS atau setara Rp 4,2 triliun.

Baca Juga:
Kereta Cepat Tiba di RI Diuji Coba, November Dijajal Jokowi & Xi Jinping

Menyikapi Kelebihan Pasokan Ruang Perkantoran

Salusra menjelaskan bahwa total area lahan yang dibebaskan untuk proyek ini naik sebesar 31 persen menjadi 7,6 juta meter persegi.

Karenanya, total biaya pembebasan lahan juga mengalami kenaikan 35 persen dari anggaran awal.

"Pembebasan lahan ini juga cukup rumit, karena jalur yang dilalui itu sangat banyak, luas dan melewati daerah-daerah komersil. Nah daerah komersil ini bahkan ada beberapa kawasan industi yang dipindahkan, digeser karenanya cukup costly (mahal) untuk penggantiannya," ungkap Salusra.

Ketiga, naiknya financing cost mencapai 200 juta dolar AS atau Rp 2,8 triliun. Kata dia, keterlambatan proyek menyebabkan beban keuangan interest during construction (beban bunga) juga membengkak.

Keempat, kenaikan biaya head offcie dan pra-pra operasi sebesar 200 juta dolar AS ekuivalen Rp 2,8 triliun.

Di dalamnya termasuk kenaikan biaya konsultan keuangan, pajak dan hukum yang belum dianggarkan.

"Dengan mundurnya proyek ini tentu saja beban operasi juga meningkat," tutur dia.

Terakhir yaitu adanya kenaikan biaya lainnya seperti biaya GSM-R dengan Telkomsel untuk keperluan sinyal dan jaringan.

Salusra menganggap hal ini juga cukup sulit karena dengan panjang 142 kilometer jalur itu membutuhkan kekuatan signaling yang harus kuat, bagus, karena ini proyek kereta cepat jadi harus berkualitas tinggi.

"Dan ternyata juga mahal sekali untuk menjaga standar safety dan security yang kita harus pertahankan untuk keamanan dan keselamatannya," ujarnya.

Dari total cost overrun sebesar 1,9 miliar dolar AS atau Rp 27,09 triliun komposisinya 75 persen pendanannya berasal dari pinjaman (loan) China Development Bank (CDB) dan 25 persen lainnya berasal dari equity antara Indonesia dan China.

"Artinya dari total biaya 1,9 miliar dolar ini 75 persen itu akan dibiayai oleh CDB , dan 25 persen itu equity dari china dan Indonesia, nah porsi Indonesia itu 60 persen dan China itu 40 persen. Sehingga, indonesia mendapat porsi cost overrun sebesar kira-kira Rp 4,1 triliun," tuntas dia.(amt/sumber:kompas.com)